Enam Prinsip Blue Ocean Strategy

Enam Prinsip Blue Ocean Strategy

Prinsip 1: Merekontruksi Batasan-Batasan Pasar

Sebuah strategi selalu melibatkan peluang dan risiko, baik itu inisiatif samudera biru maupun samudera merah. Tetapi saat ini, medan permainan sangat tidak seimbang, dengan kecenderungan lebih berat pada alat dan kerangka kerja analitis untuk berhasil dalam samudera merah. Selama hal ini terus berlangsung, samudera merah akan tetap mendominasi agenda strategis perusahaan, meskipun tuntutan bisnis untuk menciptakan samudera biru kian mendesak. Hal ini menjelaskan perusahaan harus mengambil tindakan untuk melangkah melampaui ruang industri yang ada, perusahaan belum menindaklanjuti rekomendasi ini secara serius. Terdapat enam pendekatan dasar untuk membentuk ulang batasan-batasan pasar, yaitu: mencermati industri-industri alternatif, mencermati kelompok-kelompok strategis dalam industri, mencermati rantai pembeli, mencermati penawaran produk dan jasa pelengkap, mencermati daya tarik emosional atau fungsional
bagi pembeli, dan mencermati waktu.

Prinsip 2: Fokus pada Gambaran Besar, Bukan pada Angka

Prinsip ini merupakan kunci untuk mengurangi risiko perencanaan investasi tenaga dan waktu yang terlalu besar dengan hasil hanya berupa langkah taktis samudera merah. Menggembangkan pendekatan alternatif bagi proses perencanaan strategis yang berdasarkan bukan pada mempersiapkan dokumen tapi menggambar kanvas strategi. Pendekatan ini secara konsisten menghasilkan strategi yang membuka kreativitas dari beragam jenis orang dalam suatu organisasi, membuka perusahaan kepada samudera biru, dan mudah dipahami serta dikomunikasikan untuk bisa diterapkan secara efektif.

     

Prinsip 3: Menjangkau Melampaui Permintaan yang Ada

Hal ini merupakan komponen kunci dalam mencapai inovasi nilai. Untuk mencapai hal ini, perusahaan harus menentang dua praktik strategi konvensional. Pertama,
berfokus pada konsumen yang ada. Kedua, dorongan mempertajam segmentasi demi mengakomodasi perbedaan di pihak pembeli. Di bawah ini menggambarkan letak dari
nonkonsumen tingkat pertama, non konsumen tingkat kedua, dan nonkonsumen tingkat ketiga terhadap pasar.

Tiga tingkatan Nonkonsumen

a. Nonkonsumen Level Pertama

Mereka yang segera akan menjadi nonkonsumen ini adalah yang minimal menggunakan produk yang ditawarkan pasar saat ini untuk sementara karena kebutuhan,
sembari mencari sesuatu yang lebih baik. Ketika sudah menemukan alternatif yang baik, mereka akan hengkang. Dalam pengertian ini, mereka berada ditubir pasar. Suatu pasar menjadi stagnan dan menimbulkan masalah pertumbuhan ketika jumlah kelompok yang akan menjadi nonkonsumen meningkat. Tetapi sebenarnya, di dalam nonkonsumen tingkat pertama ini terdapat sebuah samudera yang mengandung permintaan potensial yang menunggu diwujudkan.

b. Nonkonsumen Tingkat Kedua

Mereka adalah nonkonsumen yang menolak, orang yang tidak menggunakan atau tidak mampu menggunakan produk yang ditawarkan pasar saat ini karena mereka merasa
produk-produk itu tidak efektif atau di luar jangkauan mereka. Kebutuhan mereka dipuaskan oleh sarana lain atau diabaikan. Namun, menangani nonkonsumen yang menolak adalah sebuah samudera permintaan potensial yang menunggu untuk dibuka.

c. Nonkonsumen Tingkat Ketiga

Tingkat ketiga dari nonkonsumen adalah yang sudah ada dalam suatu industri. Umumnya, nonkonsumen yang belum dijelajahi ini tidak dibidik atau dianggap sebagai
konsumen potensial oleh pemain manapun dalam industri. Ini karena kebutuhan mereka dan peluang bisnis yang terkait dengan kebutuhan itu selalu dianggap telah menjadi pemilik pasar-pasar lain.

Prinsip 4: Menjalankan Rangkaian Strategis Secara Benar

Perusahaan perlu membangun strategi samudera biru mereka dalam rangkaian utilitas pembeli, harga, biaya, dan pengadopsian. Pada tahapan mengetahui manfaat untuk para pembeli, Kim dan Mauborgne (2005) merekomendasikan sebuah peta manfaat untuk pembeli (pembelian, pengiriman, penggunaan, pelengkap, perawatan dan pembuangan) dan enam lapisan manfaat (produktivitas konsumen, kesederhanaan, kenyamanan, risiko, keceriaan dan citra, dan kelemahan terhadap lingkungan) yang membantu penajaman analisis. Kedua parameter diperdalam dengan silang pengamatan atas kajian pertanyaan tentang pada tahap mana terdapat hambatan besar bagi: produktivitas konsumen, kesederhanaan, kenyamanan, risiko, keceriaan, citra, dan keramahan terhadap lingkungan yang disusun secara tabulatif.

Prinsip 5: Mengatasi Hambatan Utama Organisasi

Terdapat empat rintangan organisasi bagi eksekusi strategi yang telah ditetapkan, yaitu: rintangan kognitif, rintangan sumber daya, rintangan politik, dan rintangan motivasional. Keempat rintangan itu saling terkait satu sama lain.

Prinsip 6: Mengintegrasikan Eksekusi ke dalam Strategi

Pada prinsip ke enam terdapat beberapa pengaruh yang ditimbulkan oleh proses adil terhadap sikap dan perilaku orang ketika manajemen mengeksekusi strategi. Kim dan Mauborgne (2005) menyatakan bahwa dari studi tentang inisiatif bisnis di 108 perusahaan dengan menciptakan samudera biru dapat memberikan dampak untuk perusahaan.

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *