Social Marketing sebagai Strategi Pemasaran Organisasi Nirlaba

Iklan Sosial Masyarakat

“Organisasi nirlaba merupakan lembaga kemasyarakatan dari pemberi jasa tertentu sampai memperjuangkan isu tunggal tanpa memperhitungkan imbalan laba. Prinsip kerja organisasi nirlaba adalah dengan membangun jejaring kerjasama antar sesama. Organisasi nirlaba bersifat non pemerintahan dan non bisnis serta menempatkan diri menjadi kelompok madani” .

Dari definisi di atas kita dapat menyimpulkan bahwa organisasi nirlaba merupakan organisasi yang tidak berorientasi terhadap pencapaian keuntungan (profit maximation), termasuk keuntungan finansial melainkan pada pengawalan isu-isu sosial kemasyarakatan yang ada, lazimnya organisasi nirlaba menyajikan produk jasa untuk mencapai tujuan organisasi nirlaba tersebut. Selain orientasi yang berbeda dengan organisasi bisnis, organisasi nirlaba secara langsung seringkali menjadi artikulator dari kepentingan masyarakat yang ada. Hal demikian terjadi sebab organisasi nirlaba dapat menyentuh masyarakat akar rumput.

Adapun pengertian mengenai social marketing adalah strategi untuk merubah perilaku. Hal tersebut menggabungkan komponen pendekatan tradisional terbaik untuk perubahan sosial dalam satu perencanaan yang matang dan kerangka kegiatan serta pemanfaatan atas teknologi komunikasi beserta kemampuan pemasaran. Istilah mengenai social marketing pertama

kali diperkenalkan pada tahun 1971 untuk menggambarkan manfaat dari prinsip pemasaran dan teknik untuk menindaklanjuti permasalahan sosial, ide serta perilaku. Kotler membatasi definisi social marketing sebagai suatu manajemen tekhnologi perubahan sosial yang meliputi perencanaan, implementasi dan kontrol program yang dimaksudkan untuk peningkatan penerimaan dari ide sosial dan praktek dalam satu atau beberapa kelompok dari target yang diharapkan. .

Pada dasarnya social marketing sedikit banyak meniru srategi pemasaran organisasi bisnis dalam segi pemasaran produk ide serta gagasanya. Dalam proses memasarkan ide serta gagasanya, organisasi nirlaba berusaha untuk menanamkan ide serta gagasan tersebut ke dalam masyarakat yang menjadi segmen dari organisasi nirlaba tersebut sehingga akan berdampak pada perubahan pola pikir atau cara pandang hingga perilaku dalam segmen masyarakat yang dituju. Aplikasi cara pemasaran ide-ide serta gagasan yang diusung dalam organisasi nirlaba tidak dipungkiri sedikit banyak mengadopsi cara ‘memasarkan’ organisasi bisnis. Garis besar dari social marketing memang pada aktivitas memasarkan idenya, namun social marketing juga tidak luput dari strategi menganalisis, merencanakan, mengeksekusi dan mengevaluasi program-program dalam mencapai tujuan kesejahteraan sosial maupun personal yang notabene juga bagian dari tujuan dari organisasi nirlaba tersebut.

Social marketing merupakan sarana dan strategi organisasi nirlaba dalam merubah perilaku individu maupun kelompok dalam masyarakat. Dengan pendekatan kepada kelompok masyarakat yang akan dituju, pelaksanaan strategi social marketing tidak akan lepas dari aktivitas mempengaruhi. Melalui strategi social marketing kelompok sasaran yang dituju akan dengan mudah menerima, mengolah, mengubah pandangan serta sikap suatu individu maupun kelompok masyarakat sebagai hasil pencapaian akhir dari penerapan strategi social marketing.

Strategi social marketing pun tidak terlepas dari dasar-dasar pemasaran bisnis yang dikenal dengan 4P dalam istilah bahasa inggris. Adapun 4P tersebut adalah produk (product), harga atau biaya (price), tempat (place) dan strategi promosi (promotion), namun dalam social marketing muncul penambahan kebijakan (policy) dan kerjasama (partnership) yang notabene menjadi elemen penting dalam pemasaran ide serta gagasan dalam strategi social marketing.

Tujuan Social Marketing

Berdasarkan prinsip dari organisasi nirlaba yang memfokuskan diri pada kampanye isu-isu sosial maka orientasi dari adanya organisasi nirlaba tidaklah mengarah pada pendapatan materiil melainkan pada terjadinya rekayasa sosial dalam masyarakat. Rekayasa sosial yang dimaksud adalah

 

kesadaran personal maupun komunal (kelompok) dalam masyarakat baik dari aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) maupun psikomotorik (perilaku).

Dalam proses mewujudkan kesadaran tersebut maka tools yang digunakan adalah melalui implementasi strategi social marketing. Pada dasarnya jelas bahwa tujuan dari strategi social marketing yang notabene merupakan tools atau alat dari organisasi nirlaba adalah untuk menciptakan kesadaran di wilayah pengetahuan, sikap maupun perilaku masyarakat, proses demikianlah yang dinamakan rekayasa sosial. Seperti dinyatakan oleh Kolter bahwa tujuan social marketing dengan berbagai tahapannya adalah dimaksudkan guna meningkatkan penerimaan ide sosial dan praktek dalam satu atau beberapa kelompok dari target yang diharapkan . Penerimaan ide sosial yang baik dalam satu atau beberapa kelompok kemudian akan membentuk kesadaran-kesadaran sosial baru sebagai muara akhir dari tujuan social marketing.

Tahapan dalam Social Marketing

Dalam social marketing ada beberapa tahapan pengolahan yang harus dilalui guna memasarkan ide dan gagasan kepada segmen masyarakat yang dipilih. Adapun tahapan-tahapan dalam social marketing adalah sebagai berikut:

“Tahapan-tahapan  dalam social marketing:

  1. Menganalisis lingkungan pemasaran sosial
  2. Meneliti dan memilih target populasi untuk diadopsi
  3. Merancang strategi pemasaran sosial
  4. Merencanakan program pemasaran sosial
  5. Mengorganisir, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi dampak pemasaran sosial”

Tahapan pertama yang harus dilalui dalam social marketing adalah analizing the social marketing environment atau menganalisis lingkungan pemasaran sosial. Dalam hal ini dituntut untuk menganalisis lingkungan guna mengetahui masalah-masalah sosial apa saja yang ada di lingkungan tersebut.  Dalam tahapan pertama, dapat melakukan analisa terhadap faktor-faktor yang menjadi penyebab masalah sosial di lingkungan tersebut dengan mengurai masalah tersebut melalui dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal dari lingkungan tersebut . Pentingnya akan analisis lingkungan tersebut juga dapat dilihat dari pernyataan berikut, relatif pada tujuan dan fokus pada rencana, menjelaskan faktor-faktor dan kekuatan-kekuatan dari lingkungan internal maupun eksternal yang diperkirakan memberikan beberapa dampak pada keputusan perencanaan .

Dalam menganalisis lingkungan, faktor-faktor tersebut dapat berupa kekuatan dan kelemahan dari dalam lingkungan internal dan eksternal. Selain kekuatan dan kelemahan, faktor peluang dan ancaman juga menjadi pisau analisis yang penting  agar dapat menjadi acuan dalam pengambilan kebijakan.

Pada tahapan kedua dalam pengolahan social marketing, yang harus dilakukan adalah meneliti dan memilih populasi khalayak sasaran. Dalam tahapan ini, pelaku pemasar sosial harus memilah-milah khalayak sasaran. Target-adopter atau khalayak sasaran sebagai sejumlah besar orang yang pengetahuan, sikap, dan perilakunya akan diubah melalui kegiatan kampanye . Hal tersebut penting dilakukan sebab dalam lingkup besar dan beragam, tentunya dalam rangka merespon pesan yang dilakukan melalui aktivitas kampanye akan melahirkan respon yang berbeda-beda, maka dari itu dibutuhkan pemahaman secara mendalam tentang populasi khalayak sasaran dengan cara memecah populasi khalayak masyarakat yang dipilih secara lebih rinci dan mendetail (segmented). Hal ini sesuai dengan pengertian bahwa pemasar sosial membutuhkan kemampuan dalam memahami target populasi dan itu dibutuhkan. Segmentasi terhadap target populasi adalah dengan memecah semua target populasi ke dalam segmen yang memiliki ciri-ciri khusus dalam merespon kampanye sosial .

Pada tahapan ketiga dalam proses social marketing adalah designing social marketing strategies atau mendesain strategi social marketing. Pada tahapan ini pemasar sosial akan menentukan rencana-rencana desain yang berisi strategi untuk mencapai tujuan dari kampanye pemasaran sosial tersebut. Hal ini dilakukan guna mensukseskan kampanye sosial yang akan dilakukan di wilayah segmen yang telah dipilah-pilah sebelumnya. Dalam proses designing social marketing strategies, pemasar sosial harus menggunakan bauran pemasaran (marketing mix) sebagai pisau analisisnya

seperti perumusan product (produk), price (harga), place (tempat distribusi), promotion (aktivitas promosi), partnership (kemitraan) and policy (kebijakan) yang akan dijabarkan secara mendetail di bauran pemasaran social marketing.

Setelah memformulasikan dan mendesain strategi pemasaran sosial maka langkah selanjutnya adalah merencanakan program bauran pemasaran sosial. Elemen-elemen bauran pemasaran yang ada dimasukkan kedalam program taktis yang akan berperan sebagai pendukung untuk distribusi kampanye sosial. Setelah program takis dibuat maka social marketer mempunyai tugas untuk menjelaskan program-program taktis yang telah dipilih. Setelah program taktis dibuat maka social marketer akan langsung bergerak untuk memasarkan program taktis tersebut.

Adapun bentuk-bentuk dari perencanan social marketing adalah sebagai berikut:

“Rencana manajemen: Diantara strategi manajemen adalah dengan mengikuti,

  1. Kepemimpinan dan rencana manajemen perbaikan
  2. Program untuk merevisi struktur organisasi
  3. Program perekrtutan karyawan, relawan dan pemimpin non formal
  4. Program pelatihan
  5. Rencana kompensasi
  6. Program pemberdayaan dan motivasi

Rencana operasional: strategi operasional seharusnya mempertimbangkan.

  1. Program-program yang menjelaskan bagaimana tindakan operasional diatur dan apa bentuk tindakan operasional tersebut
  2. Materi dan perlengkapan yang akan dipergunakan
  3. Program pengukuran kualitas
  4. Program untuk mengukur biaya kualitas” .

Adapun tahapan terakhir dari pengolahan pemasaran sosial adalah pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (implementing), pengendalian (controlling) dan mengevaluasi pemasaran sosial yang telah dilakukan (evaluating the social marketing effort). Pada akhirnya pada tahap ini akan muncul pertanyaan, apakah program taktis yang telah dijalankan dapat dikategorikan berhasil atau gagal. Social marketing tidak hanya berhenti sampai disitu, sebab dalam merubah perilaku masyarakat dalam hal ini adalah populasi khalayak yang telah tersegmentasi, social marketer tidak hanya butuh satu kali aksi, namun berkelanjutan, sehingga upaya pemantauan (monitoring) menjadi sangatlah penting. Seperti dinyatakan mengenai pentingya monitoring, pemasaran sosial juga dirancang untuk pemantauan program yang berkelanjutan guna mendorong efektivitas program menuju perubahan perilaku. Pemantauan juga menolong untuk mengidentifikasi aktivitas yang efektif dan tidak efektif serta koreksi atas efektivitas program di tengah perjalanan .

Dalam melakukan monitoring, social marketer harus memperhatikan variabel-variabel. Beberapa variabel yang dibutuhkan untuk di pantau agar menjamin kepuasan populasi khalayak dan memastikan kembalinya kualitas investasi yang ditanamkan adalah sebagai berikut,

“Variabel monitoring adalah sebagai berikut:

  1. Mengukur kinerja pasar
  2. Pengaturan iklim
  3. Pendapat karyawan
  4. Iklim pelayanan atau jasa internal
  5. Kepuasan pelanggan atau populasi khalayak
  6. mengukur kualitas internal” .

Dalam tahapan evaluasi ini lebih ditekankan pada evaluasi dampak dan etika sosial. Bagaimana respon khalayak sasaran yang dijadikan target dalam kampanye sosial tersebut. Upaya evaluasi dan monitoring tersebut memerlukan data tentang khalayak sasaran, tentunya data yang berasal dari hasil penelitian yang telah dilakukan di awal pengolahan pemasaran sosial.

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *