PT Kertas Kraft Aceh Persero Perusahaan Penghasil Kertas

PT Kertas Kraft Aceh Persero

Kementerian Perindustrian memberikan ‘lampu hijau’ bagi PT Kertas Kraft Aceh (Persero) untuk merevitalisasi pabrik sebagai langkah awal pengoperasian kembali perusahaan penghasil kertas kantong semen itu.

Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Kemenperin Edy Sutopo menjelaskan, PT Kertas Kraft Aceh (KKA) tidak perlu mengubah izin usaha industri (IUI) bila kapasitas pabrik tetap seperti izin awal.

Ketentuan tersebut juga berlaku bila perusahaan pelat merah itu memperbaharui spesifikasi kertas, tetapi masih dalam satu klasifikasi baku lapangan usaha Indonesia (KBLI).

“Kalau sebelumnya perizinannya sudah lengkap, tinggal operasional saja. Apalagi kalau perizinan yang dimiliki tidak ada yang mengalami pencabutan karena satu dan lain hal,” katanya kepada Bisnis, pe kan lalu.

Kemenperin, tutur Edy, mendukung penuh revitalisasi KKA karena akan meningkatkan produksi pulp dan kertas nasional. Tahun lalu, kapasitas produksi industri pulp dan kertas berturut-turut 6,4 juta ton dan 10,4 juta ton. Padahal, kapasitas terpasang pabrik pulp dan kertas masing-masing 7,9 juta ton dan 12,9 juta ton.

Pabrik KKA sendiri berkapasitas sekitar 130.000 ton per tahun. Meskipun hanya berkontribusi 2% dari kapasitas terpasang nasional, kehadirannya tetap penting karena memproduksi kertas kebutuhan khusus sebagai bahan baku kantong semen.

“Tentunya pengoperasian KKA akan meningkatkan ketersediaan kertas kantong semen dalam rangka mendukung perkembangan industri semen nasional yang berkembang cukup pesat,” ujar Edy.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengimpor bahan baku kantong semen senilai US$134,89 juta pada semester I/2016. Adapun, impor untuk sak semen jadi senilai US$38,71 juta.

Deputi Bidang Restrukturisasi Kementerian BUMN Aloysius Kiik Ro sebelumnya mengatakan, kepastian mengenai revitalisasi KKA akan didapat pada bulan ini. Investor asal Singapura yakni Floresta Pte. Ltd. melakukan studi kelayakan mengenai kebutuhan bahan baku kayu pinus, bahan bakar gas, dan dana untuk menghidupkan kembali perusahaan itu.

“Hasil uji tuntas kami tunggu bulan ini. Insinyurnya baru selesai [mengunjungi pabrik] akhir Desember lalu,” ujarnya.

Aloysius menuturkan, KKA dan Floresta akan berkongsi dengan skema kerja sama operasi (KSO). Kedua belah pihak kemudian membuat perusahaan patungan dan menggandeng produsen kayu pinus PT Tusam Hutani Lestari (THL).

“Di THL kan ada PT Inhutani IV sebagai minoritas pemegang saham. Tentu nanti ada win-win karena kalau kayu tidak dibeli tidak ada nilainya,” ujarnya. Aloysius memastikan, bahan bakar gas akan tersedia setelah Kementerian BUMN menugaskan, PT Pertamina (Persero) sebagai pemasok gas untuk Kawasan Ekonomi Khusus Arun-Lhokseumawe.

Baca : IKM Berdaya Saing Progress Utamanya adalah Inovasi Produk

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *