Kualitas Audit dan Fee Audit

Kualitas Audit dan Fee Audit

Fee Audit

Fee audit menurut Mulyadi (2009:63) merupakan fee yang diterima akuntan publik setelah melaksanakan jasa audit. Seorang auditor bekerja untuk mendapatkan imbalan atau upah yaitu berupa fee audit. Dalam penelitiannya Hoitash et al dalam Hartadi (2009) menemukan bukti bahwa pada saat auditor bernegosiasi dengan manajemen mengenai besaran tarif fee yang harus dibayarkan oleh pihak manajemen terhadap hasil kerja laporan auditan, maka kemungkinan besar akan terjadi konsesi resiprokal yang akan mereduksi kualitas laporan auditan. Tindakan ini menjurus kepada tindakan yang mengesampingkan profesionalisme, akan menurunkan kualitas audit.

Penetapan audit fee tidak kalah penting didalam penerimaan penugasan, auditor tentu bekerja untuk memperoleh penghasilan yang memadai. Besaran Fee audit yang akan diterima Auditor diduga berpengaruh terhadap kualitas audit. Oleh sebab itu, penentuan fee audit perlu disepakati antara klien dengan auditor, supaya tidak terjadi perang tarif yang dapat merusak kredibilitas akuntan publik. Menurut Kurniasih (2014), Surat Keputusan Ketua Umum Institut Akuntan Publik Indonesia Nomor: KEP.024/IAPI/VII/2008 tentang kebijakan penentuan fee audit yaitu dalam menetapkan imbal jasa (fee) audit, Akuntan Publik harus mempertimbangkan hal-hal berikut : kebutuhan klien; tugas dan tanggung jawab menurut hukum (statutory duties); independensi; tingkat keahlian (levels of expertise) dan tanggung jawab yang melekat pada pekerjaan yang dilakukan, serta tingkat kompleksitas pekerjaan; banyak waktu yang diperlukan dan secara efektif digunakan oleh Akuntan Publik dan stafnya untuk menyelesaikan pekerjaan; dan basis penetapan fee yang disepakati.

     

Kualitas Audit

Auditor eksternal berperan sebagai pihak ketiga yang mampu menjembatani perbedaan kepentingan dalam teori agensi. Hasil audit yang dibuat auditor akan digunakan untuk membantu dalam pengambilan keputusan perusahaan. Untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, maka diperlukan kualitas audit yang baik. Kualitas audit menurut De Angelo (1981) dalam Kartika (2012) yaitu sebagai kemungkinan/ probabilitas auditor mampu mengungkapkan dan melaporkan suatu pelanggaran dalam sistem akuntansi kliennya.Menurut Himawan dan Emarila (2010) kualitas audit adalah proses pemeriksaan sistematis sistem mutu yang dilakukan oleh auditor mutu internal atau eksternal atau tim audit. Dari pengertian kualitas audit diatas dapat disimpulkan bahwa seorang auditor dituntut untuk memberikan pendapatnya tentang kewajaran laporan keuangan yang dibuat oleh manajemen dalam bentuk laporan audit yang berkualitas dengan mempertahankan berbagai atribut kualitas audit.

Kualitas audit memberikan jaminan bahwa tidak terdapat salah saji material atau kecurangan-kecurangan dalam laporan audit (Solatiyah, 2014). Kualitas audit adalah kemungkinan auditor untuk menemukan dan mengungkapkan kesalahan atau pelanggaran yang bersifat material dalam Laporan Keuangan. Kualitas audit yang tinggi adalah ketika auditor mengungkapkan kejadian yang sebenarnya dari Laporan Keuangan mengenai hal-hal yang memang tidak seharusnya terdapat pada Laporan Keuangan, sehingga menghasilkan laporan keuangan audit yang mencerminkan keadaan sebenarnya tanpa adanya salah saji material atau kecurangan lainnya.

Laporan keuangan yang telah diaudit diharapkan adalah laporan yang berisikan informasi yang berkualitas yang mencerminkan keadaan sebenarnya, sehingga akhirnya digunakan untuk pengambilan keputusan perusahaan. Untuk menghasilkan informasi seperti itu, perlu dilakukan pemeriksaan yang berkualitas pula, atau dengan kata lain,
informasi yang berkualitas dapat ditingkatkan dengan meningkatkan kualitas audit (Hamid, 2013).

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *