Privasi dan Keamanan Memberikan Kepercayaan Bertransaksi Online

Privasi dan Keamanan Memberikan Kepercayaan Bertransaksi Online

Potensi internet sebagai media pemasaran dan perdagangan telah banyak dibicarakan akhir-akhir ini, khususnya bagi para pemasar. Pembicaraan tersebut menghasilkan suatu pandangan mengenai e-commerce, khususnya perdagangan melalui internet, yang umumnya dikenal sebagai e-commerce, sebagai suatu bisnis dengan berbagai kemungkinan (Raghav Rao dalam Syahran 2008). Menurut pandangan ini, e-commerce menawarkan sejumlah karakteristik nilai tambah baru, misalnya disebutkan bahwa suatu saat ecommerce akan menggantikan cara melakukan bisnis konvensional secara keseluruhan.

Prediksi menunjukkan bahwa 20% dari seluruh pembelanja di supermarket selama dekade berikutnya akan dilakukan melalui saluran elektronik (Burke, 1997). Harga yang lebih murah juga dihasilkan melalui ecommerce, alasanya adalah misalnya penggunaan tempat yang lebih murah, yang dimungkinkan karena cara ini tidak memerlukan lokasi yang tersentralisasi dan tidak diperlukannya penjaga toko atau sales promotion. Selain itu penggunaan sejumlah perantara juga dapat dikurangi (Peterson, 1997). Awalnya belanja melalui internet kurang diminati. Banyak alasan yang melatar belakangi membuat orang tidak tertarik untuk melakukan pembelian secara online diantaranya adalah faktor privasi, keamanan dan kepercayaan. Potensi internet sebagai media pemasaran dan perdagangan telah banyak dibicarakan akhir-akhir ini, khususnya bagi para pemasar. Pembicaraan tersebut menghasilkan suatu pandangan mengenai e-commerce, khususnya perdagangan melalui internet, yang umumnya dikenal sebagai e-commerce, sebagai suatu bisnis dengan berbagai kemungkinan (Raghav Rao dalam Syahran 2008).

Menurut pandangan ini, e-commerce menawarkan sejumlah karakteristik nilai tambah baru, misalnya disebutkan bahwa suatu saat ecommerce akan menggantikan cara melakukan bisnis konvensional secara keseluruhan. Prediksi menunjukkan bahwa 20% dari seluruh pembelanja di supermarket selama dekade berikutnya akan dilakukan melalui saluran elektronik (Burke, 1997). Harga yang lebih murah juga dihasilkan melalui ecommerce, alasanya adalah misalnya penggunaan tempat yang lebih murah, yang dimungkinkan karena cara ini tidak memerlukan lokasi yang tersentralisasi dan tidak diperlukannya penjaga toko atau sales promotion. Selain itu penggunaan sejumlah perantara juga dapat dikurangi (Peterson, 1997). Awalnya belanja melalui internet kurang diminati. Banyak alasan yang melatar belakangi membuat orang tidak tertarik untuk melakukan pembelian secara online diantaranya adalah faktor privasi, keamanan dan kepercayaan.

a. Theory Planned Behavior 

Theory of planned behavior (TPB) (Ajzen, 1985, 1991) merupakan pengembangan dari theory of reasoned action (TRA) (Ajzen and Fishbein, 1980). Inti dari theory of planned behavior dan theory of reasoned action, adalah niat individu untuk melakukan perilaku tertentu. Dalam theory of reasoned action dan theory of planned behavior, sikap terhadap perilaku dan norma subyektif pada perilaku dinyatakan mempengaruhi niat, tapi theory of planned behavior memasukkan unsur kontrol perilaku yang dirasakan dalam mempengaruhi perilaku sebagai faktor tambahan yang mempengaruhi niat konsumen untuk bertransaksi secara online (Syahran, 2008) Menurut theory of planned behavior, tindakan individu pada perilaku tertentu ditentukan oleh niat individu tersebut untuk melakukan perilaku. Niat itu sendiri dipengaruhi sikap terhadap perilaku, norma subyektif yang mempengaruhi perilaku, dan kontrol keperilakuan yang dirasakan (Syahran, 2008). Menurut Azjen (1985), sikap terhadap perilaku merupakan evaluasi positif atau negatif dalam melakukan perilaku. Sikap terhadap perilaku dapat mengevaluasi tingkatan seseorang tentang sebuah sikap baik atau buruk terhadap sebuah perilaku. Norma subyektif menunjukkan tekanan sosial yang dirasakan untuk melakukan atau tidak melakukan tindakan, sedangkan kontrol keperilakuan yang dirasakan menunjukkan mudahnya atau sulitnya seseorang melakukan tindakan dan dianggap sebagai cerminan pengalaman masa lalu disamping halangan atau hambatan yang terantisipasi (Syahran, 2008)

b. E-Commerce

E-Commerce adalah mekanisme perdagangan dengan menggunakan teknologi informasi, seperti internet secara online untuk memenuhi keinginanan perusahaan, konsumen, dan manajemen dalam memangkas service cost guna meningkatkan mutu barang dan kecepatan pelayanan. Ecommerce digambarkan sebagai hubungan pertukaran secara online antar konsumen dan toko online, atau webvendor. Penelitian ini mempertimbangkan niat untuk bertransaksi secara online, yaitu kesediaan membeli barang atau jasa secara online (Syahran,2008).

c. Privasi 

Informasi privasi mengacu pada individu, kelompok, atau institusi untuk menentukan diri mereka sendiri dan bagaimana tentang luasnya informasi tentang apa yang dikomunikasikan pada orang lain (Malhotra.,et al 2004 dalam Syahran 2008). Secara umum privasi mengacu pada perlindungan informasi pribadi. Chau., et al (1999) mendefinisikan adalah hak individu untuk menjadikan dirinya sendiri dengan mempertimbangkan beberapa dimensi privasi seperti, perilaku, komunikasi, dan data pribadi. Privasi dibedakan menjadi dua bagian yaitu privasi Fisik dan nonFisik/informasi (Alter 2002 dalam Pramika 2012). Privasi fisik adalah hak seseorang untuk mencegah seseorang yang tidak dikehendaki terhadap waktu, ruang, dan hak milik. Privasi informasi adalah hak individu untuk menentukan kapan, bagaimana dan apa saja informasi pribadi yang ingin dikomunikasikan dengan pihak lain. Penggunaan teknologi informasi berkecendrungan membuat pelanggaran terhadap privasi jauh lebih mudah terjadi.

Pandangan konsumen mengenai privasi berbeda-beda satu sama lain, untuk konteks informasi yang disebarluaskan baik secara, individu, kelompok dan institusi. Privasi pada umumnya dipengaruhi oleh faktorfaktor seperti budaya, lingkungan, hukum, dan industri. Akan tetapi faktor tersebut tidak mutlak mengenai persepsi privasi karena didasarkan karakteristik konsumen dan pengalaman masa lalu dalam bertransaksi online. Oleh karena itu persepsi mengenai transaksi online dan penggunaan informasi pribadi berbeda-beda.

d. Keamanan

Keamanan merupakan faktor utama yang dibutuhkan dalam proses bisnis online maupun pengoperasian sistem informasi. Kemanan bertujuan untuk mencegah adanya ancaman terhadap sistem informasi dan komunikasi khususnya transaksi online sehingga dapat terjaga sistem keamanan dan memberi kenyamanan pihak konsumen. Kejahatan dalam dunia internet memiliki bentuk beragam. Hal itu disebabkan oleh beberapa alasan diantaranya identitas individu atau organisasi dalam dunia internet mudah untuk dipalsukan, tetapi sulit dibuktikan secara hukum (Jarvenpaa dan Grazioli, 1999), selain itu internet menyediakan akses yang luas pada pengguna yang memiliki potensi untuk menjadi korban. Ancaman terhadap sistem informasi dapat dibagi menjadi dua macam yaitu ancaman aktif dan ancaman pasif.

Ancaman aktif mencakup kecurangan dan kejahatan terhadap komputer. Sedangkan ancaman pasif mencakup kegagalan sistem, kesalahan manusia dan bencana alam. Terdapat 6 metode umum yang digunakan oleh orang dalam melakukan penetrasi terhadap sistem berbasis komputer yaitu manipulasi masukan, penggantian program, penggantian berkas secara langsung, pencurian data, sabotase, dan penyalahgunaan serta pencurian sumberdaya komputasi (Bodnar dan Hopwood, 1993).

e. Kepercayaan 

Lau dan Lee (1999) mendefinisikan kepercayaan sebagai kesediaan individu untuk menggantungkan dirinya pada pihak lain dengan resiko tertentu. Kesediaan ini mencul karena adanya pemahaman individu tentang pihak lain yang didasarkan pada masa lalunya, adanya harapan piha lain akan memberikan sumbangan yang positif (walaupun ada juga kemungkinan pihak lain memberikan sumbangan yang negatif). Literatur kepercayaan di identifikasi dari berbagai dimensi. Dari dimensi ini rasa kejujuran (kredibilitas) mengindikasikan kepastian konsumen dalam bisnis, ketulusan, kenyataan, dan janji. Gefen (2004) mendefinisikan kepercayaan sebagai kesediaan untuk membuat dirinya peka kedalam tindakan yang diambil oleh pihak yang dipercaya yang didasarkan pada keyakinan. Kepercayaan suatu multidimensi yang kompleks dan spesifik (McKnight dan Chervany, 2002). Sebagai tambahan manfaat untuk bisnis secara umum, kepercayaan telah ditunjukan untuk mempunyai arti penting. Sebagai contoh kepercayaan adalah suatu faktor kritis dalam stimulant transaksi secara online.

f. Kepercayaan

konsumen pada internet Gunasekaran dan Love, (1999) pengembangan hubungan yang tetap pada internet dipengaruhi dari berbagai sektor. Bagaimanapun pengaruh ini tidak menterjemakan ke dalam angka penjualan yang lebih tinggi melalui internet. Jelas bahwa dengan transaksi online konsumen tidak berinteraksi dengan fisik toko online, oleh karena itu konsumen tidak mampu untuk mengevaluasi secara efektif produk yang ditawarkan, atau untuk memeriksa identitas penjual. Pembayaran biasanya menggunakan kartu kredit atau transfer uang sebelum menyerahkan barang atau jasa kemungkinan data keuangan dapat digunakan dengan curang atau produk tidak sesuai dengan yang dipesan. Untuk itu perlu ditambahkan dalam pembuatan keluhan atau komplain perusaahaan yang tidak mempunyai fisik toko atau kantor pusat didalam negeri atau di luar negeri.

Hipotesa 

H1: Privasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepercayaan dalam bertransaksi secara online.

H2: keamanan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepercayaan dalam bertransaksi secara online.

H3: kepercayaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat bertransaksi secara online.H4: Privasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat bertransasi online.

H5: Keamanan berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat bertransaksi online.

Literasi 

Syahran (2008) yang berjudul “Pengaruh privasi, kemanan, kepercayaan, dan pengalaman terhadap niat untuk bertransaksi secara online.

Burke R.R. 1997. Do You See What I See? The Future of Vitual Shopping. Journal of the Academy of Marketing Informatiom Sience. 25 (4). h. 352-360.

Azjen, I. and Fishbein, M. 1980. Understanding Attitudes and Predicting Social Behavior. Prentice-Hall.

Ajzen, I. (1985). From Intentions to Actions: A Theory of Planned Behavior. New York: Springer.
Ajzen, I. (1991). Theory of Planned Behavior. New York: Journal Organizational Behavior and Human Decision Prosses. 50, 179-211.

Pramika, Ayunda Gina, 2012, Pengaruh Privasi, Keamanan, dan Kepercayaan Terhadap Niat Menggunakan Online Job Market, Tesis, Universitas Gadjah Mada (Tidak Dipublikasikan)

Alter, Steven. 2002. Information Systems: foundation of e-business. Prentice Hall. Ed. 4th  Bodnar, G.H., and Hopwood, W.S,. 1993. Sistem Informasi Akuntansi. Yogyakarta: Andi.

Gefen, D., Karahanna, E., and Straub, D. W. (2004). “Trust and TAM in Online Shopping: An Integrated Model.” MIS Quarterly, 27(1), 51-90.

Gunasekaran, A dan Love, D.W.(1999),”Current and future applications of multimedia technology in business”, International Journal of Information Management, Vol. 19 No. 2, pp. 105-20

McKnight, D.H., Cummings, L.L. and Chervany, N.L. 2002. Initial Trust formation in new organizational relationships. Academy of Management Review.Vol. 23 No.3. h. 473-90.

Baca : Pengertian Periklanan dan Konsep Loyalitas Konsumen

Postingan Terkait :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *