Tenur Kantor Akuntan Publik (KAP)

Tenur Kantor Akuntan Publik (KAP)

Tenur KAP adalah masa jangka waktu lamanya perikatan yang terjalin antara klien dengan auditor (Nuratama, 2011). Tenur sendiri dapat berdampak pada kinerja auditor pada perusahaan klien seperti hubungan emosional auditor-klien, independensi, fee audit, profesionalisme kerja, kompetensi, dsb (Hamid, 2013). Tenur KAP telah banyak diperdebatkan oleh beberapa pihak. Tenur KAP dianggap akan mengurangi independensi auditor. Independensi adalah pondasi auditor untuk menghasilkan laporan audit yang dapat dipercaya (Hamid, 2013). Independensi dapat dipengaruhi dengan adanya hubungan auditor dengan klien. Tenur KAP yang lama akan membuat hubungan auditor dengan klien semakin intens, sehingga dapat berpengaruh pada independensi auditor. Independensi adalah pondasi auditor untuk menghasilkan laporan audit yang dapat dipercaya (Hamid, 2013).

Hamid (2013) berpendapat bahwa dengan tenur yang singkat dimana saat auditor mendapatkan klien baru, membutuhkan tambahan bukti-bukti menjadi terbatas. Namun dengan tenur dalam jangka waktu yang panjang dapat menimbulkan hubungan emosional antara auditor dan klien.

Menurut Giri (2012) berpendapat bahwa ada dua masalah praktis yang dapat mengganggu kemampuan aktual dari seorang auditor untuk mempertahankan sikap independensi selama melaksanakan tugas audit, yaitu: (1) auditor harus memperhatikan rekomendasi dari manajemen perusahaan untuk melanjutkan tugas audit daritahun ke tahun, dan (2) secara personal, keberlanjutan tugas audit menyebabkan anggota KAP menjadi semakin dekat dengan manajemen, hubungan yang semakin dekat ini mengakibatkan auditor lebih mengidentifikasi dirinya dengan kepentingan manajemen daripada kepentingan publik.

Kejadian yang berhubungan dengan tenur KAP dan telah memberikan banyak pembelajaran bagi dunia audit adalah masalah kecurangan Enron di US yang melibatkan Kantor Akuntan Publik (KAP) International Arthur Anderson (AA). Menurut Giri (2010), auditor sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dan independensi auditor sebagai faktor yang memicu timbulnya masalah ini. AA yang telah melakukan tugas pengauditan keuangan Enron hampir selama 20 tahun, tetapi AA tidak dapat mengungkapkan permasalahan yang dihadapi oleh Enron. Kondisi ini menunjukkan bahwa tenur audit yang lama akan mempengaruhi independensi auditor sehingga berdampak buruk bagi kelangsungan usaha.

Akibat adanya kasus Enron tersebut, Amerika Serikat menerbitkan Sarbanes Oxley Act (SOX) pada bulan Juli 2002 yang memuat regulasi mengenai rotasi audit. Di Indonesia sendiri, peraturan yang mengatur tentang audit tenur adalahKeputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 359/KMK.06/2003 pasal 2 tentang “Jasa
Akuntan Publik”. Peraturan tersebut merupakan perubahan atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 423/KMK.06/2002, yang mengatur bahwa pemberian jasa audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas dapatdilakukan oleh KAP paling lama untuk 5 (lima) tahun buku berturutturut dan oleh seorang akuntan publik paling lama untuk 3 (tiga) tahun buku berturut turut. Peraturan tersebut kemudian diperbaharui dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 17/PMK.01/2008 tentang “Jasa Akuntan Publik” pasal 3. Peraturan ini mengatur tentang pemberian jasa audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas dilakukan oleh KAP paling lama untuk 6 (enam) tahun buku berturut-turut, dan oleh seorang akuntan publik paling lama untuk 3 (tiga) tahun buku berturut-turut. Kantor akuntan boleh menerima kembali penugasan audit umum untuk klien setelah satu tahun buku tidak memberikan jasa audit umum atas laporan keuangan klien tersebut (Sinaga, 2012)

Reputasi KAP

Terdapat banyak faktor yang dapat mempengaruhi kualitas audit. Reputasi KAP menjadi salah satunya. KAP bereputasi menjelaskan adanya sikap independensi auditor dalam melaksanakan tugas audit. Reputasi memiliki kaitan dengan ukuran KAP, KAP besar cenderung memiliki reputasi yang lebih tinggi (Nuratama, 2011). Auditor yang memiliki reputasi yang tinggi diharapkan akan menghasilkan kualitas audit yang tinggi pula. KAP yang terkenal atau besar dianggap adalah KAP yang memiliki reputasi yang baik. Auditor dengan reputasi baik cenderung lebih independen karena mereka berada dalam sebuah nama besar yang harus dijaga. Hal ini akan membuat auditor untuk lebih berhati-hati dalam bertindak dan menghindari tindakan yang mungkin akan mencemarkan nama baik mereka. Selain itu dengan reputasi yang baik, auditor akan lebih memiliki rasa tanggung jawab untuk memberikan kinerja audit yang baik.

Spesialisasi Industri KAP

Spesialisasi industri KAP adalah keahlian, kemampuan dan pengalaman audit yang dimiliki auditor mengenai suatu bidang industri tertentu. Auditor yang spesialis industri memiliki pemahaman dan pengetahuan yang lebih baik mengenai internal kontrol perusahaan, resiko bisnis perusahaan, dan resiko audit pada industrinya (Setiawan dan Fitriany, 2011). Auditor yang tidak hanya memiliki keahlian dalam pengauditan dan akuntansi tetapi juga memiliki kemampuan dan pemahaman pada suatu industri klien. Menurut Solatiyah (2014), pemahaman lebih mengenai industri tertentu akan memberikan kualitas aidit yang lebih baik. Bonner dan Lewis dalam Primadita (2012) menyatakan bahwa terdapat empat faktor yang dapat dijadikan penentu tingkat spesialisasi auditor, yaitu:

  • Pemahaman atas pengetahuan umum mengenai akuntansi dan audit Pemahaman ini dapat diperoleh dari pelatihan secara formal ataupun melalui pengalaman auditor. Pemahaman ini mencakup pemahaman atas ketentuan akuntansi yang berlaku, pemahaman atas ketentuan audit yang berlaku, dan juga siklus transaksi dalam sistem akuntansi.
  • Pemahaman yang lebih detail atas klien dan industri klien beroperasi Pemahaman detail atas industri sekaligus klien yang dapat berupa karakteristik perusahaan dalam industri tersebut.
  • Pemahaman atas bisnis Pemahaman auditor atas sifat dasar, kondisi, trend, ataupun siklus yang berlaku dalam lingkungan bisnis secara umum.
  • Kemampuan memecahkan masalah (problem solving ability) Kemampuan untuk memahami timbal balik, memahami dan menginterpretasikan data, serta kemampuan analitis.

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *