Internet Banking : Wiki


Internet Banking

Pengertian Internet Banking

Internet Banking menurut Katen Furst, adalah sebagai berikut “internet banking is the use of the internet as remote delivery channel for banking services, including traditional services, such as opening a deposit account or transferring funds among different account, as well as new banking services, such as electronic bill presentment and payment, which allow customers to receive and pay bill over bank’s website”(Riswandi, 2005:20).

     

Pengertian tersebut tidak jauh beda dengan pendapat Efraim Turban, ia memberikan istilah internet banking dengan istilah online banking. Pendapat selengkapnya, yaitu “online banking, includes various banking activities conducted from home, business, or on the road instead of at a physical bank location”(Riswandi, 2005:21). Dari pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa internet banking merupakan suatu bentuk pemanfaatan media internet oleh bank untuk mempromosikan dan sekaligus melakukan transaksi secara online, baik dari produk yang sifatnya konvensional maupun yang baru.

Dengan diadakannya fasilitas intenet banking ini, nasabah atau pengguna layanan ini mendapatkan keuntungan berupa fleksibilitas untuk melakukan kegiatan transaksi melalui internet banking setiap saat, kapanpun dan dimana saja.

Baca : Definisi Enterprise Risk Management

Layanan internet banking

Melalui beberapa tren yang berkembang di layanan internet banking, layanan ini juga menawarkan sejumlah peluang kepada lembaga keuangan untuk meningkatkan kualitas pelayanannya. Layanan yang ditawarkan adalah sebagai berikut (riswandi, 2005:27):

  • Multichannel (Multichannel CRM).  Lembaga keuangan telah hadir dan merealisasikan internet sebagai channel lain yang sederhana. Oleh karena itu multichannel yang mengatur hubungan nasabah dalam lembaga keuangan menjadi menarik. Tujuannya adalah untuk memperkuat loyalitas dan peningkatan transaksi dan free.Untuk mendorong multichannel ini, penyelesaian CRM menyediakan interaksi nasabahnya melalui channel silang, menganalisis agregat data untuk pola nasabah pengguna produk keuangan. Melalui layanan ini, lembaga keuangan akan memperoleh hasil yang lebih efektif.
  • Penyediaan tagihan elektronik dan pembayaran (Electronic bill presentment and payment)  Pernyataan tagihan elektronik dan pembayaran secara final menjadi menguntungkan dan popular pada tahun 2001. Menurut kelompok Giga Information, 50% dari tagihan yang besar dan menengah di Amerika Utara akan memulai menyediakan invoice melalui internet pada tahun 2001, 10% hingga 15% konsumen akan berpatisipasi pada penyediaan tagihan elektronik dan pembayaran. Lembaga keuangan dapat mengubah fee untuk layanan ini dan fee tersebut di atas pemrosesan pembayaran regular.
  • Manajemen pembayaran invoice (Invoice payment management)  Dalam peraturan ini, lembaga keuangan akan menerima point untuk tagihan perusahaan, memperluas pemprosesan kotak uang (lookbox) traditional mereka ke dalam abad e-payment.
  • Pembayaran kartu kredit online (Online credit card payment) Menurut Group Giga Information, kartu kredit sangat dominan dalam sistem pembayaran pada tahun 2001. Debet online dan elektronik cek dengan menggunakan Automated Claringhouse (ACH) bagaimanapun akan tersingkirkan.
  • Cek Elektronik untuk pembayaran B2B (Elektronik checks for B2B payment) Elektronik cek akan menjadi lebih popular untuk penjualan retail, tetapi hingga sekarang sedikit sekali dampaknya terhadap pembayaran bisnis.
  • Aplikasi jaminan online (Online mortgage application) Aplikasi online dibatasi untuk kartu kredit dan pinjaman kecil. Kini banyak orang yang menerapkan ini untuk jaminan online.
  • Pembayaran orang ke orang melalui e-mail (Person to person e-mail payment) Dengan solusi ini, individu dapat membuat pembayaran kartu kredit dan ACH transfer dalam waktu yang jelas untuk setiap orang dengan alamat e-mail.

Risiko dalam layanan internet banking.

Layanan ini menawarkan sejumlah fleksibilitas dan kemudahan dalam melakukan transaksi. Namun, kemudahan apapun tidak jauh dari risiko. Menurut The Office of the Comptroller of the Curency (OCC) ditemukan beberapa kategori risiko yang ada dalam penyelenggaraan layanan internet banking, yaitu (Riswandi, 2005: 29-35):

  • Risiko kredit (credit risk) Risiko kredit adalah risiko terhadap pendapatan atau modal yang timbul dari kegagalan obligor untuk menyepakati setiap kontrak baik dengan bank atau sebaliknya untuk performan yang disetujui.
  • Risiko suku bunga (interest rate risk) Risiko suku bunga adalah risiko terhadap pendapatan atau modal yang timbul dari pergerakan dalam suku bunga.
  • Risiko likuiditas (liquidity risk) Risiko likuiditas adalah risiko yang dihadapi oleh bank dalam rangka memenuhi kebutuhan likuiditasnya.
  • Risiko transaksi (transaction risk) Risiko transaksi adalah risiko yang prospektif dan banyak berdampak pada pendapatan dan modal. Hal ini merupakan akibat banyaknya praktik penipuan, kesalahan, ketidakmampuan untuk penyerahan produk dan jasa, dan memelihara posisi kompetisi dan penawaran jasa serta memperluas produk layanan internet banking.
  • Risiko komplain (complience risk) Risiko komplain merupakan risiko yang berdampak terhadap pendapatan dan modal akibat adanya pelanggaran terhadap hukum, regulasi, atau standar etik.
  • Risiko reputasi (reputation risk)  Risiko reputasi merupakan sebagian besar dari prospek risiko yang berdampak kepada pendapatan dan modal akibat adanya pendapat negatif dari publik. Hal ini berdampak pada penetapan hubungan baru atau kelanjutan layanan hubungan konvensional.

Tipe-tipe layanan internet banking.

Sebagai dampak yang lebih khusus dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, industri perbankan juga mengalami dampaknya.Banyak bank nasional maupun swasta yang menawarkan layanan jasanya dan fasilitas melalui media elektronik. Sejalan dengan keberadaan layanan jasa perbankan dengan media elektronik, berikut ini tipe-tipe layanan jasa perbankan melalui media website, yaitu (Riswandi, 2005:35-37):

  • Informational Web, Tipe layanan jasa perbankan ini, merupakan tingkat dasar.Dalam tipe ini, layanan jasa perbankan sudah melalui web, tetapi hanya menampilkan informasi saja.Risiko dari model layanan jasa perbankan seperti ini relatif lebih rendah. Server dari bank itu sendiri merupakan jaringan internal. Pada tingkatan ini, layanan internet banking dapat ditetapkan melalui bank atau pihak ketiga.Meskipun risiko relatif rendah, server dan website mungkin mudah untuk di hack. Maka dari itu harus selalu dilakukan pengawasan dan pencegahan.
  • Transactional Web, Pada tingkatan electronic banking ini, nasabah diperbolehkan mengeksekusi transaksi dengan risiko yang cukup tinggi dibanding dengan informational web. Transaksi ini membolehkan nasabah untuk melakukan pembelian barang dan jasa secara online, membuka dan mengakses rekening, pembayaran dan transfer dana. Karena hubungan secara tipikal eksis antara users diluar dan bank, bentuk layanan ini mempunyai risiko yang sangat besar dan dibutuhkan kontrol internal yang tinggi.
  • Wireless, Teknologi ini mengizinkan bank untuk menawarkan kepada nasabah mengenai produk dan jasa baru dengan cara pengembangan channel yang lain. Bank menyediakan produk dan jasa melalui wireless divice (telepon seluler, pager dan personal digital assistants yang mempunyai akses wireless langsung ke bank). Produk dan jasa yang ditawarkan mulai dari informasi, transaksi dan pembelian barang secara online, karena produk dan jasa yang ditawarkan oleh bank bersifat rahasia, keamanan dan pengawasan merupakan hal yang essensial bagi bank yang menyediakan produk dan jasa melalui wireless.
  • PC Banking. Tipe ini membolehkan beberapa transaksi antara sistem bank dan nasabah. Layanan ini menyediakan pengembangan channel secara tertutup melalui telepon (home banking). Transaksi dibatasi untuk komunikasi e-mail, transfer uang, mutasi rekening dan pembayaran via online. Karena server ini menerobos dalam jaringan internal bank, risiko yang dimiliki juga sangat tinggi dalam transaksi. Kelayakan mengontrol juga harus ditempatkan untuk mencegah dan memonitor perubahan manajemen pada akses oknum yang tidak berwenang dari jaringan internal bank dan system komputer.

Baca : Pengertian Pembiayaan Syariah dan Agunan Syariah

Hukum dan data pribadi nasabah pada layanan internet banking.

UU perbankan, di samping mengatur aspek-aspek kegiatan usaha dan kegiatan yang dilarang yang diatur di dalam pasal 6 sampai dengan pasal 10 UU perbankan juga mengatur masalah kerahasiaan bank (bank secrects). Yang dimaksud dengan rahasia bank yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan keterangan mengenai nasabah penyimpan dan simpanannya.

Di dalam pasal 40, dinyatakan bahwa bank harus menjaga kerahasiaan mengenai nasabah penyimpanan dan simpanannya, kecuali dalam hal sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 41, pasal 41A, pasal 42, pasal 43, pasal 44 dan pasal 44A. Sebelumnya, UU perbankan di Indonesia menganut kerahasiaan bank secara luas, yang artinya bahwa segala sesuatu yang menyangkut keterangan dan keadaan keuangan nasabah, baik nasabah penyimpan maupun nasabah debitur (Riswanwadi, 2005: 181-185).

Rachmadi Usman mengemukakan bahwa rahasia bank yang saat ini diberlakukan hanya meliputi tiga hal, yaitu (Riswandi, 2005: 185-186):

  • Keterangan mengenai nasabah penyimpan dan simpanannya, termasuk keteangan mengenai nasabah debitur dan pinjamannya.
  • Kewajiban pihak bank dan pihak terapiliasi untuk merahasiakan keterangan tersebut, kecuali hal itu tidak dilarang oleh undang-undang.
  • Situasi tertentu di mana informasi mengenai nasabah penyimpanan dan simpanan boleh saja diberberkan oleh pihak yang terkena larangan jika informasi tersebut tergolong pada informasi yang dikecualikan atau informasi nasabah penyimpan dan simpanan yang tidak termasuk dalam kualifikasi rahasia bank.

Mengenai kerahasiaan bank ini, tampaknya bank tidak dapat untuk mengatisipasi dinamika bisnis sektor perbankan. Hal ini dapat dilihat dari permasalahan yang muncul dalam layanan internet banking. Akan tetapi, dalam hal pengaturan hukum seperti data pengaturan pribadi nasabah yang diatur berdasarkan pada prinsip kerahasiaan, bank tidak lagi mampu mengatisipasi dampak dari pemanfaatan layanan internet banking.

Ketidakmampuan mengatisipasi pemanfaatan teknologi berupa internet banking dari segi hukum menyebabkan aspek perlindungan hukum menjadi tidak diperhatikan, tidak terkecuali dalam perlindungan atas data pribadi nasabah. Untuk saat ini upaya perbankan yang mengembangkan layanan ini berupaya melindungi para pihaknya dengan membuat ketentuan yang dibentuk oleh pihak perbankan sendiri yang dikenal dengan sebutan self-regulation. Tetapi, pada idealnya pembentukan aturan tersebut harus mencerminkan perlindungan yang seimbang di antara para pihak yang terkait dengan pemanfaatan layanan internet banking.

Relevansi pengaturan hukum atas data pribadi nasabah dalam layanan internet banking.

Untuk mengetahui relevansinya, hukum mengatur data pribadi dalam layanan internet banking. Oleh karena itu, semestinya harus memahami konsep privacy secara umum. Menurut Roger Clarke, privacy adalah “ the interest that individualis have a sustaining a personal space, free from interference by other people and organization”(Riswandi, 2005:192). Dalam realitasnya, privacy dapat diartikan dalam berbagai macam dimensi, diantaranya (Riswandi, 2005: 193-194):

  • Privacy atas orang (privacy of person), Hal ini memerhatikan pada keutuhan dari badan individu, masalahnya meliputi imunisasi wajib, transfusi darah tanpa kesepakatan dan stelisasi wajib.
  • Privacy atas perilaku pribadi (privacy of personal behavior), Berhubungan dengan segala aspek perilaku, tetapi secara khusus untuk hal-hal yang sensitif. Hal ini biasanya meliputi kepada apa yang terkadang dirujuk sebagai media privacy.
  • Privacy atas komunikasi pribadi (privacy of personal communication), Suatu klaim kepentingan individu yang dapat mengomunikasikan antara mereka sendiri, memakai media,tanpa mengawasi secara rutin dari komunikasi mereka melalui orang atau organisasi.
  • Privacy atas data pribadi (privacy of personal data, Klaim individual tentang data mereka sendiri seharusnya tidak dilaksanakan secara otomatis dan tersedia untuk individu lain dan organisasi lain.

Baca : Pengertian BMT (BaitulMal wat Tamwil)

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

78 − = 68