Konsep Adopsi Inovasi Teknologi
   

Saat ini adopsi inovasi teknologi secara universal dianggap sebagai alat penting dalam meningkatkan pelayanan dalam lingkup pemerintahan. Biasanya diterima hari ini bahwa inovasi teknologi memiliki pengaruh signifikan terhadap produktivitas pemerintah. Efek ini hanya akan terwujud sepenuhnya jika, dan kapan, inovasi teknologi tersebar luas dan digunakan. Oleh karena itu, penting untuk memahami faktor-faktor penentu adopsi inovasi teknologi dan model teoritis yang telah muncul dalam menanggapi adopsi inovasi teknologi.

Rogers (1995), Tingkat adopsi adalah kecepatan relatif di mana inovasi diadopsi oleh anggota sistem sosial. Umumnya diukur sebagai jumlah individu yang mengadopsi ide baru dalam periode tertentu, seperti setiap tahun. Jadi tingkat adopsi adalah indikator numerik dari kecuraman kurva adopsi untuk suatu inovasi. Atribut yang dirasakan dari suatu inovasi adalah salah satu penjelasan penting tentang tingkat adopsi suatu inovasi. Dari 49 hingga 87 persen dari varians dalam tingkat adopsi dijelaskan oleh lima atribut: Keuntungan relatif, kompatibilitas, kompleksitas, tlialability, dan observability. Selain lima atribut yang dirasakan dari suatu inovasi, variabel lain seperti (1) jenis keputusan inovasi,

(2) sifat saluran komunikasi yang menyebarkan inovasi pada berbagai tahap dalam proses pengambilan keputusan inovasi, (3) sifat sistem sosial di mana inovasi menyebar, dan (4) sejauh mana upaya promosi agen perubahan dalam membiasakan inovasi, mempengaruhi tingkat adopsi inovasi (Rogers, 1995).

Inovasi teknologi telah menjadi subyek studi teoritis dan empiris yang ekstensif dan sekarang secara luas diakui sebagai penentu penting dari kinerja superior berkelanjutan. Inovasi adalah ide, praktik, atau objek yang dianggap baru oleh individu atau unit lain dari adaptasi. Inovasi dalam TIK, tidak hanya mengacu pada pembaruan teknologi, tetapi juga mengacu pada pembaruan dalam hal pemikiran dan tindakan. Inovasi teknologi terdiri dari dua faktor yang terkait tetapi berbeda: (1) Menemukan inovasi dalam TIK yang ada, (2) Jika tidak berhasil, memutuskan untuk mengadopsi inovasi yang lebih maju (TIK). Di sisi lain, adopsi inovasi teknologi sendiri dapat digambarkan sebagai terdiri dari urutan 3 tahap: inisiasi, adopsi dan implementasi. Pada tahap inisiasi, informasi tentang inovasi teknologi dikumpulkan dan dievaluasi. Selama tahap adopsi keputusan mengenai adopsi inovasi teknologi dibuat dan pada tahap ketiga, jika keputusan itu mendukung adopsi, penerapan inovasi teknologi di perusahaan berlangsung (Hoti, 2015).

Devore (1980), dalam (Sumarno, 2010) menyebutkan bahwa sifat dan karakter teknologi berkembang tergantung pada persepsi seseorang tentang teknologi. Teknologi dapat dipandang sebagai benda (as an object), sebagai proses (as a process), sebagai ilmu pengetahuan (as a knowledge), dan sebagai control (as a volition) Mitcham & Mackey, (1972), dalam (Sumarno, 2010). Teknologi memiliki tiga domain, yaitu: teknologi desain (perancangan), teknologi produksi (pembuatan), dan teknologi pemasaran Jenie (1991) dalam (Sumarno, 2010).

Inovasi teknologi merupakan proses kreativitas yang bersumber dari keahlian atau keterampilan, erat hubungannya dengan kegiatan untuk menghasilkan produk baru atau memodifikasi produk supaya memberikan kegunaan lebih, dan memenuhi selera pasar. Proses adopsi inovasi teknologi merupakan suatu proses penerimaan terhadap hal-hal baru, proses yang terjadi hanya dapat dilihat dari tingkah laku individu yang bersangkutan Wiriatmadja, (1983), dalam (Sumarno, 2010).

Tingkat adopsi adalah kecepatan relatif di mana inovasi diadopsi oleh anggota sistem sosial. Umumnya diukur sebagai jumlah individu yang mengadopsi ide baru dalam periode tertentu, seperti setiap tahun. Jadi tingkat adopsi adalah indikator numerik dari kecuraman kurva adopsi untuk suatu inovasi. Emerson (1995), dalam (Rogers, 1995).

Jenis keputusan inovasi terkait dengan tingkat adopsi inovasi. Inovasi yang membutuhkan keputusan inovasi opsional-individu umumnya diadopsi lebih cepat daripada ketika inovasi diadopsi oleh organisasi. Semakin banyak orang yang terlibat dalam membuat keputusan inovasi, semakin lambat tingkat adopsi. Salah satu cara mempercepat laju adopsi inovasi adalah berusaha mengubah unit keputusan sehingga lebih sedikit orang yang terlibat. Emerson (1995), dalam (Rogers, 1995).

Selanjutnya Emerson (1995), dalam (Rogers, 1995), menjelaskan atribut yang dirasakan dari suatu inovasi adalah salah satu penjelasan penting tentang tingkat adopsi suatu inovasi. Dari 49 hingga 87 persen dari varians dalam tingkat adopsi dijelaskan oleh lima atribut: Keuntungan relatif, kompatibilitas, kompleksitas, tlialability, dan observability. Selain lima atribut yang dirasakan dari suatu inovasi, variabel lain seperti (1) jenis keputusan inovasi, (2) sifat saluran komunikasi yang menyebarkan inovasi pada berbagai tahap dalam proses pengambilan keputusan inovasi, (3) sifat sistem sosial di mana inovasi menyebar, dan (4) sejauh mana upaya promosi agen perubahan dalam membiasakan inovasi, mempengaruhi tingkat adopsi inovasi, dapat dilihat pada gambar sebagai berikut :

Gambar Variabel Yang Menentukan Tingkat Adopsi Dari Inovasi

Gambar Variabel Yang Menentukan Tingkat Adopsi Dari Inovasi
Sumber : Emerson (1995), dalam (Rogers, 1995)

Saluran komunikasi yang digunakan untuk menyebarkan inovasi juga dapat mempengaruhi tingkat adopsi inovasi. Misalnya, jika saluran interpersonal (bukan saluran media massa) menciptakan pengetahuan kesadaran, seperti yang sering terjadi pada pengguna yang kemudian, tingkat adopsi mereka diperlambat. Hubungan antara saluran komunikasi dan atribut inovasi sering berinteraksi untuk memperlambat atau mempercepat laju adopsi. Emerson (1995), dalam (Rogers, 1995).

Saluran media massa, seperti majalah pertanian, memuaskan untuk inovasi yang kurang kompleks, tetapi kontak antarpribadi dengan agen perubahan lebih penting untuk inovasi yang dirasakan oleh petani sebagai lebih kompleks. Jika saluran komunikasi yang tidak pantas digunakan, seperti saluran media massa untuk ide-ide baru yang kompleks, tingkat adopsi yang lebih lambat dihasilkan. Gambar di atas menunjukkan bahwa sifat sistem sosial, seperti norma-norma sistem dan sejauh mana struktur jaringan komunikasi sangat saling berhubungan, juga mempengaruhi tingkat adopsi inovasi. Emerson (1995), dalam (Rogers, 1995).

Tingkat adopsi inovasi juga dipengaruhi oleh tingkat upaya promosi agen perubahan. Hubungan antara tingkat adopsi dan upaya agen perubahan, bagaimanapun, mungkin tidak langsung dan linier. Hasil yang lebih besar dari jumlah aktivitas agen perubahan yang diberikan terjadi pada tahap tertentu dalam difusi inovasi. Tanggapan terbesar untuk mengubah upaya agen terjadi ketika pemimpin opini mengadopsi, yang biasanya terjadi di suatu tempat antara 3 dan 16 persen adopsi di sebagian besar sistem. Inovasi ini kemudian akan terus menyebar dengan sedikit promosi oleh agen perubahan, setelah massa kritis pengadopsi tercapai.

Model Adopsi Inovasi Teknologi

Model adopsi inovasi teknologi secara umum dapat dikelompokkan menjadi 2 model yaitu model adopsi dan model difusi (Fichman, 2000). Penelitian model adopsi difokuskan pada keputusan tunggal untuk mengadopsi atau menerima inovasi teknologi berdasarkan teori adopsi yang relevan seperti technology acceptance model (TAM), theory of planned behavior (TPB). Sebaliknya model difusi digunakan untuk memahami penyebaran inovasi dari waktu ke waktu berdasarkan innovation diffusion theory (IDT). Banyak peneliti difusi SI mendiskusikan inovasi teknologi dengan analisa multi tahap. Ada yang dua tahap, tiga tahap, empat tahap, lima tahap dan enam tahap (Rajagopal, 2002).

Model Difusi

Difusi inovasi teknologi telah menjadi sorotan dalam penelitian inovasi teknologi dan menjadi persoalan penting untuk menilai keberhasilan inovasi teknologi. Penelitian difusi biasanya digunakan untuk membingkai tantangan yang dihadapi difusi dan faktor apa saja yang mempengaruhi difusi. Meskipun proses difusi adalah permasalahan penting dalam difusi tapi sedikit peneliti yang memberikan perhatian terkait hal ini. Para peneliti banyak yang fokus pada proses difusi di level negara sementara untuk difusi di level internal instansi pemerintahan daerah masih sedikit Zhang dkk, (2014) dalam (Wardani, 2016).

Model Adopsi

Tornatzky dan Fleischer, (1990) mengusulkan teknologi, organisasi dan lingkungan (TOE) untuk memahami adopsi inovasi teknologi dalam konteks organisasi. TOE telah banyak dipakai dalam berbagai inovasi teknologi, seperti e-business, RFID, e-scm, ERP, e-procurement, e-government, web service, untuk mengetahui faktor-faktor apa yang mempengaruhi organisasi dalam mengadopsi inovasi teknologi tersebut. Berdasarkan penelitian empiris dengan menggunakan TOE terdapat beberapa konstruk yang berkali-kali teruji berpengaruh terhadap organisasi, seperti teknologi (keuntungan relatif, kerumitan, kesesuaian), organisasi (ukuran organisasi, dukungan manajemen puncak, infrastruktur TIK, keahliaan TIK), dan lingkungan (tekanan kompetitif, kebijakan pemerintah). Dalam penelitian e- government, pengaruh faktor teknologi, organisasi, dan lingkungan dikaji secara terpisah dan masih sedikit yang mengkajinya secara menyeluruh, misalkan dengan TOE Zhang dkk, (2014); Hameed dkk, (2012), dalam (Wardani, 2016). Dengan demikian, berdasarkan teori TOE, dan analisa yang telah dilakukan maka penulis mengusulkan penelitian untuk membuat model konseptual adopsi inovasi teknologi dalam e-government berdasarkan kerangka TOE di instansi pemerintahan.

TOE (Teknologi, Organisasi, Dan Lingkungan)

 Dalam konteks teknologi, fokus utama yang dikaji adalah bagaimana karakteristik teknologi dapat berpengaruh pada adopsi. Rogers (1995), telah mendefinisikan lima karakteristik teknologi yang berpengaruh pada difusi teknologi, yaitu keuntungan relatif, kerumitan, kesesuaian, ketercobaan, dan keteramatan. Keuntungan relatif, kerumitan, dan kesesuaian telah banyak dipakai peneliti sebelumnya dibandingkan ketercobaan dan keteramatan Hameed (2012). Maka penulis menggunakan ketiga karakteristik ini untuk menilai aspek teknologi dalam penelitian ini. Roger (1995), mendefinisikan keuntungan relatif sebagai tingkat dimana inovasi dipersepsikan lebih baik dibandingkan sebelumnya. Kesesuaian didefinisikan sebagai tingkat dimana penggunaan inovasi dipersepsikan sesuai dengan nilai yang ada, kebutuhan, dan pengalaman adopter Sedangkan kerumitan didefinisikan sebagai tingkat dimana penggunaan inovasi dipersepsikan sulit untuk digunakan.

Dalam konteks organisasi, merujuk pada penelitian Hameed dkk (2012), yang telah mereview 151 publikasi terkait adopsi inovasi sejak tahun 1981 hingga 2012, faktor organisasi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi adopsi inovasi dalam organisasi. Ukuran organisasi, dukungan manajemen puncak, keahlian TI, infrastruktur TI, dan sumber daya merupakan faktor organisasi yang ditemukan signifikan berpengaruh pada adopsi inovasi di banyak penelitian. Moon (2005), sependapat bahwa instansi pemerintahan yang besar cenderung mengadopsi inovasi teknologi dibandingkan yang lebih kecil karena instansi pemerintahan sering menghadapi tekanan besar untuk mencari alternatif lain dalam menyediakan layanan publik. Instansi pemerintahan yang besar memiliki sumber daya yang mencukupi untuk investasi inovasi teknologi. Pudjianto dkk (2011), sepakat bahwa dukungan menajemen puncak berpengaruh pada tahap asimilasi e-government. Manajemen puncak berkuasa untuk memberikan pengaruh pada perilaku karyawan dalam organisasi dan memotivasi seluruh organisasi untuk berpartisipasi dalam proses asimilasi e-government.

Dalam konteks lingkungan, penelitian empiris yang telah banyak dilakukan para peneliti adopsi Hameed dkk (2012), menemukan bahwa lingkungan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh signifikan pada adopsi atau difusi inovasi teknologi. Pudjianto dkk (2011), menemukan bahwa lingkungan kompetitif berhubungan signifikan dengan asimilasi e-government. Kompetisi mendorong banyak organisasi mengadopsi teknologi baru untuk bertahan dari persaingan. Instansi pemerintahan saling berkompetisi untuk menyediakan layanan sempurna yang dapat meningkatkan transparansi dan menghindari ketidak percayaan publik.

Tabel 1 : Studi Literatur Yang Menggunakan Kerangka TOE

Referensi Subjek penelitian Konstruksi utama
Thompson S.H.Teo et al. (2009) Adopsi Dan Non Adopsi

E-Procurement Di Singapura

Manfaat langsung yang dirasakan, manfaat tidak langsung, biaya yang dirasakan, ukuran perusahaan, dukungan manajemen puncak, budaya berbagi

informasi, pengaruh mitra bisnis.

Hsiu-Fen Lin et al. (2008) Penentu Difusi E-Business IS infrastruktur, keahlian IS, kompatibilitas organisasi, manfaat e- bisnis, tekanan persaingan, kesiapan

mitra dagang yang diharapkan.

Ming-Ju Pan et al. (2008) Penentu Adopsi ERP Infrastruktur TI, kesiapan teknologi, ukuran, hambatan yang dirasakan, peningkatan produksi dan operasi,

peningkatan produk dan layanan, tekanan persaingan, kebijakan peraturan

Cheng Zhang

et al. (2007)

Difusi TI Infrastruktur TI, peraturan pemerintah

dan promosi, manajemen TI.

Susan K. Lippert et. al. (2006) Adopsi Layanan Web Masalah keamanan, keandalan, deployability, ukuran perusahaan, cakupan perusahaan, pengetahuan teknologi, manfaat yang dirasakan, tekanan persaingan, pengaruh peraturan,

kesiapan mitra yang dapat diandalkan, kepercayaan pada penyedia layanan web.

Zhu & Kraemer, (2006) Asimilasi Inovasi Pada E-Business Kesiapan teknologi, integrasi teknologi, ukuran,      lingkup      global,      hambatan

manajerial,         intensitas         kompetisi, lingkungan peraturan.

Hal ini membuat tinjauan literatur model adopsi inovasi teknologi dengan kerangka TOE memiliki dasar teoritis yang solid, dukungan empiris yang konsisten, dan potensi penerapan pada adopsi inovasi teknologi. Dalam penelitian ini, saya meninjau kembali teori model adopsi pada tingkat pemerintah yang digunakan dalam literatur sistem informasi dan membahas model kerangka (TOE), karena sebagian besar penelitian tentang adopsi inovasi teknologi di tingkat pemerintah daerah masih kurang.

Dalam konteks penelitian adopsi inovasi teknologi sebelumnya telah menggunakan kerangka TOE dalam setting yang berbeda, Dari tinjauan literatur, saya menemukan sebagian besar studi tentang kerangka TOE digunakan untuk memeriksa pada adopsi teknologi dan difusi. Meskipun kerangka kerja TOE telah digunakan dalam berbagai konteks penelitian, namun belum banyak digunakan untuk menganalisis e-government ditingkat pemerintah daerah, maka dapat dilihat pada gambar sebagai berikut :

Gambar 2 Kerangka Kerja Teknologi, Organisasi, Dan Lingkungan (TOE)

Kerangka Kerja Teknologi, Organisasi, Dan Lingkungan (TOE)
Kerangka Kerja Teknologi, Organisasi, Dan Lingkungan (TOE)

Kerangka TOE seperti yang disajikan di atas, kemudian diadaptasi dalam studi adopsi inovasi teknologi, menyediakan kerangka analisis yang berguna dan dapat digunakan untuk mempelajari adopsi inovasi teknologi. Kerangka TOE memiliki dasar teoritis yang solid, dukungan empiris yang konsisten dan potensi penerapan pada domain inovasi teknologi, walaupun faktor spesifik yang diidentifikasi dalam tiga konteks dapat berbeda-beda di berbagai studi.

Tag: , , ,

Diposting oleh hestanto


Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *