Manajemen Risiko Investasi


Manajemen Risiko Investasi

Investasi

Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), investasi adalah penanaman modal, biasanya dalam jangka panjang untuk pengadaan aktiva lengkap atau pembelian saham-saham dan surat berharga lain untuk memperoleh keuntungan. proyek investasi merupakan suatu rencana untuk menginvestasikan sumber-sumber daya, baik proyek raksasa ataupun proyek kecil untuk memperoleh manfaat pada masa yang akan datang.” Pada umumnya manfaat ini dalam bentuk nilai uang. Sedang modal, bisa saja berbentuk bukan uang, misalnya tanah, mesin, bangunan dan lain-lain. Namun baik sisi pengeluaran investasi ataupun manfaat yang diperoleh, semua harus dikonversikan dalam nilai uang.

Suatu rencana investasi perlu dianalisis secara seksama. Analisis rencana investasi pada dasarmya merupakan penelitian tentang dapat tidaknya suatu proyek (baik besar atau kecil) dapat dilaksanakan dengan berhasil, atau suatu metode penjajakkan dari suatu gagasan usaha/bisnis tentang kemungkinan layak atau tidaknya gagasan usaha/bisnis tersebut dilaksanakan.

     

Suatu proyek investasi umumnya memerlukan dana yang besar dan akan mempengaruhi perusahaan dalam jangka panjang. Oleh karena itu dilakukan perencanaan investasi yang lebih teliti agar tidak terlanjur menanamkan investasi pada proyek yang tidak menguntungkan.

Dalam aktivitasnya investasi dikenal dalam dua kegiatan utama (Tandelilin, 2010) yaitu;

  1. Investasi dalam bentuk penempatan pada investasi nyata (real investment) yang secara umum mencakup aset berwujud, seperti tanah, bangunan, mesin- mesin, logam mulia atau pabrik.
  2. Investasi pada aset keuangan (financial asset) dalam bentuk deposito, saham, reksadana, obligasi, atau surat utang negara lainnya.

Tujuan Investasi

Sumber dana yang dipakai untuk investasi berasal dari aset yang dimiliki oleh investor saat ini, atau berupa dana penyertaan, pinjaman ataupun tabungan. Untuk mencapai suatu efektivitas dan efisiensi dalam keputusan investasi terdapat beberapa tujuan dalam melakukan investasi (Tandelilin, 2010), yaitu :

  1. Terciptanya keuntungan dalam investasi yang berkesinambungan (continuity).
  2. Mendapat kesejahteraan atau kehidupan yang lebih baik dimasa yang akan datang.
  3. Dapat membantu untuk mengurangi tekanan inflasi.
  4. Dorongan untuk menghemat pajak

Expected Return

Expected return merupakan keuntungan yang diharapkan oleh seorang investor di kemudian hari terhadap sejumlah dana yang ditempatkannya. Alexander (2009) mengemukakan dalam investasi untuk bisa mengetahui besarnya return yang akan diperoleh secara pasti tidak mungkin dapat dilakukan. Besarnya return suatu investasi hanya dapat ditetapkan dengan metode pengestimasian.

Untuk menghitung return yang diharapkan E(R) dari sekuritas aset tunggal (stand alone risk) dilakukan dengan menghitung return harapan atas sekuritas tersebut (Tandelilin, 2010). Expected return pada dasarnya adalah nilai return rata-rata. Jika nilai distribusi probabilitas return suatu sekuritas diketahui, maka nilai expected return dapat dihitung dengan cara menentukan nilai rata-rata tertimbang distribusi return-nya.

Portofolio Investasi

Fahmi (2009) mengemukakan bahwa portofolio merupakan sebuah bidang ilmu yang khusus mengkaji tentang bagaimana cara yang dilakukan oleh seorang investor untuk meminimalkan risiko dalam berinvestasi, termasuk salah satunya dengan mendiversifikasi risiko tersebut. Diversifikasi portofolio memiliki makna bahwa investor perlu membentuk portofolio melalui pemilihan kombinasi sejumlah aset sedemikan rupa sehingga risiko dapat diminimalkan tanpa mengurangi expected return.

Diversifikasi investasi diartikan sebagai bentuk solusi untuk menghindari risiko dan memperbesar keuntungan atau menaikkan keuntungan. Dengan demikian portofolio dan diversifikasi investasi dilihat sebagai bentuk menganekaragamkan investasi dengan cara menempatkan dana pada lebih dari satu sekuritas atau aset.

Dengan menempatkan keputusan portofolio pada dua sekuritas atau lebih akan lebih baik, jika dibandingkan ditempatkan pada satu sekuritas saja. Markowitz (1952) memberikan wacana pemikiran tentang pemahaman terhadap portofolio dengan berbagai instrumen pendekatan yang dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam berinvestasi. Markowitz menekankan portofolio yang paling baik adalah yang dikelola secara optimal. Model portofolio Markowitz memberikan masukan kepada para investor untuk menghindari risiko namun tetap memberikan return yang optimal dalam setiap keputusan investasi.

Asumsi yang digunakan dalam teori model portofolio Markowitz (1952) didasari oleh tiga asumsi yaitu:

  1. Waktu yang digunakan hanya satu periode
  2. Tidak ada biaya transaksi
  3. Preferensi investor hanya didasarkan pada ekspektasi dan risiko dari portofolio.

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

73 + = 80