Pola Manajemen Laba : Wiki


Pola Manajemen Laba

Pola manajemen laba menurut Scott (2000) dalam Wahyono, dkk (2013) dapat dilakukan dengan cara:

Taking a Bath

     

Taking a bath terjadi pada saat reorganisasi seperti pengangkatan CEO baru. Teknik ini mengakui adanya biaya-biaya pada periode yang akan datang dan kerugian periode berjalan sehingga mengharuskan manajemen membebankan perkiraan-perkiraan biaya mendatang akibatnya laba periode berikutnya akan lebih tinggi.

Income Minimazation

Dilakukan pada saat perusahaan pada saat perusahaan mengalami tingkat profitabilitas yang tinggi sehingga jika laba periode mendatang diperkirakan turun drastis dapat diatasi dengan mengambil laba periode sebelumnya.

Income Maximization

Dilakukan pada saat laba menurun. Tindakan atas income maximization bertujuan untuk melaporkan net income yang tinggi untuk tujuan bonus yang lebih besar. Pola ini dilakukan oleh perusahaan untuk menghindari pelanggaran atas kontrak hutang jangka panjang.

Income Smoothing

Dilakukan perusahaan dengan cara meratakan laba yang dilaporkan sehingga dapat mengurangi fluktuasi laba yang terlalu besar karena pada umumnya investor menyukai laba yang relatif stabil.

Offsetting Extraordinary/Unusual Gains

Teknik ini dilakukan dengan memindahkan efek-efek laba yang yang tidak biasa atau temporal yang berlawanan dengan trend laba.

Aggresive Accounting Applications

Teknik yang diartikan sebagai salah saji (misstatement) dan dipakai untuk membagi laba antar periode.

Timing Revenue dan Expense Recognition

Teknik ini dilakukan dengan membuat kebijakan tertentu yang berkaitan dengan timing suatu transaksi. Misalnya pengakuan prematur atas pendapatan.

Terdapat dua motivasi manajer dalam melakukan manajemen laba, yaitu motivasi oportunistik dan motivasi signaling (Chen dan Cheng, 2002). Motivasi-motivasi tersebut dapat dijelaskan dengan teori keagenan dan teori signaling. Teori keagenan telah dijelaskan dalam subbab sebelumnya. Teori signaling dapat dijelaskan bahwa jika kinerja perusahaan membaik, manajer akan memberikan sinyal dengan menurunkan laba akuntansi, sebaliknya apabila kinerja perusahaan memburuk manajer akan memberikan sinyal dengan menaikkan laba.

Perbedaan pemahaman dan motivasi terhadap praktik manajemen laba mendorong semakin berkembangnya model empiris yang digunakan untuk mengidentifikasi aktivitas rekayasa manajerial ini. Secara umum ada 3 kelompok model empiris manajemen laba yang diklasifikasikan atas dasar basis pengukuran yang digunakan yaitu (Sulistyanto, 2008):

  1. Model berbasis akrual, merupakan model yang menggunakan discretionary accrual sebagai proksi manajemen laba. Model manajemen laba ini dikembangkan oleh Healy (1985), DeAngelo (1986), Jones (1991) serta Dechow, Sloan dan Sweneey (1995).
  2. Model yang berbasis specific accrual, yaitu pendekatan yang menghitung akrual sebagai proksi manajemen laba dengan menggunakan item laporan keuangan tertentu dari industri tertentu pula. Model ini dikembangkan oleh Mc Nichols dan Wilson (1988), Petroni (1992), Beaver dan Engel (1996), Bebeish (1997) serta Beaver dan Mc Nichols (1998).
  3. Model distribution of earnings dikembangkan oleh Burgtahlel dan Dichev (1997), Degeorge, Patel, dan Zeckhauser (1999), serta Myers dan Skinner (1999).

Manajemen laba dapat dilakukan melalui 3 pola, income increasing, income decreasing dan income smooting. Masing-masing pola tersebut mempunyai tujuan tertentu yang lebih spesifik. Scott (2000) dalam Nasution dan Setiawan (2007) menyatakan bahwa manajemen laba dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya menurunkan laba (income decreasing earnings management). Salah satu tujuan penurunan laba ini adalah untuk menghindari pembayaran pajak yang terlalu besar. Dengan laba bersih yang yang rendah, maka pajak yang dikenakan kepada perusahaan juga rendah. Income increasing bertujuan untuk menghindari kerugian, menghindari pelaporan penurunan laba dan menghindari kegagalan dalam beat analyst forecast. Sedangkan income smooting atau perataan laba biasanya dilakukan oleh para manajer untuk menstabilkan tingkat laba mereka dalam rangka menjaga harga pasar saham. Lebih lanjut, Widowati (2009) dalam Setiawati (2010) menyatakan ada beberapa pertimbangan atau motivasi perusahaan dalam melakukan praktik manajemen laba :

1) Kompensasi manajer yang dikaitkan dengan laba akuntansi.
2) Pertimbangan pasar modal.
3) Penggunaan angka-angka akuntansi dalam kesepakatan utang atau kredit.
4) Pertimbangan pajak
5) Pertimbangan peraturan yang berlaku.
6) Memperoleh atau mempertahankan kendali atas suatu perusahaan dan,
7) Pertimbangan Karyawan.

Dalam konteks penelitian ini motivasi perusahaan dalam melakukan praktik manajemen laba lebih dikaitkan pada pertimbangan peraturan yang berlaku, mengingat ketatnya regulasi industri perbankan di Indonesia.

 

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

44 − = 41