Transformasi Digital Perbankan Indonesia

Implementasi sebuah transformasi digital perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak untuk memastikan perubahan berjalan dengan baik dan benar. Dukungan dari pemerintah secara menyeluruh baik dari sisi regulasi akan membantu membentuk ekosistem yang nyaman bagi pelaku usaha melakukan sebuah transformasi digital.

Digitalisasi-pun menghadirkan era ekonomi digital yang serba instan, cepat, dan transparan menggantikan era ekonomi konvensional. Layanan transportasi umum dan kurir pengiriman berbasis online bisa dikatakan, hanya sebagian kecil dari arak-arakan ekosistem ekonomi digital.

     

Kita semua telah menjadi saksi bahwa era transformasi digital menjadi sebuah kenyataan yang tidak bisa terelakan lagi. Transformasi oleh Rosabeth Moss Kanter, Professor Manajemen Harvard Business School diartikan sebagai sebuah perubahan dari yang sebelumnya menjadi baru sama sekali. Sedangkan, Digital berasal dari kata Digitius yang dalam  bahasaYunani berarti jemari, menggambarkan bilangan yang menjadi basis data system computer.

Saat ini adalah era digital, tidak ada pekerjaan atau aktivitas yang tidak bersentuhan dengan peralatan digital, mulai dari kehidupan rumah tangga hingga aktivitas perkantoran dan pemerintahan. Bahkan ada prediksi Lembaga Riset International Data Corporation Indonesia (IDC) bahwa 33% perusahaan global akan gulung tikar jika tak segera mengadopsi teknologi cloud dan melakukan transformasi digital. Akses rumah tangga di Indonesia pun tidak sedikit yang sudah menggunakan jaringan internet, terutama di Pulau Jawa dan Sumatera. Demikian juga lembaga keuangan, seperti perbankan yang tujuan utamanya untuk pelayanan terbaik bagi nasabah.

Dalam dunia bisnis, transformasi digital sangat dibutuhkan oleh seluruh perusahaan agar tidak tertinggal dengan perusahaan yang telah mengadopsi digitalisasi teknologi. Apalagi, pada era digitalisasi seperti ini hampir seluruh perusahaan start up sudah mulai menerapkan digitalisasi teknologi dan menyiapkan diri untuk bertarung dengan perusahaan mapan yang belum melakukan transformasi digital.

Sejumlah perusahaan kini juga telah mulai menerapkan transformasi digital di Indonesia. Sebagai ilustrasi perusahaan transportasi seperti taksi yaitu Blue Bird dan Express kini mulai menerapkan teknologi berbasis aplikasi untuk melakukan pemesanan transportasi secara online. Serupa dengan layanan transportasi berbasis aplikasi seperti Uber, Grabcar dan Go Car.

Selain cloud dan data center, Internet of Things (IoT) masih menjadi topik hangat yang dibicarakan para perusahaan untuk mendukung bisnis secara digital. Bisnis digital kini juga dikenal sebagai satu istilah eksplisit yang digunakan untuk menggambarkan satu ekosistem bisnis yang mendominasi cara berbisnis.

Kebutuhan Nasabah

Ledakan penggunaan smartphone, tablet, Internet, aplikasi yang saling terhubung memungkinkan relasi business-to-business (B2B) dan bisnis ke konsumen (B2C) berjalan dengan baik. Ini membuat perusahaan mampu berinteraksi secara personal, langsung dan real time dengan konsumen dan partner bisnis tanpa batasan.

Sektor keuangan pun tak luput dari pemanfaatan digitalisasi dengan orientasi pelayanan sepenuhnya kepada nasabah. Seperti diungkapkan Jasmi, Direktur Grup Pengawasan Spesialis III Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahwa di lingkup perbankan juga dikenal dengan digital banking yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan nasabah dengan memanfaatkan teknologi digital, baik aplikasi, perangkat sebagai delivery channel yang dapat diakses kapan saja dan dimana saja.

Menurutnya, dengan pertimbangan berbagai faktor internal dan eksternal pada tahap awalnya, digital banking di Indonesia dimulai dengan fase digital branch yaitu adanya sarana yang secara khusus memproses registrasi nasabah dan pembukaan rekening secara mandiri.

Digital banking, menurut Jasmi, masih dalam tahap pengenalan di industri perbankan Indonesia, karena itu penting bagi semua untuk meyakini keandalan keamanan transaksi digital banking-nya dengan memastikan keabsahan data nasabah melalui pemanfaatan KTP elektronik sehingga ada kepercayaan dari semua pihak.

“Semua ini menuju dua fase yaitu kantor yang menyediakan sarana elektronik atau office digital branch dan fase banking anywhere atau bank yang menyediakan layanan digital banking sehingga nasabah dapat menggunakan media digitalnya kapan pun dan di mana pun mereka berada,” jelas Jasmi.

BANKING: Account & Transaction

Branches

  • Account opening
  • Investment
  • Bancassurance
  • Cash in/out
  • Loan/Trade/Treasury
  • Advisory

Video Banking

  • Account opening through video call
  • Investment
  • Bancassurance
  • Cash in/out

Internet Banking

  • Transfer
  • Payment/purchase
  • Cash management

ATM/EDC

  • Cash in/out
  • Transfer
  • Payment/purchase

Mobile Banking

  • Transfer
  • Payment/purchase
  • NFC transaction

Other Institution

E-Commerce

Housing Broker, Utility Service Provider, On-line shop

 E-Advisory

Financial Planner

Others

Documents (Cloud Storage), Interaction (Email, Chat, Video Chat, Games)

 

Characteristics:

  • Customer needs rather than product based oriented
  • Single channel
  • Self service
  • Any time, any where
  • Advanced data analysis
  • Financial & Non Financial Product and Services

 

“Transformasi Digital Banking Untuk Bisnis yang Berkelanjutan”

Digital banking secara prinsip tidak berbeda dengan e-banking, tapi karakteristik digital banking lebih luas, karena nasabahnya dapat mengakses seluruh layanan perbankan melalui kumpulan e-banking di satu tempat (digital branch) dan atau melalui satu jenis e-banking pada perangkat milik bank/nasabah (omni channel).

Sementara e-banking lebih terbatas pada layanan perbankan yang memungkinkan nasabah memperoleh informasi, berkomunikasi dan transaksi melalui media elektronik seperti ATM, phone banking, sms banking, electronic fund transfer, internet banking, dan mobile banking, secara multi channel.

Ada pokok aturan lainnya yang dipatuhi seperti tentang penerapan digital banking: (1) Fase Digital Branch dan (2) Fase Banking Anywhere. Selain itu ada aturan mengenai jenis digital branch: (1) Gerai, (2) Setara Kantor Kas, dan (3) Setara Kantor Cabang Pembantu.

“Ada juga aturan tentang standardisasi infrastruktur digital branch, persyaratan penyelenggaraan digital branch, tata cara dan prosedur penyelenggaraan digital branch, proses registrasi dan pembukaan rekening nasabah pada digital branch dan proses verifikasi transaksi nasabah, serta kewajiban untuk menggunakan KTP-elektronik.

Dalam penggunaan IT di sektor perbankan juga harus menerapkan manajemen risiko dengan fungsi, tugas dan tanggung jawab manajemen di antaranya berupa ketersediaan Komite Pengarah Teknologi Informasi (Information Technology Steering Committe). “Ketersediaan SDM [Sumber Daya Manusia] dengan kemampuan teknis yang memadai dalam penyelenggaraan IT sangat diperlukan, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas,”

Penerapan manajemen risiko dalam penggunaan IT juga menyangkut pengembangan dan pengadaan IT, aktivitas operasional IT, jaringan komunikasi, penggunaan pihak penyedia jasa IT, Disaster Recovery Plan (DRP), pengamanan informasi, audit intern IT, dan electronic banking. Ketentuan lain yang terkait dengan penempatan data center dan DRC adalah Peraturan Pemerintah (PP) No. 82/2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *