Bisnis Retail


Bisnis Retail

Di dalam bisnis retail sendiri dapat diklasifikasikan dengan cara meneliti retailer-retailer kecil dan besar sebagai pengelompokan yang terpisah.

Retailer Kecil

     

Bisnis retail kecil digambarkan sebagai retailer yang berpenghasilan di bawah $500.000 per tahun, yang mempunyai ciri khas adanya spesialisasi pada pekerjaan-pekerjaan yang kecil. Pemilik toko secara umum bertanggung jawab seluruhnya terhadap tugas penjualan dan manajemen. Pemilik toko juga mempunyai tanggung jawab, membeli, menjual, mengatur jadwal kerja, membuat rencana promosi penjualan, dan memberikan jaminan kerja bagi para pegawainya. Kebanyakan kepemilikan toko pada bisnis retail kecil ini dimiliki oleh seorang individu (individual proprietorship). Tapi bagaimanapun juga retailer kecil ini termasuk dalam suatu kelompok patnership dan corporations (kerjasama).

Retailer Besar

Pada saat ini retailing dikuasai oleh organisasi-organisasi besar. Organisasi-organisasi besar tersebut adalah: The Department store, Chain Organization (Organisasi berantai), Supermarket, Catalog store, Wharehouse Outlet,Superstore dan mail-order house provide the majority of retail seles (pesanan melalui e-mail yang meyediakan mayoritas dari penjualan retail) Department store merupakan salah satu dari retailer besar. Hypermarket adalah institusi retail yang menawarkan sejumlah besar barang-barang keras maupun barang-barang lunak, menyediakan banyak pelayanan ke konsumen, memiliki volume penjualan yang besar, dan mempekerjakan sejumlah besar orang yang khusus untuk beberapa jenis pekerjaan

Kinerja Bisnis Retail

Kinerja retail menurut (Pearce, 1998; dikutip dari Eun Jing Hwang, 2005) berpendapat bahwa kinerja retail dapat berfokus dan terjadi pada beberapa tingkat dalam perusahaan. Ia mengatakan bahwa ukuran pada kinerja retail digunakan sangat baik pada bentuk dari tingkatan dalam perusahaan. Keseluruhan ukuran dari kedua-duanya kinerja keuangan (pengembalian saham modal) dan kinerja pemasaran (posisi image pada persaingan pasar) digunakan pada tingkat perusahaan, diamana unit, asset digunakan pada ukuran kinerja, seperti kontribusi dollar per meter persegi pada ruang penjualan, digunakan secara variasi pada tingkat-tingkat operasi (keputusan, wilayah, toko, departemen). Banyak tingkat barang-barang (kelompok, klasifikasi, kategori, garis, bentuk-bentuk) digunakan untuk indikator membeli dan menjual, seperti pengembalian keuntungan bersih pada laba dalam inventari dan laba produk langsung dalam ukuran kinerja.

Fungsi Ritel

Ritel memiliki beberapa fungsi penting yang dapat meningkatkan nilai produk dan jasa yang dijual kepada konsumen dan memudahkan distribusi produk – produk tersebut bagi perusahaan yang memproduksinya. Menurut (Utami, 2006:10 ) Fungsi tersebut adalah sebagai berikut :

Menyediakan berbagai jenis produk dan jasa

Konsumen selalu mempunyai pilihan sendiri terhadap berbagai jenis produk dan jasa. Untuk itu, dalam fungsinya sebagai peritel, mereka berusaha menyediakan beraneka ragam produk dan jasa yang dibutuhkan konsumen. ‘

Memecah

Memecah (breaking bulk) disini berarti memecah beberapa ukuran produk menjadi lebih kecil, yang akhirnya menguntungkan produsen dan konsumen.

Penyimpan persediaan

Fungsi utama ritel adalah mempertahankan persediaan yang sudah ada, sehingga produk akan selalu tersedia saat konsumen menginginkannya.

Penyedia jasa

Ritel juga dapat mengantar produk hingga dekat ke tempat konsumen, menyediakan jasa yang memudahkan konsumen dalam membeli dan menggunakan produk, maupun menawarkan kredit sehingga konsumen dapat memiliki produk dengan segera dan membayar belakangan.

Meningkatkan nilai produk dan jasa

Dengan adanya beberapa jenis barang atau jasa, maka untuk suatu aktivitas pelanggan mungkin memerlukan beberapa barang.

Macam-Macam Gerai Retail

Bisnis eceran atau retail dapat dibedakan dalam dua bentuk, yaitu retail dengan toko dan non-toko. Retail dengan toko atau toko eceran memiliki bermacam-macam bentuk, diantaranya adalah:

a. Toko khusus (specialty store)

Toko ini menyediakan lini produk yang sempit dengan ragam barang yang cukup dalam untuk setiap lini.

b. Departement store

Toko ini menjual beberapa lini produk . Biasanya pakaian, perabot rumah tangga, barang-barang rumah tangga dengan masing-masing lini dioperasikan sebagai suatu departemen yang terpisah yang dikelola oleh seorang bagian pembelian khusus.

c. Supermarket

Toko dengan relatif besar berbiaya murah, bermarjin rendah, bervolume besar dan diciptakan untuk melayani berbagai kebutuhan konsumen.

d. Convenience store

Toko dengan ukuran yang relatif kecil, berlokasi di daerah pemukiman, waktu operasional toko cukup lama dan menjual barang-barang yang perputarannya cukup tinggi namun dalam jumlah yang terbatas.

e. Superstore

Toko yang ukurannya relatif besar yang ditujukan untuk memenuhi keseluruhan kebutuhan konsumen untuk bahan makanan dan bukan makanan. Termasuk di dalamnya supercenter, kombinasi supermarket dan toko diskon yang menyediakan barang-barang lintas jenis. Category killer dan hypermarket juga termasuk kategory superstore.

f. Toko diskon (discount store)

Toko ini menjual barang dagangan standar dengan harga yang lebih rendah dengan menerima margin yang rendah dan menjual barang dengan jumlah yang banyak. Toko diskon yang sebenarnya menjual produk dengan harga rendah, sebagian menjual merek-merek nasional, bukan barang-barang inferior.

g. Retail off-price

Toko yang menjual barang berkualitas tinggi . Barang yang dijual sering merupakan barang-barang sisa, stok lebih dan barang-barang yang produksinya kurang sempurna yang diperoleh dengan harga rendah dari harga standar dan menjualnya dengan harga yang lebih rendah dari toko eceran lainnya.

h. Factory Outlet

Toko yang dimiliki oleh pabrik dan dijalankan oleh pabrik dan biasanya menjual barang-barang pabrik tersebut yang berlebih, tidak dilanjutkan produksinya atau barang-barang cacat. Biasanya harga yang ditawarkan tidak lebih dari lima puluh persen dibawah harga eceran.

Nonstore Retailing

Selain toko eceran, bisnis retail juga ada yang berkonsep non-toko. Walaupun sebagian besar barang dan jasa dijual melalui toko, pengecer nontoko (nonstore retailing) selama ini berkembang lebih cepat bila dibandingkan dengan pengecer toko ( Kotler, 1999). Pengecer non toko antara lain direct marketing, direct selling dan automatic vending.

a. Direct marketing (pemasaran langsung)

Dilakukan dengan komunikasi langsung dengan konsumen yang membidik secara seksama untuk mendapatkan respon langsung dari konsumen. Pemasaran langsung ini digunakan untuk memperoleh langsung konsumen yang menjadi target pasar.

b. Direct selling (penjualan langsung)

Penjualan langsung sering juga disebut dengan door-to-door retailing. Keuntungan dari penjualan ini adalah kenyamanan dan perhatian yang diberikan kepada konsumen jauh lebih besar. Akan tetapi tingginya biaya perekrutan, pelatihan, gaji dan motivasi bagi tenaga kerja berdampak pada harga produk yang jadi lebih tinggi.

c. Automatic vending (penjualan otomatis)

Penjualan ini dilakukan melalui mesin penjual yang secara otomatis akan mengeluarkan produk setelah konsumen memasukan uang logam.

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

40 + = 49