E-Money (Electronic Money)


E-Money

Pengertian e-money

Pengertian e-money mengacu pada definisi yang dikeluarkan oleh Bank for International Settlement (BIS) dalam salah satu publikasinya pada bulan Oktober 1961. Dalam publikasi tersebut e-money didefinisikan sebagai “stored-value or prepaid products in which a record of the funds or value available to a consumer is stored on an electronic device in the consumer’s possession” (produk stored-value atau prepaid dimana sejumlah nilai uang disimpan dalam suatu media elektronis yang dimiliki seseorang).

Lebih lanjut dijelaskan bahwa nilai uang dalam e-money akan berkurang pada saat konsumen menggunakannya untuk pembayaran. Disamping itu emoney yang dimaksudkan disini berbeda dengan “single-purpose prepaid card” lainnya seperti kartu telepon, sebab e-money yang dimaksudkan di sini dapat digunakan untuk berbagai macam jenis pembayaran (multi- purposed).

     

E-money yang dimaksudkan disini juga berbeda dengan alat pembayaran elektronis berbasis kartu lainnya seperti kartu kredit dan kartu debet. Kartu kredit dan kartu debet bukan merupakan “prepaid products” melainkan “access products”. Secara umum perbedaan karakteristik antara “prepaid product” dan “access product” adalah sebagai berikut:

Prepaid product (e-money)

  • Nilai uang telah tercatat dalam instrumen e- money, atau sering disebut dengan stored value.
  • Dana yang tercatat dalam e-money sepenuhnya berada dalam penguasaan konsumen.
  • Pada saat transaksi, perpindahan dana dalam bentuk electronic value dari kartu e-money milik konsumen kepada terminal merchant dapat dilakukan secara off-line. Dalam hal ini verifikasi cukup dilakukan pada level merchant (point of sale), tanpa harus on-line ke komputer issuer.

Accessp roduct (kartu debet dan kartu kredit)

  • Tidak ada pencatatan dana pada instrumen kartu.
  • Dana sepenuhnya berada dalam pengelolaan bank, sepanjang belum ada otorisasi dari nasabah untuk melakukan pembayaran.
  • Pada saat transaksi, instrumen kartu digunakan untuk melakukan akses secara on-line ke komputer issuer untuk mendapatkan otorisasi melakukan pembayaran atas beban rekening nasabah, baik berupa rekening simpanan (kartu debet) maupun rekening pinjaman (kartu kredit). Setelah di-otorisasi oleh issuer, rekening nasabah kemudian akan langsung didebet. Dengan demikian pembayaran dengan menggunakan kartu kredit dan kartu debet mensyaratkan adanya komunikasi on-line ke komputer issuer.

 

Manfaat e-money

Beberapa manfaat atau kelebihan dari penggunaan e-money dibanding dengan uang tunai maupun alat pembayaran non-tunai lainnya, antara lain:

  • Lebih cepat dan nyaman dibandingkan dengan uang tunai, khususnya untuk transaksi yang bernilai kecil (micro payment), disebabkan nasabah tidak perlu menyediakan sejumlah uang pas untuk suatu transaksi atau harus menyimpan uang kembalian. Selain itu, kesalahan dalam menghitung uang kembalian dari suatu transaksi tidak terjadi apabila menggunakan e-money.
  • Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu transaksi dengan e-money dapat dilakukan jauh lebih singkat dibandingkan transaksi dengan kartu kredit atau kartu debit, karena tidak harus memerlukan proses otorisasi on-line, tanda tangan maupun PIN. Selain itu, dengan transaksi off-line, maka biaya komunikasi dapat dikurangi.
  • Electronic value dapat diisi ulang kedalam kartu emoney melalui berbagai sarana yang disediakan oleh issuer.

Keuntungan penggunaan e-money:

  • Kenyamanan konsumen, dengan fasilitas canggih yang dimiliki e-money, konsumen tidak perlu membawa uang tunai untuk transaksi bernilai kecil.
  • Meningkatkan kepercayaan konsumen, dengan adanya kode yang digunakan untuk mengunci sistem dalam kartu, memungkinkan pengguna untuk melakukan penguncian terhadap uang yang ada di smart card, jadi jika kartu hilang atau dicuri, orang lain tidak akan dapat menggunakan uang itu.
  • Keuntungan bagi issuer, sistem e-money jauh lebih murah untuk beroperasi dari model pembayaran lainnya, yang merupakan keuntungan besar. Kewajiban untuk penerbit juga minim, yang mengurangi biaya dan meningkatkan keuntungan.

Kekurangan penggunaan e-money:

Banyaknya sistem kartu yang muncul dimanamana, mejadikan konsumen bingung dalam penggunaan kartu-kartu tersebut. Bahkan mungkin tidak dapat menggunakan kartu di mana-mana. Jika pengguna saja bingung dalam penggunaannya, fungsi e-money sebagai pengganti uang fisik akan hilang. Hal ini akan berdampak pada keuntungan issuer yang akan menurun bahkan null. Di samping kebingungan yang ada di masyarakat, peraturan yang belum pasti peraturan untuk uang elektronik masih belum jelas, sehingga pihak issuer belum bisa menyediakan terlalu banyak e-money di pasaran.

 

Fitur dan Transaksi dalam e-money

Fitur e-money

  1. transferability, fitur yang memberikan batasan transaksi e-money. Dalam hal ini adalah transfer yang dilakukan secara offline oleh nasabah dari satu ke kartu yang lain.
  2. otorisasi on-line, otorisasi yang dilakukan adalah dimana card issuer melakukan proses validasi atas transaksi yang dilakukan oleh nasbah. Hanya saja dengan adanya fitur ini, tedapat biaya tambahan biaya komunikasi dan penambahan waktu dalam pemyelesaian suat transaksi. Fitur ini diterapkan dalam pengisisan ulang.
  3. information collection, penyelenggara melakukan collect data terhadap nasabah yang digunakan dalam pelacakan jika terjadi fraud.
  4. pengisian ulang, uang yang ada pada smart card (e-money) hanya dapat digunakan sekali, jika dana telah habis maka tidak dapat digunakan lagi. Untuk mengatasi hal ini, nasabah dapat melakukan pengisian ulang dengan cara transfer dari rekening, pembayaran rekening atau dengan kartu kredit.
  5. single atau multiple currencies, e-money di desain hanya menggunakan mata uang yang beredar di negara penerbit e-money.
  6. single atau multiple aplications, Smart card yang bertindak sebagai uang elektronik dapat ditambahkan aplikasi yang lain. Jadi smart card yang tadinya hanya difungsikan sebagai uang elektronik, juga dapat digunakan sebagai kartu kredit dan kartu debet. Selain itu juga dapat ditambahkan produk yang nonpembayaran/ non-payment.

Transaksi dalam e-money

Transaksi yang terjadi pada e-money hanyalah antara kartu konsumen dengan terminal merchant. Namun secara luas, transaksi yang terjadi dalam emoney adalah :

a). Penerbitan (issuance) dan pengisian nilai uang (top-up atau loading).

Smart card yang diterbitkan oleh issuer dapat dilakukan pengisisan ulang melalui ATM dan terminal-terminal yang ditentukan oleh issuer. Pengisian ulang dilakukan secara on-line, namun juga dapat dilakukan secara offline.

b). Transaksi pembayaran

Prosedur yang dilakukan dalam pembayaran menggunakan e-money adalah:

  • Nasabah meng-insert/mengarahkan kartu ke terminal merchant
  • Terminal merchant memeriksa kecukupan saldo e-money terhadap nominal yang harus dibayar
  • Jika saldo pada kartu e-money lebih besar dari nominal transaksi, terminal memerintahkan kartu untuk mengurangi saldo pada kartu sejumlah nominal transaksi · Kartu milik konsumen kemudian memerintahkan terminal untuk menambah saldo pada terminal sebesar nominal transaksi

c). Deposit, Collection

  • Deposit/Refund, pada beberapa produk, nasabah pemegang e-money dapat melakukan refund atau penyetoran kembali dana pada e-money yang tidak terpakai/masih tersisa untuk didepositkan ke dalam rekeningnya.
  • Collection, proses collection biasanya dilakukan oleh merchant yaitu penyetoran electronic value yang diterima oleh merchant dari konsumen kepada issuer untuk untung rekening merchant.

 

Tantangan Implementasi E-Money

Bank Indonesia (BI) menilai, belum berkembangnya model pembayaran e-money di Indonesia salah satunya dikarenakan belum adanya model bisnis yang menyatukan regulator dan pelaku usaha dalam mengintegrasikan sistem pembayaran, sehingga masih tidak interoperable. Bisnis model uang elektronik di Indonesia masih belum interoperable (belum terintegrasi), sehingga masih kecil transaksi yang ada menggunakan e-money. Belum berkembangnya e-money di Indonesia, disebabkan karena masyarakat masih memandang alat pembayaran menggunakan e-money cukup rumit dan tidak menjangkau semua lapisan. E-money yang ada belum bisa digunakan untuk semua merchant yang ada. Ada batasan-batasan. Jadi bagi masyarakat belum fleksibel. Belum berkembangnya e-money ini juga terlihat dari kebijakan yang dimiliki pemerintah, yaitu belum adanya sinergi antar lembaga pemerintah dalam membuat strategi pengembangan uang elektronik untuk kepentinga nasional dalam skala luas. Bisa dikatakan Bank Indonesia belum secara komprehensif mengatur tentang standar keamanan seperti halnya instrumen pembayaran lainnya. Karena itu, dibutuhkan prinsipal agar mengatur semua transaksi yang ada menggunakan e-money ini. Dengan adanya hal tersebut, maka dibutuhkan satu kartu saja untuk melakukan transkasi kesemua merchant yang ada.

Dengan adanya prinsipal dan integrasi antara regulator dan pelaku usaha, maka akan tercipata suatu mekanisme alat pembayaran, yaitu e-money, yang bisa berkembang di Indonesia. Karena e-money bersifat fleksibel dan mudah digunakan.

 

Model Bisnis e-money di Indonesia

Secara konseptual model penyelenggaraan emoney yang ideal adalah model dengan sistem dimana satu kartu yang dimiliki oleh konsumen dapat digunakan secara luas. Dengan kata lain satu kartu dapat digunakan oleh masyarakat untuk berbagai macam pembayaran pada berbagai merchant yang berbeda. Untuk memiliki model pengembangan emoney yang ideal seperti itu, maka secara konsep pengembangan e-money di Indonesia dapat dikembangkan melalui 3 (tiga) model sebagai berikut:

Model Single Issuer

Dalam model ini, secara nasional hanya ada satu issuer yang menerbitkan e-money, dimana system operator dapat dilakukan oleh issuer itu sendiri atau oleh pihak lain. Dalam model ini issuer harus memiliki kemampuan untuk membangun jaringan sistem yang luas ke berbagai merchant. Dengan tingkat penerimaan e-money sebagai alat pembayaran yang cukup luas, maka e-money tersebut dapat menarik minat masyarakat luas untuk menggunakannya. Keberadaan single issuer bisa terbentuk melalui policy driven atau market driven.

Model Multi Issuer- Single Operator

Dalam model ini secara nasional bisa terdapat lebih dari satu issuer yang menerbitkan e-money, namun hanya ada satu system operator yang menyediakan infrastruktur penyelenggaraan e-money. Karena semua issuer menggunakan system operator yang sama maka tidak ada issue interoperability dalam model ini. Contoh sistem multi issuer yang menggunakan satu operator yang sama adalah Cash Card di Singapore dan MEPS Cash di Malaysia. Namun secara nasional di kedua negara tersebut masih terdapat produk-produk lain yang diterbitkan oleh issuer yang berbeda dengan system operator yang berbeda pula, dimana diantara kedua produk yang diselenggarakan oleh system operator yang berbeda tersebut tidak interoperable satu sama lain.

Sebagaimana halnya dengan model pertama, pengembangan model seperti ini juga bisa terbentuk melalui policy driven atau market driven selain itu juga perlu ada kesepakatan dari berbagai pelaku pasar untuk menggunakan system operator yang sama.

Model Multi Issuer – Multi Operator

Model yang ketiga pada prinsipnya hampir sama dengan model yang kedua dimana secara nasional bisa terdapat lebih dari satu issuer yang menerbitkan emoney, namun masing-masing issuer dapat menggunakan system operator berbeda. Karena masing-masing issuer menggunakan system operator yang berbeda, agar setiap e-money yang diterbitkan oleh masing-masing issuer itu dapat diterima secara luas, maka perlu ada interoperability dan konvergensi antar sistem e- money yang dikembangkan serta standarisasi dalam penyelenggaraan e-money oleh berbagai issuer dan system operator tersebut.

 

Strategi Adopsi Teknologi E-Money

Dari penjelasan yang telah dipaparkan, dilihat dari segi manfaat dan prosedur yang ada harusnya emoney dapat diterapkan di Indonesia. Prosedurnya tidak rumit karena diselaraskan dengan perkembangan TI yang ada. Masyarakat Indonesia juga bukan lagi masyarakat awam yang gagap teknologi. Kalaupun ada, hanya perlu diadakan demo beberapa kali dan masyarakat pun akan cepat memahaminya.

 

Resiko Keamanan (Security Risk)

Motivasi utama seseorang untuk melakukan kejahatan terhadap e-money adalah untuk memperoleh keuntungan finansial. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti menciptakan produk palsu, mencuri kartu atau data e- money milik orang lain. Jika e-money yang dipalsukan atau dicuri itu kemudian dapat ditukarkan ke dalam bentuk uang tunai atau aset lain maka hal ini tentunya dapat menyebabkan kerugian bagi pihak-pihak yang terkait seperti penerbit maupun konsumen pengguna emoney.

Dalam penyelenggaraan e-money, faktor utama yang mempengaruhi tingkat security penggunaannya antara lain adalah instrumen/peralatan (hardware) yang digunakan, baik oleh konsumen maupun oleh merchant, aplikasi (software) serta proses pertukaran data elektronik pada saat terjadi transaksi.

Berikut ini akan diuraikan mengenai potential security risk serta security measures yang dapat diterapkan untuk mengantisipasi risiko-risiko dalam penyelenggaraan e-money.

Potential Security Risk

Secara umum, potential security risk yang terdapat dalam penyelenggaraan e-money adalah sebagai berikut:

  1. Duplication of devices Risiko kejahatan ini merupakan upaya untuk membuat duplikasi dari kartu yang asli, sehingga dapat digunakan untuk melakukan transaksi pembayaran sebagaimana kartu yang asli.
  2. Alteration or duplication of data/software Risiko ini merupakan risiko kejahatan melalui upaya perubahan atau modifikasi data atau aplikasi yang ada pada kartu yang asli sedemikian rupa sehingga pelaku memperoleh keuntungan finansial. Misalnya dengan menambah data outstanding dana pada e-money atau merubah sistem internal aplikasi akunting pada kartu chip sehingga prosedur perhitungan akuntingnya tidak bekerja sebagaimana mestinya.
  3. Alteration of message Risiko ini merupakan risiko kejahatan melalui upaya untuk melakukan perubahan/intervensi ketika data elektronis/message dikirim pada saat seseorang melakukan transaksi. Risiko ini akan lebih mungkin terjadi ketika produk e-money digunakan untuk pembayaran melalui jaringan internet.
  4. Pencurian Bentuk kejahatan e-money yang paling sederhana adalah dengan mencuri kartu e-money milik orang lain untuk kemudian menggunakan dana yang masih tersisa. Pencurian juga dapat dilakukan oleh orang-orang dalam yang terlibat dalam penyelenggaraan e-money, misalnya dengan melakukan pengisian dana secara tidak legal ke dalam kartu. Pencurian juga bisa dilakukan oleh oknum yang memproduksi smart card atau issuer sebelum instrumen tersebut dijual atau diterbitkan ke konsumen atau bahkan mencuri kunci cryptographic tanpa sepengetahuan perusahaan.
  5. Penyangkalan transaksi (repudiation) Bentuk penyalahgunaan lainnya dalam penyelenggaraan emoney adalah penyangkalan bahwa seseorang telah melakukan transaksi pembayaran dengan menggunakan e-money. Dengan penyangkalan ini, merchant maupun issuer dapat dirugikan.
  6. Malfunction Risiko malfunction dapat berupa data corrupt atau hilang, tidak berfungsinya aplikasi atau kegagalan dalam pengiriman message.

Security Measures

Sebagai mana pada instrumen pembayaran elektronis lainnya, pengembangan security features pada e-money juga bertujuan untuk melindungi atau menjaga integrity, authenticity dan confidentiality baik data maupun proses transaksi serta melindungi dari terjadinya kerugian akibat adanya pemalsuan dan penyangkalan (repudiation) transaksi. Berdasarkan tujuannya, security measures ini dapat dikelompokkan sebagai berikut:

  1. Preventive measures, bertujuan untuk memastikan bahwa ancaman kejahatan terhadap komponenkomponen dalam sistem dapat dihalangi/dicegah semaksimal mungkin sebelum terjadi.
  2. Detection measures, bertujuan untuk memberikan peringatan (alert) kepada issuer atau operator akan terjadinya fraud serta untuk mengidentifikasi lokasi terjadinya fraud tersebut.
  3. Containment measures, bertujuan untuk membatasi/mengurangi dampak kerugian

Sumber Bacaan

Ahniar, Nur Farida dan Nina Rahay. 2012. Tantangan Penggunaan e-money di Indonesia.

Oxford Business Group. 2010. The Report Indonesia 2010. The Indonesian Institute: Jakarta.

Siti Hidayati, Ida Nuryanti, Agus Firmansyah Aulia Fadly, Isnu Yuwana Darmawan, 2006. Kajian Opersional E-Money. Bank Indonesia.

Gaspar, Julian. 2006. Intrduction to Bussiness. Houghton Mifflin Company: Boston

 

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 71 = 77