Manajemen Risiko


Manajemen Risiko

Kerangka manajemen risiko yang dibangun dalam suatu organisasi dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang dibagi dalam 4 kategori, yaitu:

  • Strategic; goal tingkat tinggi yang diarahkan untuk mendukung misi yang dimiliki organisasi.
  • Operations; pemanfaatan yang efektif dan efisien dari sumber-sumber yang tersedia.
  • Reporting; dapat diandalkan atau dipercayanya laporan baik internal maupun eksternal.
  • Compliance; ketaatan terhadap berbagai undang-undang dan peraturan yang berlaku.

Manajemen resiko adalah suatu sistem pengawasan resiko dan perlindungan harta benda, hak milik dan keuntungan badan usaha atau perorangan atas kemungkinan timbulnya kerugian karena adanya suatu resiko.Proses pengelolaan resiko yang mencakup identifikasi, evaluasi dan pengendalian resiko yang dapat mengancam kelangsungan usaha atau aktivitas perusahaan.

     

Menurut Fahmi (2012) Manajemen resiko adalah suatu bidang ilmu yang membahas tentang bagaimana suatu organisasi menerapkan ukuran dalam memetakan berbagai permasalahan yang ada dengan menempatkan berbagai pendekatan manajemen secara komprehensif dan sistematis.

Manajemen risiko merupakan proses sistematis dalam memahami, mengevaluasi dan menangani risiko tersebut untuk memaksimalkan peluang tujuan yang dicapai dan memastikan organisasi, individu dan masyarakat yang berkelanjutan. Manajemen risiko juga memanfaatkan peluang yang membawa ketidakpastian, yang memungkinkan organisasi untuk menyadari kemungkinan-kemungkinan baru yang dapat terjadi. Pada dasarnya, manajemen risiko yang efektif memerlukan pemahaman informasi risiko yang relevan, penilaian prioritas relatif dan pendekatan yang ketat untuk memantau dan mengendalikan.

Pengungkapan manajemen risiko yang dilaksanakan oleh manajemen bermanfaat bagi pengguna laporan keuangan untuk menilai kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh manajemen dalam mengatasi risiko. Bagi pengguna laporan keuangan pengungkapan manajemen risiko dapat digunakan untuk menilai apakah kebijakan yang dilakukan tepat guna atau tidak, sehingga informasi yang dimiliki oleh stakeholder menjadi lengkap. Kelengkapan informasi sangat penting bagi stakeholder. Informasi yang tidak lengkap dapat menyebabkan keputusan yang diambil menjadi bias, karena tidak sesuai dengan keadaan perusahaan yang sebenarnya.

  • Inherent risk adalah risiko yang melekat di organisasi sebelum upaya tindakan untuk mengubah kemungkinan dan dampak risiko.
  • Residual risk adalah risiko yang tetap ada setelah manajemen merespon risiko, misal dengan mengurangi atau memindahkan risiko.
  • Penilaian risiko pertama harus dilakukan terhadap inherent risk. Setelah respon terhadap risiko dikembangkan, manajemen kemudian mempertimbangkan residual risk (relatif pada risk appetite organisasi).

Setelah risiko dinilai, majajemen menentukan bagaimana risiko tersebut direspon. Berbagai model merespon risiko, diantaranya adalah:

  • Menghindari risiko (avoiding)
  • Mengurangi (mitigating)
  • Memindahkan (sharing/transferring)
  • Mengendalikan (controlling)
  • Mengoptimalkan (exploiting)

Kunci Keberhasilan Manajemen Risiko

  1. Dukungan penuh manajemen dan staf
  2. Ketersediaan informasi dan proses yang mudah dipahami
  3. Tanggung jawab dari pelaksana/pemilik kegiatan/pemilik risiko
  4. Sumberdaya yang memadai untuk mendukung pelaksanaan manajemen risiko
  5. Komunikasi dan pelatihan yang berkelanjutan
  6. Sarana untuk mengukur hasil yang dicapai
  7. Penegakan peraturan
  8. Pemantauan yang berkesinambungan

 

Sementara itu, sumber lain mengklasifikasikan resiko menjadi beberapa jenis, yaitu:

  • Resiko operasional, yaitu jenis resiko yang muncul akibat tidak berfungsinya bagian internal perusahaan dan beberapa penyebab lainnya seperti human error dan sistem yang gagal. Penyebab timbulnya resiko operasional ini diklaim sebagai penyebab yang paling luas bila dibandingkan dengan jenis resiko lainnya. Selain disebabkan oleh beberapa hal yang telah disebutkan di atas, ada penyebab lain timbulnya resiko operasional, seperti akuntansi, kegiatan operasional (baik kegiatan operasional untuk barang dan jasa), sistem informasi manajemen, sistem teknologi informasi, dan sistem manajemen sumber daya manusia (HRM).
  • Resiko hazard/ resiko bahaya, yaitu sejumlah faktor yang dapat mempengaruhi berbagai akibat yang timbul akibat suatu peristiwa. Kerugian yang dialami oleh sebuah perusahaan merupakan contoh penyimpangan yang tentunya tidak diinginkan oleh semua perusahaan. Adapun beberapa faktor yang diklaim sebagai sumber alias kerugian yang dialami oleh suatu perusahaan, antara lain resiko sosial, resiko ekonomi, dan resiko fisik. Sangat penting bagi manajer resiko untuk mengidentifikasi sumber resiko yang ada pada sebuah perusahaan agars manajer dapat langsung mengambil langkah tepat untuk menanganinya.
  • Resiko finansial, yaitu suatu resiko yang umumnya dialami oleh investor. Resiko ini muncul sebaagi akibat saham dan obligasi  emiten yang tidak mampu  mampu membayar deviden atau bunga, atau pokok pinjaman beserta bunganya.
  • Resiko strategic, yaitu resiko yang biasanya muncul akibat terjadi suatu rangkaian peristiwa atau kondisi yang tak diduga  di mana kejadian atau peristiwa tersebut dapat menurunkan  kemampuan seorang manajer untuk mengaplikasikan ide atau strateginya.

Baca Juga : Teori Perpajakan Indonesia : Sanksi Pajak

Dalam manajemen risiko terdapat beberapa bentuk risiko, salah satunya adalah risiko pasar. Risiko pasar muncul karena harga pasar bergerak kearah yang merugikan perusahaan.

Risiko pasar merupakan suatu kondisi yang dialami oleh suatu perusahaan yang disebabkan oleh perubahan kondisi dan situasi pasar di luar kendali perusahaan. Risiko ini sering kali disebut sebagai risiko yang menyeluruh karena sifat umumnya adalah bersifat menyeluruh dan dialami oleh seluruh perusahaan. Risiko pasar timbul karena adanya pergerakan variabel pasar, suku bunga dan nilai tukar yang menyangkut portofolio yang dimiliki oleh suatu perusahaan, sehingga dapat merugikan pendapatan perusahaan.

Risiko pasar dari suatu investasi tunggal maupun portofolio dapat diukur dengan mengacu pada kemungkinan kerugian financial akibat gabungan dari pergerakan variabel ekonomi yang sistematis seperti bunga dan nilai tukar (Fallcon, 1996). Risiko pasar merupakan salah satu risiko utama yang dihadapi oleh perusahaan terutama lembaga keuangan.

Salah satu bentuk investasi yang terkena dampak risiko pasar adalah saham. Saham adalah surat berharga yang menjadi bukti seseorang berinvestasi pada suatu perusahaan. Harga saham selalu mengalami perubahan harga atau biasa disebut dengan fluktuasi. Fluktuasi harga saham erat kaitannya dengan risiko. Risiko selalu terdapat dalam dunia bisnis dan investasi khususnya tentang investasi saham. Risiko tersebut merupakan suatu risiko finansial sehingga membutuhkan manajemen risiko untuk meminimalkan terjadinya risiko tersebut. Pengukuran risiko yang akan terjadi memerlukan metodologi pengukuran risiko kuantitatif, salah satunya adalah Value at Risk (VaR).

Value at Risk (VaR) merupakan suatu ukuran yang dapat digunakan untuk menilai kerugian terburuk yang mungkin terjadi bagi seorang investor atau suatu badan usaha atas investasinya dalam sekuritas atau aset-aset, baik secara satu per satu maupun secara dalam bentuk portofolio dalam jangka waktu tertentu dengan tingkat peluang yang telah ditetapkan. Dalam VaR, kemungkinan kerugian dihitung dari peluang kerugian yang terburuk dari suatu persentase yang telah ditetapkan.

Model untuk menghitung VaR ada bermacam-macam, namun secara umum pengukuran VaR mengikuti proses lazim yang sering digunakan oleh pakar dalam penghitungan risiko pasar. Ada beberapa metode pengukuran VaR yang dapat dikelompokkan dalam pendekatan parametrik, non-parametrik, dan semi-parametrik. Pendekatan parametrik meliputi 1) pendekatan variance–covariance, dan 2) GARCH. Pendekatan non-parametrik meliputi 1) pendekatan simulasi histories, 2) pendekatan simulasi Monte Carlo; dan 3) pendekatan simulasi Bootstrapping.

Pendekatan parametrik memerlukan asumsi terkait distribusi yang biasanya diasumsikan berdistribusi normal dalam penghitungan VaR. Dalam penghitungan metode VaR ini, ada asumsi yang harus dipenuhi, yaitu dimana tingkat pengembaliannya (return) harus berdistribusi normal. Untuk pendekatan non-parametrik, tidak memerlukan asumsi tertentu terkait distribusi. Pendekatan semi-parametrik mengkombinasikan kedua pendekatan dalam langkah-langkah pengukuran VaR yang dilakukan.

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 73 = 78