Pengertian Anomali Pasar
Anomali pasar adalah suatu kejadian atau peristiwa yang dapat dijadikan investor untuk menghasilkan abnormal return atau profit. Dari beberapa penelitian ternyata menunjukkan adanya suatu ketidakteraturan yang terdeteksi dalam pasar modal yang tidak sesuai dengan hipotesis efisiensi pasar modal. Ketidakteraturan ini berlangsung terus menerus dan memiliki dampak yang cukup luas,sehingga disebut sebagai suatu anomali pasar (market anomalies) (Rahmawati, 2016).
Menurut Jones (2014:311), anomali pasar (market anomaly) adalah teknik dan strategi yang tampaknya berlawanan dengan konsep pasar efisien. Adanya anomali dalam suatu pasar modal bisa disebabkan oleh tiga hal (Reilly, dalam Ramel Yanuarta, 2012). Pertama, ketidaksempurnaan pada struktur pasar, di mana tidak ada pasar yang sungguh-sungguh bisa disebut sempurna pada kenyataannya. Kedua, adanya kekuatan cukup besar dari penyimpangan tingkah laku oleh parainvestor yang melakukan perdagangan. Ketiga, acuan teori pasar modal yang dipakai oleh investor dalam melakukan strategi investasi kurang tepat sehingga bisa menyebabkan terjadinya kesalahan atau penyimpangan dalam penilaian pasar modal.
Alteza (2007) menyebutkan ada empat jenis anomali pasar yang dikenal dalam literatur keuangan yaitu anomali perusahaan (firm anomalies), anomali musiman (seasonal anomalies), anomali peristiwa atau kejadian (event anomalies), dan anomali akuntansi (accounting anomalies). Pasar disebut mengalami anomali apabila dalam suatu waktu tertentu ada pembentukan dan pengulangan pola atau mengalami perubahan yang dapat diprediksi. Anomali menyebabkan investor dapat membuat pendugaan karena pergerakan harga saham terpola pada saat tertentu, tidak lagi bergerak secara random atau acak.
Suatu anomali dapat disebut sebagai suatu ketidakteraturan yang memang eksis dan tidak berlangsung lama di pasar modal. Anomali adalah prilaku harga sekuritas yang tidak dapat dijelaskan dengan teori-teori yang biasanya dipergunakan untuk memperkirakan pergerakan sekuritas seperti Single Index
Model dan Capital Asset Pricing Model. Beberapa anomali yang ditemukan pada penelitian di pasar modal adalah sebagai berikut:
1) The January effect
Merupakan kecendrungan tingkat keuntungan yang dihasilkan pada bulan Januari lebih tinggi dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain fenomena ini pertama kali ditemukan oleh Rozeff dan Kinney (1976)
2) Day of the week effect
Prilaku harga sekuritas pada hari tertentu memberikan rate of return yang lebih tinggi dìbandingkan dengan hari-hari yang lain dan prilaku harga sekuritas pada hari-hari tertentu memberikan rate of return yang lebih rendah dibandingkan dengan hari-hari yang lain. Seperti penelitian French (1980) yang menganalisis harian saham selama tahun 1953 — 1977 dan menemukan terdapat tendensi adanya negatif return pada hari Senin dan pada hari yang lainnya positif. Agrawal dan Tandon (1994) menemukan adanya negatif return pada hari Senin yang terjadi pada sembilan negara, pada hari Selasa terjadi pada delapan negara dan terdapat positif return yang terjadi pada hari Jumat pada tujuh belas negara dari delapan belas negara yang diteliti.
Day of the week effect merupakan perbedaan return antara hari Senin dengan hari–hari lainnya dalam seminggu secara signifikan (Damodaran dalam Werastuti, 2012). Biasanya return yang signifikan negatif terjadi pada hari Senin, sedangkan return positif terjadi pada hari–hari lainnya. Pengaruh hari perdagangan terhadap return saham merupakan fenomena yang menarik untuk diperhatikan. Fenomena ini merupakan bagian dari anomali teori pasar efisien. Pada teori pasar efisien menyatakan bahwa return saham tidak berbeda pada setiap hari perdagangan. Namun fenomena day of the week effect menyatakan bahwa terdapat perbedaan return untuk masing–masing hari perdagangan dalam satu minggu dimana pada hari Senin cenderung menghasilkan return yang negatif. Pada beberapa pasar modal terdapat kecenderungan return terendah terjadi pada hari Senin kemudian meningkat pada hari–hari lainnya. Terdapat penelitian sebelumnya, Ramadhani (2015) menemukan bahwa terjadi day of the week; weekend effect terjadi secara parsial dan Monday Effect terjadi di Bursa Efek Indonesia selama periode 2011-2013.
3) Monday Effect
Monday effect adalah salah satu bagian dari the day of the week effect yaitu suatu seasonal anomalies (anomali musiman) atau calendar effect (efek kalender) yang terjadi pada pasar financial yaitu ketika return saham secara signifikan negatif pada hari Senin (Mehdian dan Perry dalam Rahmawati 2016). Anomali tersebut melanggar hipotesis mengenai efisiensi pasar bentuk lemah. Hipotesis efisiensi pasar bentuk lemah menganggap bahwa informasi yang terkadung dalam harga saham historis adalah sepenuhnya tergambarkan dalam harga saham yang sekarang dan informasi tersebut tidak dapat digunakan untuk mendapatkan excess return (Elton dan Gruber dalam Rahmawati,2016).
Monday effect lebih banyak disebabkan oleh faktor psikologis investor. Para pedagang saham lebih cenderung merasa tidak bersemangat di hari Senin, karena hari Senin adalah hari yang mengawali hari kerja panjang selama seminggu (Rystorm dan Benson dalam Rahmawati 2016). Dalam penelitian terdahulu disebutkan bahwa pada hari Senin rata-rata karyawan untuk semua perusahaan di Amerika mengalami psychological makeup, artinya dalam kondisi tersebut, perilaku dan sikap karyawan dipengaruhi oleh persepsi keberadaan hari Senin sebagai kelesuan hari permulaan kerja setelah libur panjang selama dua hari. Akibatnya para investor merasa pesimis terhadap saham yang dipegang bila dibandingkan dengan hari perdagangan lainnya. Investor cenderung merasa lebih tepat untuk menjual dengan harga yang rendah pada hari Senin dibandingkan dengan memegang saham tersebut untuk dijual kembali pada hari-hari perdagangan berikutnya. Akibatnya terjadi return negatif untuk periode perdagangan pada hari Senin.
4) Weekend effect
Weekend effect merupakan suatu pengaruh akhir Minggu yang mengakibatkan adanya suatu gejala yang menunjukkan bahwa return saham pada hari Jumat akan lebih tinggi dibanding hari-hari perdagangan lainnya, sebaliknya hari Senin akan menunjukkan return yang lebih rendah (Tandelilin, 2001).
5) Size effect
Adanya kecendrungan dari saham-saham perusahaan yang berskala kecil memberikan return yang lebih besar dibandingkan dengan saham-saham perusahaan dengan kapitalisasi besar. Seperti penelitian Keim (1983) dan Reinganum (1983) menenjukkan teradinya abnormal return pada perusahaan kecil yang teljadi selama dua minggu pertama di bulan JanuarL Hipotesis Rolls (1983) menyatakan bahwa volatilitas yang lebih besar pada saham-saham perusahaan kecil menyebabkan banyak investor yang menderita short-term capital losses sehingga investor menginginkan income tax purposes sebelum akhir tahun.
6) P/E rasio yang rendah ( low P/E ratio )
Beberapa pemodal meyakini bahwa saham yang memiliki PER rendah akan memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan saham dengan PER yang tinggi. Apabila pasar modal dalam keadaan efisien, maka hubungan antara PER dan return tidak ada. Seperti penelitian Basu (1977) menunjukkan bahwa saham dengan P/E ratio yang rendah memiliki kemampuan yang lebih baik dalam memprediksi abnormal return jika dibandingkan dengan saham yang memiliki P/E ratio yang tinggi.
7) Eid Al Fitr Holiday Effect (Idul Fitri Holiday Effect)
Holiday effect menunjukkan kecenderungan rata-rata return saham pada suatu hari sebelum libur (pre holiday return) lebih tinggi dan return saham sehari setelah hari libur (post holiday return) lebih rendah dibandingkan dengan rate return harian normal. Eid Al Fitr Holiday Effect atau dapat disebut Idul Fitri holiday effect merupakan salah satu bentuk holiday effect.
Pada hari-hari sebelum lebaran ini harga barang-barang konsumsi di Indonesia cenderung mengalami kenaikan harga. Setiap tahun selalu terjadi kenaikan harga tersebut. Namun, walaupun harga barang-barang naik, konsumsi masyarakat dapat dikatakan tetap. Pada saat inilah biasanya saham sektor barang konsumsi mengalami peningkatan harga, karena saham ini dirasa menguntungkan untuk dimiliki pada saat mendekati idul fitri ini. Investor berbondong-bondong ingin memiliki saham tersebut, dan mengakibatkan kenaikan pada harga saham dan kenaikan return pada masa itu.
8) School Year Seasional Effect (Tahun Ajaran Baru Seasional Effect)
Seasional Anomaly dimana pada musim-musim tertentu, saham mengalami kenaikan return. Harga saham pada perusahaan yang berbasis musiman cenderung mengalami kenaikan. School Year Seasional Effect dapat juga disebut seasional anomaly. Dikarenakan beberapa sektor saham akan mengalami kenaikan harga saham karena dipicu konsumsi masyarakat yang meningkat. Seperti perusahaan perdagangan atau konveksi seragam akan cenderung mengalami peningkatan pada tahun ajaran baru ini.
Sehingga para investor memiliki ekspektasi bahwasannya pada hari menjelang tahun ajaran baru, beberapa sektor saham terkait akan dapat memberikan keuntungan. Sehingga investor memilih untuk membeli saham tersebut, maka akan banyak permintaan saham dan penjual pun akan menaikkan harga agar ia juga mendapatkan untung. Dari situlah harga saham tersebut akan mengalami kenaikan.
9) Turn The Month Of Effect
Turn of the month effect merupakan anomaly dimana tingkat pengembalian pada awal bulan selalu lebih tinggi (positif) dibandingkan dengan akhir bulan yang mencapai negatif. Hari pada pergantian bulan seringkali diartikan sebagai hari terakhir dari suatu bulan sampai dengan tiga hari pertama bulan berikutnya. Menurut (Mulyono dalam Rahmawati. 2016) salah satu hipotesis yang dapat menjelaskan adanya anomali ini adalah liquidity trading yaitu permintaan terhadap sekuritas di pasar oleh investor individual mengalami kenaikan pada awal bulan karena memperoleh pembayaran gaji, kemudian diinvestasikan dengan membeli sekuritas di pasar.

