Pengertian Korporasi (Business Organization)
   

Kata ‚corporare‛ berasal dari kata ‚corpus‛ yang dalam bahasa Indonesia diartikan dengan badan yang mempunyai arti memberikan badan atau membadankan. Dengan demikian kata ‚corporatio‛ berasal dari hasil pekerjaan membadankan. Badan yang dijadikan orang kerangka pemikiran teoritis atau kerangka konseptual. Korporasi secara harfiah dari (corporatie, Belanda), corporation (Inggris), corporation (Jerman) berasal dari kata ‚corporation‛ dalam bahasa Latin. Seperti halnya dengan kata-kata lain yang berakhiran ‚tio ‚corporation‛ sebagai kata benda (substantivum) berasal dari kata kerja ‚corporare‛.

Korporasi (business organization) secara umum adalah suatu organisasi dimana sumber daya (input), seperti bahan baku dan tenaga kerja diproses untuk menghasilkan barang dan jasa (output) bagi pelanggan. Tujuan dari perusahaan secara umum ialah laba/keuntungan. Laba (profit) adalah selisih antara jumlah yang diterima dari pelanggan atas barang atau jasa yang dihasilkan dengan jumlah yang dikeluarkan untuk membeli sumber daya alam dalam menghasilkan barang atau jasa tersebut.

Korporasi adalah tempat terjadinya kegiatan produksi dan berkumpulnya semua faktor produksi, konsumsi dan distribusi. Setiap perusahaan ada yang terdaftar di pemerintah dan ada pula yang tidak. Bagi perusahaan yang terdaftar di pemerintah, mereka mempunyai badan usaha untuk perusahaannya. Badan usaha ini adalah status dari perusahaan tersebut yang terdaftar di pemerintah secara resmi. (Wikipedia)

Membentuk badan usaha merupakan dasar penting apabila kita akan membangun suatu bisnis sendiri. Keberadaan badan usaha yang berbadan hukum dalam suatu perusahaan baik perusahaan kecil, menengah atau besar akan melindungi perusahaan dari segala tuntutan akibat aktivitas yang dijalankan oleh perusahaan tersebut.

Meskipun begitu, dalam menjalankan suatu usaha tidak diwajibkan bagi seorang pengusaha untuk mendirikan sebuah badan hukum. Hal tersebut merupakan suatu pilihan bagi pengusaha untuk menentukan bentuk dari penyelenggaraan usaha yang cocok untuk kegiatan usaha yang dijalankannya. Namun, untuk beberapa jenis usaha tertentu yang memang diwajibkan menurut peraturan perundang-undangan harus berbentuk badan usaha yang merupakan badan hukum seperti bank, rumah sakit, penyelenggara satuan pendidikan formal.

Badan usaha merupakan kesatuan yuridis dan ekonomis atau kesatuan organisasi yang terdiri dari faktor-faktor produksi yang bertujuan mencari keuntungan. Badan usaha adalah rumah tangga ekonomi yang bertujuan mencari laba dengan faktor-faktor produksi. Sebuah usaha/bisnis sendiri dapat dikatakan berbadan hukum apabila memiliki ‚Akte Pendirian‛ yang disahkan oleh notaris disertai dengan tandatangan diatas materai dan segel.

Badan yang diperoleh dengan perbuatan manusia sebagai lawan terhadap badan manusia yang terjadi menurut alam. Corporatie dalam bahasa Belanda berarti korporasi atau badan hukum. Sedangkan rechtpersoon diartikan badan hukum, korporasi atau pribadi hukum (Soetan K Malikoel Adil-1995). Corpus juga dapat diartikan sebagai makhluk hidup, pribadi diri, pesona, dewan, perkumpulan, buku, kitab, dan buku pegangan atau juga dapat diartikan sebagai property yang dikuasai (the property for which a trustee is responsible). (Hasbullah 2013)

Korporasi Sebagai Persero

Korporasi merupakan suatu perseroan yang merupakan badan hukum yang diartikan sebagai suatu perkumpulan atau organisasi yang oleh hukum diperlakukan seperti seorang manusia (personal) ialah sebagai pengemban (atau pemilik) hak dan kewajiban-kewajiban, memiliki hak menggugat ataupun digugat di muka pengadilan.

Subekti memberikan definisi badan hukum pada pokoknya adalah suatu badan atau perkumpulan yang dapat memiliki hak-hak dan melakukan perbuatan seperti seorang manusia, serta memiliki kekayaan sendiri, dapat digugat atau menggugat di depan hakim

Menurut Wirjono Prodjodikoro badan hukum adalah badan yang disamping manusia perseorangan juga dianggap dapat bertindak dalam hukum dan yang mempunyai hak-hak, kewajiban-kewajiban dan perhubungan hukum terhadap orang lain atau badan lain.

Pengertian yang disampaikan oleh Satjipto Rahardjo yang mengartikan bahwa korporasi sebagai badan hasil cipta hukum. Badan hukum yang diciptakan itu terdiri dari ‚corpus‛, yaitu struktur fisiknya dan ke dalamnya hukum mema- sukkan unsur ‚animus‛ yang membuat badan hukum itu mempunyai kepribadian Oleh karena badan hukum itu merupakan ciptaan hukum, kematiannya pun juga ditentukan oleh hukum  (Satjipto Rahardjo, 1986).

Hamzah berpendapat bahwa korporasi terbentuk ketika mulai tumbuh kebutuhan untuk mengumpulkan modal, khususnya dengan timbulnya perda[1]gangan antar kota, antar wilayah, antar negara. Sebesar-besar modal yang dapat dikumpulkan oleh perorangan atau keluarga, tidak akan sebesar jika puluhan atau ribuan orang melakukan secara bersama-sama. Lalu, berkembang secara hukum menjadi orang (badan) yang berdiri sendiri terlepas dari peserta pengumpul modal dalam hubungan bisnis. Selanjutnya, dikatakannya bahwa yang istimewa dalam kehidupan korporasi ialah ia tidak mati sebagaimana para pemegang saham setiap saat dan akhirnya akan mati. Ini disebut immortality korporasi.

Berdasarkan keadaan yang normal, pemegang saham tidak bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan oleh korporasi, mereka menikmati ketiadaan tanggungjawab secara hukum, tetapi menerima keuntungan. Modal korporasi adalah modal legal person yang tersendiri. Pendapat ini kemudian dikuatkan dengan pendapat Gayus Lumbuun yang mengatakan bahwa istilah korporasi itu di masyarakat biasa disebut orang untuk menunjukan badan usaha (commercial entity) yang berbadan hukum (corporate body/rechtpersoon walaupun dalam dunia usaha masih terdapat badan-badan usaha yang didirikan tidak berbadan hukum (Mustafa Edwin, 2007)

Sedangkan menurut Sutan Remy, pengertian korporasi dapat diartikan secara sempit maupun luas. Secara sempit korporasi diartikan sebagai badan hukum yang eksistensi dan kewenangannya melakukan perbuatan hukum diakui oleh hukum perdata(Sutan Remy Sjahdeini, Joko Syahban, 2008). Pengertian ini memberikan suatu anggapan bahwa, keberadaan korporasi untuk melakukan perbuatan hukum ketika perusahaan masih hidup ataupun tidak mempunyai kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum, ketika perusahaan sudah mati, ditentukan oleh hukum perdata. Karena apabila keberadaan suatu korporasi tidak diakui eksistensinya oleh hukum perdata maka dia tidak dapat disebut sebagai koporasi yang dapat melakukan perbuatan hukum. Pengertian secara sempit ini menggambarkan korporasi yang diakui dalam ruang lingkup hukum perdata.

Secara luas, korporasi dapat diartikan tidak hanya berbentuk badan hukum, melainkan juga meliputi yang bukan badan hukum atau menurut hukum perdata tidak dapat dikualifikasikan sebagai badan hukum seperti firma, perseroan komanditer atau CV, dan persekutuan atau maatschap. Pengertian korporasi secara luas digunakan dalam ranah hukum pidana, sehingga dalam ranah hukum pidana pengertian korporasi lebih ditekankan pada adanya sekumpulan orang yang terorganisir dan memiliki pimpinan serta melakukan perbuatan-perbuatan hukum, misalnya perjanjian dalam rangka kegiatan usaha atau kegiatan sosial yang dilakukan oleh pengurusnya untuk dan atas nama kumpulan orang tersebut, juga termasuk dalam pengertian korporasi.

Dari pengertian korporasi diatas, terdapat dua pengertian mengenai apa itu korporasi yaitu ada yang menjelaskan bahwa korporasi itu sama dengan badan hukum dan ada juga yang menjelaskan bahwa korporasi tidak hanya badan hukum melainkan juga termasuk didalamnya korporasi yang tidak berbentuk badan hukum.

Menurut William C. Burton bahwa korporasi tidak semata-mata hanya berbadan hukum melainkan juga yang tidak berbadan hukum, sebagaimana pengertian korporasi yang disampaikan oleh Burton diatas. Dalam dunia bisnis kita mengenal tiga jenis organisasi bisnis. Ketiga jenis organisasi bisnis itu adalah perorangan, persekutuan, dan perseroan terbatas.

Sumber Bacaan

Soetan K Malikoel Adil, Pembaharuan Hukum Perdata Kita, (Jakarta: PT Pembangunan, 1995), hlm.13.

Hasbullah F. Sjawe, Direksi dan Perseroan Terbatas serta Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, Cetakan Pertama (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2013) 27-28

https://id.wikipedia.org/wiki/Perusahaan

Mustafa Edwin, Ekonomi Islam, (Jakarta: Kencana, 2007), 34.

Sutan Remy Sjahdeini, Joko Syahban, Berbisnis Bersama Tuhan, (Bandung: Hikmah, PT Mizan Publika, 2008) , 43

 

Tag: , , , ,

Diposting oleh hestanto


Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *