Implementasi Strategy E-business UMKM berdasarkan Model ICDT


Implementasi Strategy E-business UMKM berdasarkan Model ICDT

Model Evaluasi Strategi E-business

Terdapat beberapa model dari strategi e-business yang sesuai dengan kebutuhan dari sebuah UMKM. Masing masing model tersebut menyediakan tuntunan dan pengukuran yang dapat digunakan untuk menyusun strategi e-business yang sesuai dengan kebutuhan organisasi. Salah satunya adalah model yang diajukan oleh Van Grembergen & Amelinck (2002). Model dari Van Grembergen & Amelinck (2002) mengadopsi metode BSC dengan menilai strategi dari e-business berdasarkan pengukuran yang diperoleh dari empat buah perspektif yaitu:

a) seberapa besar strategi e-business memberikan kontribusi bisnis dari sebuah organisasi;
b) apakah strategi e-business tersebut berorientasi ke masa yang akan datang;
c) apakah strategi e-business berorientasi kepada konsumen; dan
d) apakah strategi e-business memberikan keunggulan dalam hal operasional.

     

Hampir serupa dengan model di atas, Plant, dkk. (2003) juga mengusulkan model untuk mengevaluasi strategi e-business berdasarkan perspektif dari metode BSC. Yang membedakan adalah Plant, dkk. (2003) menambahkan empat buah sub perspektif kedalam perspektif konsumen. Menurut Plant, dkk. (2003), organisasi yang hendak menerapkan strategi ebusiness sebagai bagian dari strategi bisnis organisasi harus memberikan perhatian kepada empat sub perspektif tersebut yaitu merek, layanan, pasar dan teknologi.

Sedikit berbeda dengan kedua model di atas yang mengembangkan model evaluasi strategi ebusiness dengan melakukan modifikasi dari metode evaluasi BSC, Raisinghani, dkk. (2007) mengajukan model evaluasi strategi e-business dengan mengkombinasikan dua buah model evaluasi yaitu model evaluasi strategi bisnis yang diadopsi dari metode BSC (Raisinghani, 2001) dan model evaluasi strategi e-business yang diadopsi dari model yang diajukan oleh Angehrn (1997) bernama “the four domains of internet expansion model” atau disingkat model ICDT (Information, Communication, Distributon, and Transaction). Kedua model evaluasi tersebut dikombinasikan dengan menggunakan pendekatan Analytic Network Process (ANP) untuk mendapatkan strategi e-business yang paling optimal. Gambar 1 menunjukan gambaran umum dari model ANP yang diadopsi dari Raisinghani, dkk. (2007)

Gambar 1. Model ANP untuk menentukan strategi e-business yang paling optimal (diadopsi dari Raisinghani, dkk. 2007)

Seperti telah disebutkan di atas, strategi e-business dievaluasi menggunakan model ICDT yang diadopsi dari Angehrn (1997). Model tersebut menyediakan elemen elemen yang bisa dipergunakan untuk menjelaskan bagaimana strategi e-business bisa membantu meningkatkan keunggulan kompetitif dari sebuah organisasi (Raisinghani, 2001).
Gambar 2. Empat domain dari model ICDT (diadopsi dari Raisinghani, dkk. 2007)
Model ICDT tersusun dari empat buat elemen yaitu Virtual Communication Space (VCS), Virtual Infromation Space (VIS), Virtual Transaction Space (VTS), dan Virtual Distribution Space (VDS). Gambar 2 menunjukkan detil dari model ICDT.

Model ICDT

Seperti telah disebutkan sebelumnya, Model yang dipergunakan oleh Raisinghani et al. (2007) untuk mengevaluasi dan mengukur strategi e-business dari sebuah organisasi diadopsi dari model ICDT yang diusulkan oleh Angehrn (1997). Model tersebut terdiri dari empat buah dimensi yaitu VIS, VCS, VDS, dan VDT (Gambar 2). Dimensi VIS (Information) berhubungan dengan penggunaan teknologi internet untuk menyebarkan dan menampilkan informasi seperti jasa, produk, serta profil dari organisasi. VIS juga dikaitkan dengan aktifitas periklanan dan pemasaran menggunakan teknologi internet. Dimensi kedua, VCS (Communication), berhubungan dengan penggunaan teknologi internet untuk menjalin komunikasi dan kolaborasi antara agen ekonomi di internet yang bisa diwujudkan dalam bentuk B2B atau B2C. Dimensi ketiga, VDS (Distribution) berhubungan dengan penggunaan teknologi internet untuk mendistribusikan produk atau jasa yang bisa dikategorikan menjadi: a) produk digital seperti e-books, musik digital, perangkat lunak, video dan lain sebagainya; b) layanan digital seperti konsultasi dan pelatihan online, layanan berlangganan (subcription) dan lainnya; c) layanan tambahan yang berhubungan dengan produk atau layanan tradisional seperti informasi mengenai produk atau jasa tertentu, layanan pelanggan (customer service), dan informasi terbaru dari sebuah produk fisik. Dimensi yang terakhir, VTS (Transaction), berhubungan dengan penggunaan teknologi internet untuk mengelola proses transaksi bisnis seperti pembayaran, pemesanan, dan pencetakan nota atau invoices.

Pengimplementasian strategy e-business berdasarkan dimensi VIS

Menurut Angehrn (1997), tujuan dari dimensi VIS adalah untuk meningkatkan visibilitas dan persepsi terhadap organisasi baik untuk produk dan jasanya melalui teknologi internet. Bisa dikatakan bahwa dimensi VIS mengacu kepada penggunaan teknologi internet untuk mendukung kemampuan pemasaran atau marketing capability dari sebuah organisasi. Menurut Chang, dkk. (2010), marketing capability mengacu kepada kemampuan organisasi untuk tidak hanya menyediakan strategi marketing, tetapi juga kemampuan untuk mengimplementasikannya kedalam bentuk penetapan harga, periklanan dan memilih saluran marketing yang tepat. Oleh karena itu Chang, dkk. (2010) mengajukan Customer Relationship Management (CRM) sebagai salah satu strategi berbasis teknologi informasi yang dapat membantuk meningkatkan kemampuan pemasaran dari sebuah organisasi.

Menurut Tan, dkk. (2002), penerapan CRM di web e-commerce bisa diwujudkan dengan mengelola profil dari konsumen dan mengidentifikasi materi pemasaran yang tepat berdasarkan pengetahuan yang dikumpulkan dari aktifitas konsumen di web e-commerce. Dengan tersedianya teknologi CRM di sebuah web e-commerce, organisasi dapat menarik perhatian konsumen terhadap sebuah produk atau jasa, yang selanjutnya mengajak calon konsumen potensial untuk membeli produk dan jasa, dan dilanjutkan dengan mempertahankan relasi dengan konsumen tersebut (Wang, dkk., 2016).

Model CRM tersebut terbagi kedalam dua buah bagian yaitu operational CRM dan analytical CRM. Operational CRM mengacu kepada pengumpulan dan pengelolaan data terpusat yang berkaitan dengan transaksi bisnis yang didapatkan dari berbagai kegiatan operasional bisnis seperti transaksi di website atau komunikasi dengan konsumen melalui e-mail. Sementara itu, Analytical CRM mengacu kepada penggunaan data history yang didapatkan dari aktifitas yang menjadi bagian dari Operational CRM untuk dianalisis menggunakan metode tertentu untuk menghasilkan pengetahuan dalam bentuk laporan, analisis konsumen, analisis keuntungan dan analisisstok barang.

Gambar 3. Model CRM untuk Usaha Kecil Menengah (diadopsi dari Garcia-Crespo, dkk., 2012)

Berdasarkan kerangka kerja CRM di atas, pengimplementasian teknologi CRM pada web ecommerce sebagai bentuk penerapan strategi e-business berdasarkan dimensi VIS diwujudkan dalam bentuk website yang memiliki fitur yang mencakup operational CRM dan Analytical CRM. Dalam konteks operational CRM, Web e-commerce yang dibangun memiliki fungsi diantaranya mengijinkan kosumen untuk melihat berbagai produk dari Trooper Electronic dan melakukan transaksi disana. Selanjutnya dalam konteks Analytical CRM, web e-commerce yang dibangun memiliki fitur sebagai berikut: (1) Laporan bagi pihak perusahaan yang berisi rangkuman transaksi yang terjadi pada periode tertentu. (2) Fungsi rekomendasi kepada pihak perusahaan apakah suatu produk lebih tepat jika dijual secara pre-order, siap rakit (pre-assembly), atau ready stock berdasarkan aktifitas dan kebiasan membeli konsumen di web e-commerce tersebut.

Pengimplementasian strategy e-business berdasarkan dimensi VCS

Tujuan dari dimensi VCS (Virtual Communication Space) adalah untuk mendukung komunikasi antara para pelaku ekonomi melalui teknologi internet yang meliputi konsumen, calon konsumen, rekan kerja dan juga kompetitor. Dikarenakan ruang lingkup usaha dari Trooper Eletronic yang masih terbatas, maka penerapan strategi e-business dari dimensi VCS lebih difokuskan kepada relasi dengan konsumen (B2C). Terkait dengan VCS, E-commerce Communication Model (ECM) yang diusulkan oleh Xue dkk. (2015) bisa diterapkan untuk mengoptimalkan strategi e-business pada web e-commerce.

Menurut Öztamur & Karakadılar (2014), terdapat beberapa pelaku usaha yang menggunakan hashtag dengan kata kunci tertentu disetiap konten yang mereka publikasikan dengan tujuan untuk menarik calon pelanggan potensial.

Selanjutnya tahap kedua dari Model ECM adalah page communication stage. Tahapan ini merupakan tahapan yang paling krusial dari model komunikasi ini dikarenakan keputusan untuk membeli atau tidak ditentukan pada tahapan ini (Xue, dkk., 2015). Pada tahapan ini konsumen akan memperoleh semua informasi yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan di tahapan komunikasi selanjutnya yaitu transaction stage. Oleh karena itu semua informasi yang ditampilkan harus mampu menghilangkan keraguan konsumen terhadap sebuah produk.

Tahapan yang terakhir dari model ECM adalah transaction stage. Pada tahapan ini konsumen akan melakukan pemesanan dan melakukan pembayaran. Pada tahapan ini strategi yang diajukan oleh Xue, dkk. (2015) adalah dengan menyediakan mekanisme pembayaran dan pengiriman produk yang jelas dan terdapat kepastian mengenai layanan purnajual. Penerapan strategi pada tahapan ketiga ini akan dibahas pada penerapan strategi dari dimensi VTS (Virtual Transaction Space) yang juga mencakup strategi yang berhubungan dengan pengelolaan transaksi pembayaran.

Pengimplementasian strategy e-business berdasarkan dimensi VDS

Tujuan dari dimensi VDS (Virtual Distribution Space) adalah mendistribusikan produk dan jasa melalui internet seefektif dan seefisien mungkin. Seperti telah dijelaskan di landasan teori bahwa produk dan jasa pada dimensi ini dikategorikan menjadi tiga jenis yaitu produk digital, layanan digital dan layanan tambahan yang terkait dengan layanan tradisional. Terdapat berbagai macam bentuk strategi yang bisa diajukan pada dimensi ini salah satunya adalah dengan menawarkan produk yang relevan dengan konsumen. Qiu, dkk. (2015) mengajukan model untuk memprediksi prilaku pembelian konsumen berdasarkan asosiasi antar produk yang diminati oleh konsumen dan berdasarkan faktor-faktor eksternal seperti trend, kebutuhan ekonomi, kesukaan terhadap merk tertentu, harga dan lainnya.

Pengimplementasian strategy e-business berdasarkan dimensi VTS

Dimensi yang terakhir, VTS (Virtual Transaction Space) mengacu kepada pemanfaatan teknologi internet untuk menangani transaksi bisnis seperti pemesanan, pembayaran, pencetakan nota dan layanan purnajual. Terkait dengan dimensi ini, model e-payment ontology dari Trappey dkk. (2016) dapat digunakan untuk menyusun strategi e-business yang sesuai.

Gambar 4. E-payment Ontology (diadopsi dari Trappey, dkk., 2016)
Gambar 4. E-payment Ontology (diadopsi dari Trappey, dkk., 2016)

Seperti ditunjukan pada Gambar 4, e-payment ontology terdiri dari tiga elemen yaitu payment channel yang berhubungan dengan bagaimana konsumen akan melakukan pembayaran, payment security yang berhubungan dengan keamanan data dan pencegahan penipuan, dan payment management yang berhubungan dengan aktifitas sebelum dan sesudah tansaksi seperti penyediaan solusi jika terjadi kesalahan dalam transaksi dan layanan purnajual lainnya.

Sumber Bacaan

Qiu, J., Lin, Z., & Li, Y. (2015). Predicting customer purchase behavior in the e-commerce context. Electronic commerce research, 15(4), 427-452.

Xue, J., Niu, Y., & Yu, W. (2015, July). Research on E-commerce Communication Model and driven strategies. In Logistics, Informatics and Service Sciences (LISS), 2015 International Conference on (pp. 1-5). IEEE

Öztamur, D., & Karakadılar, İ. S. (2014). Exploring the role of social media for SMEs: as a new marketing strategy tool for the firm performance perspective. Procedia-Social and behavioral sciences, 150, 511-520.

Tan, X., Yen, D. C., & Fang, X. (2002). Internet integrated customer relationship management a key success factor for companies in the e-commerce arena. Journal of Computer Information Systems, 42(3), 77-86.

Angehrn, A. A. (1997). The ICDT model: towards a taxonomy of internet-related business strategies. INSEAD.

Raisinghani, M. S. (2001). A Balanced Analysis Approach to Strategic Electronic Commerce Decisions: A Framework of the Evaluation Method. In Information technology evaluation methods and management (pp. 185-197). IGI Global.

Chang, W., Park, J. E., & Chaiy, S. (2010). How does CRM technology transform into organizational performance? A mediating role of marketing capability. Journal of Business Research, 63(8), 849-855.

Plant, R., Willcocks, L., & Olson, N. (2003). Measuring e-business performance: towards a revised balanced scorecard approach. Information Systems and e-business Management, 1(3), 265-281.

Van Grembergen, W., & Amelinckx, I. (2002, January). Measuring and managing e-business projects through the balanced scorecard. In System Sciences, 2002. HICSS. Proceedings of the 35th Annual Hawaii International Conference on (pp. 9-pp). IEEE.

Trappey, A. J., Trappey, C. V., & Hsu, A. (2016). Modeling Technology Roadmaps Of ECommerce Payment Systems Based On Patent Informatics. International Journal of Electronic Business Management, 14, pp. 24-34

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 73 = 80