Volatilitas Laba
   

Laba merupakan alat untuk mengukur keadaan perusahaan bagi para invetor. Baik buruknya keadaan perusahaan bergantung pada naik turunnya laba yang dilaporkan oleh perusahaan. Sekarang sudah banyak perusahaan di Indonesia dan Malaysia yang telah go public. Hal tersebut mendorong perusahaan-perusahaan agar membuat laporan keuangan dengan laba yang baik agar para investor tertarik untuk berinvestasi diperusahaan. Laba yang dilaporkan tidaklah selalu meningkat. Setiap tahun atau periode laba yang dilaporkan akan berubah. Naik turunnya laba perusahaan ini disebut dengan volatilitas laba. Fudenberg dan Tirole (1995) menyatakan bahwa investor menghindari perusahaan yang memiliki tingkat volatilitas laba yang tinggi karena memiliki risiko yang besar. Dapat disimpulkan bahwa para investor lebih menyukai perusahaan dengan tingkat volatilitas laba yang rendah.

Terjadinya volatilitas laba yang tinggi juga dapat mendorong terjadinya kesalahan dalam meramalkan laba (Wijayanti dan Diyanti, 2016). Kesalahan peramalan laba (profit forecast error) terjadi bila laba yang diperkirakan akan diperoleh pada periode saat ini berbeda dengan yang diperoleh sebenarnya. Kesalahan ini mengakibatkan berkurangnya kepercayaan investor pada kinerja manajer perusahaan. Peramalan laba sebenarnya dilakukan oleh manajer untuk memperkirakan atau menganggarkan keuangan di periode yang akan datang, sehingga manajer dapat memperkirakan biaya-biaya yang dibutuhkan pada periode yang akan datang. Bila peramalan laba yang dilakukan salah, maka biaya yang disiapkan untuk periode yang akan datang pun salah. Perusahaan pun memiliki kecenderungan untuk rugi, bila laba yang dihasilkan ternyata lebih kecil daripada yang diperkirakan.

Menurut penelitian dari Lambertides dan Mazouz (2013) menyatakan bahwa para analis dan investor akan semakin pandai dalam melakukan peramalan laba. Hal ini ditandai dengan adanya penurunan kesalahan peramalan laba setelah IFRS diadopsi di Eropa. Dengan menurunnya kesalahan peramalan laba, maka semakin banyak investor untuk berinvestasi pada perusahaan. Selain itu, manajer juga melakukan manajemen laba untuk menarik investor. Dengan melakukan manajemen laba, laporan keuangan akan terlihat baik dan investor tertarik untuk berinvestasi. Manajemen laba merupakan tindakan manajer dalam memanipulasi laporan perolehan laba perusahaan agar terihat baik. Tetapi manajemen laba tidak merupakan pelanggaran etika profesi, bila tetap mengikuti aturan yang ada.

Menurut penelitian dari Scott (2003) menyatakan bahwa earning management dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu taking a bath, income maximization, income minimization, serta income smoothing. Dari empat jenis manajemen laba tersebut, manajemen laba yang sering terjadi di Indonesia yaitu Income Smoothing. Karena jenis ini dapat membuat investor tertarik.

Pada pelakuan income smoothing, manager meratakan laba yang diperoleh tahun lalu dengan tahun berjalan agar laporan laba dari perusahan terlihat bagus. Bila laporan laba dari perusahaan terlihat bagus maka para investor akan tertarik untuk berinvestasi diperusahaan.

Pengertian Volatilitas Laba.

Volatilitas laba adalah pergerakan naik turunya laba yang diperoleh perusahaan pada periode tertentu. Menurut Khurniaji dan Raharja (2013) beragumen bahwa volatilitas laba merupakan alat untuk mengukur kestabilan laba yang diperoleh perusahaan. Jadi, bila tingkat volatilitas laba perusahaan naik maka para investor dengan cepat menjual saham perusahaan. Namun, bila tingakat volatilitas laba perusahaan menurun maka para calon investor dengan cepat membeli saham perusahaan. Hal ini dipicu karena adanya keraguan para investor terhadap kinerja dari manajer perusahaan.

Pergerakan laba disetiap periodenya tidaklah selalu stabil. Jika laba sebuah perusahaan berfluktuasi tinggi maka volatilitas laba menjadi tinggi. Bila terjadi voatilitas laba yang tinggi maka laba yang diperoleh dimasa depan tidak dapat diperkirakan dengan pasti. Sebaliknya, bila laba memiliki tingkat fluktuasi yang rendah, maka tingkat volatilitas laba pun akan menurun atau rendah. Bila volatilitas laba rendah, maka laba yang diperoleh lebih stabil sehingga manajer lebih mudah dalam melakukan peramalan laba dan kecenderungan manajer dalam melakukan kesalahan peramalan laba lebih kecil. Jadi, volatilitas laba berpengaruh pada hasil dari peramalan laba.

Kesalahan peramalan Laba.

Menurut Render dan Heizer (2001) menyatakan bahwa Peramalan (forecasting) merupakan seni atau ilmu dalam memprediksi hal-hal yang akan terjadi di masa depan dengan menggunakan data historis dan memproyeksikannya ke masa depan dengan menerapkan model matematis. Peramalan dibuat untuk meminimalisir pengaruh ketidakpastian terhadap sebuah permasalahan dimasa depan. Dengan adanya peramalan ini dapat membantu manajer dalam mempersiapkan masalah yang mungkin akan terjadi di periode yang akan datang. Dalam melakukan peramalan diupayakan untuk tidak terjadi kesalahan meramal (forecast errors). Untuk peramalan laba pada perusahaan yang memiliki laba yang stabil lebih mudah dan akurat dalam perhitungannya (Dicho & Tang, 2010).

Peramalan laba dilakukan oleh manajer-manajer yang berada di perusahaan. Bila dalam meramalkan laba selalu tepat, maka para investor percaya akan kinerja manajer yang baik. Peramalan laba sebenarnya dapat membantu menarik para calon investor untuk berinvestasi di perusahaan, dengan catatan bila peramalannya tepat untuk beberapa periode. Namun, bila peramalan laba tersebut salah maka beberapa investor akan ragu untuk tetap berinvestasi di perusahaan tersebut.

Peramalan laba adalah seni atau ilmu dalam memprediksi pendapatan laba berdasarkan data historis dari perusahaan tersebut. Peramalan laba ini dilakukan oleh manajer perusahaan. Bila manajer harus memprediksi perolehan laba untuk periode masa depan, namun perusahaan memiliki tingkat volatilitas laba yang tinggi, maka manajer kesulitan dalam meramalkan pendapatan laba dimasa depan dan hasilnya pun cenderung kurang akurat. Jadi, dapat disimpulkan bahwa tingkat volatilitas laba memiliki hubungan positif dengan kesalahan peramalan laba.

Perataan laba adalah tindakan yang dilakukan oleh manajer untuk menaikan atau menurunkan laba agar laba terlihat stabil. Hal ini dilakukan agar volatilitas laba berkurang dan perusahaan terlihat baik dimata investor (Siregar dan Vivian, 2012). Perataan laba dapat dilakukan dengan cara memindahkan pendapatan pada periode yang memiliki pendapatan yang tinggi ke periode dimana pendapatan sangat rendah atau rendah Dengan melakukan perataan laba maka tingkat volatilitas laba akan semakin kecil dan kesalahan peramalan laba pun akan semakin kecil. Jadi, pelakukan perataan laba pada perusahaan dapat memperkuat hubungan antara volatilitas laba dan kesalahan peramalan laba.

Manajemen Laba.

Tindakan manajemen laba adalah tindakan memanipulasi laporan keuangan oleh manajer dengan cara membuat laba perusahaan selalu stabil. Tetapi tindakan ini tidak melanggar peraturan atau etika yang ada, jika sesuai dengan peraturan yang ada (Suhendah dan Imelda, 2012). Karena manajemen laba sebenarnya dilakukan dengan memilih metode yang diijinkan untuk digunakan dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Jenis dari manajemen laba ada 4 yaitu taking a bath, income maximization, income minimization, serta income smoothing (Scott, 2000).

Taking a bath digunakan bila perusahaan dalam keadaan yang tidak menguntungkan, sehingga manager mengakui biaya-biaya dimasa depan dan mengakui kerugian pada periode berjalan. Taking a bath biasanya dilakukan pada perusahaan yang terancam akan terjadi kebangkrutan, sehingga perusahaan memilih untuk melakukan tindakan ini. Income maximization adalah keadaan dimana laba yang diperoleh pada periode berjalan menurun sehingga manager menaikan laba agar para investor tidak melepaskan sahamnya. Tindakan ini dilakukan bila laba yang diperoleh menurun secara signifikan. Income minimization adalah melakukan manajemen laba dengan meminimalisir keuntungan yang didapat agar tidak dikenai pajak yang besar. Karena pajak di negara Indonesia searah dengan laba yang diperoleh perusahaan. Semakin tinggi laba yang diperoleh, maka pajak yang dikenakan semakin tinggi. Income smoothing adalah perilaku manager untuk meratakan laba yang diperoleh pada periode sebelumnya dengan periode yang sedang berjalan. Manajer melakukan income smoothing dengan membandingakan laba yang diperoleh sekarang dengan laba pada tahun sebelumnya.

Sumber Bacaan

Heizer, J dan Render, B., 2001, Prinsip-Prinsip Manajemen Operasi, Jakarta: Salemba Empat.

Dicho, I. D., and V. W. Tang, (2009), “Earnings volatility and earnings predictability”, Journal of Accounting and Economics 47, hal. 160–181.

Narumondang Bulan Siregar dan Vivian, 2015, “Analisis Pengaruh Rasio Keuangan Terhadap Income Smoothing dengan Ukuran Perusahaan sebagai Variabel Moderating pada Perusahaan Perkebunan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan Bursa Malaysia”, Jurnal Simposium Nasional Akuntansi, No 35, hal. 2-3.

Rousilita Suhendah & Elsa Imelda, 2012, “Pengaruh Informasi Asimetri, Kinerja Masa Kini dan Kinerja Masa Depan Terhadap Earnings Management Pada Perusahaan Manufaktur yang Go Public Dari Tahun 2006-2008”, Jurnal Akuntansi/Volume XVI, No. 02, hal. 262-279.

Khurniaji, A. W., & Raharja, S. (2013). Hubungan Kebijakan Dividen ( Dividend Payout Ratio Dan Dividend Yield ) Terhadap Volatilitas Harga Saham Di Perusahaan-Perusahaan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Diponegoro Journal of Accounting, 2(3), 1–10.

Scott, W.R., 2003, Financial Accounting Theory, Edisi 3, USA: Prentice Hall.

Rousilita Suhendah & Elsa Imelda, 2012, “Pengaruh Informasi Asimetri, Kinerja Masa Kini dan Kinerja Masa Depan Terhadap Earnings Management Pada Perusahaan Manufaktur yang Go Public Dari Tahun 2006-2008”, Jurnal Akuntansi/Volume XVI, No. 02, hal. 262-279.

Fudenberg, D. and Tirole J, 1995, “A Theory of Income and Dividend Smoothing Based on Incumbensy Rates”, Journal of Political Economy. February, hal. 78-80.

Lambertides, N. dan Mazouz, K., 2013, “Stock Price Volatility and Informational Efficiency Following The Mandatory Adoption Of IFRS In Europe”, Journal Of Applied Accounting Research. Vol. 14, hal. 4-17

Tag: , ,

Diposting oleh hestanto


Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code