Konsep Menciptakan dan Mengelola Pariwisata Desa


Konsep Menciptakan dan Mengelola Pariwisata Desa

Pengertian Pariwisata

Pariwisata adalah kegiatan melakukan perjalan dengan tujuan mendapatkan kenikmatan, mencari kepuasan, mengetahui sesuatu, memperbaiki kesehatan, menikmati olah raga atau istirahat, menunaikan tugas, berziarah dan lain-lain, bukanlah merupakan kegiatan yang baru saja dilakukan oleh manusia masa kini. Menurut definisi yang luas pariwisata adalah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, bersifat sementara, dilakukan perorangan maupun kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan atau keserasian dan kebahagiaan dengan lingkungan hidup dalam dimensi sosial, budaya, alam dan ilmu. Seseorang dapat melakukan perjalanan dengan berbagai cara karena alasan yang berbedabeda pula. Suatu perjalanan dianggap sebagai perjalanan wisata bila memenuhi tiga persyaratan yang diperlukan, yaitu :

1. Harus bersifat sementara.
2. Harus bersifat sukarela (voluntary) dalam arti tidak terjadi paksaan.
3. Tidak bekerja yang sifatnya menghasilkan upah ataupun bayaran.

     

Kepariwisataan menurut Lunberg dan Krishnamoorthy (1997:4) kepariwisataan atau tourism ialah mencakup orang-orang yang melakukan perjalanan pergi dari rumahnya dan perusahaan-perusahaan yang melayani mereka dengan cara memperlancar atau mempermudah perjalanan-perjalanan mereka atau membuatnya lebih menyenangkan.

Menurut Undang-undang Nomor 10 Tahun 2009, tentang kepariwisataan disebutkan bahwa pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah dan pemerintah daerah. Sedangkan Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata yang bersifat multidimensi serta multi disiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan Negara serta interaksi antara wisatawan dengan masyarakat setempa, sesama wisatawan, pemerintah, pemerintah daerah dan pengusaha. Dengan demikian pengertian pariwisata meliputi :

  1. Semua kegiatan yang berkaitan dengan perjalanan wisata;
  2. Pengusahaan objek dan daya tarik wisata seperti: kawasan wisata, taman rekreasi, kawasan peninggalan sejarah, museum, waduk. Pagelaran seni budaya, tata kehidupan masyarakat atau yang bersifat alamiah (keindahan alam, gunung berapi, danau, pantai);
  3. Pengusahaan jasa dan sarana pariwisata yaitu: usaha jasa pariwisata biro perjalanan wisata, agen perjalanan wisata, pramuwisata, konvensi, perjalanan insentif dan pameran, impresariat, konsultan pariwisata, informasi pariwisata), usaha sarana pariwisata yang terdiri dari akomodasi, rumah makan, bar, angkutan wisata.

Secara etimologis, istilah pariwisata berasal dari bahasa sansekerta yang terdiri dari dua suku kata yaitu “pari” dan “wisata”. Pari berarti berulang-ulang atau berkali-kali, sedangkan wisata berarti perjalanan yang dilakukan secara berulang-ulang atau berkali-kali, sedangkan wisata berarti perjalanan atau bepergian. Jadi, pariwisata berarti perjalanan yang dilakukan secara berulang-ulang (Musanef, 1996). Menurut Wahab (1995) pariwisata adalah suatau perjalanan wisata yang tidak dikaitkan dengan keperluan atau maksud lain selain mengisi waktu luang dalam mengisi masa liburan.

Jenis-jenis Pariwisata

Menurut Pendit (2002) terdapat beberapa jenis pariwisata, yaitu :

1) Wisata Budaya, dimaksudnya dengan perjalanan yang dilakukan atas dasar keinginan untuk memperluas pandangan hidup seseorang dengan mengadakan kunjungan ataupeninjauan ke tempat lain atau ke luar negeri, mempelajari keadaan rakyat, kebiasaan dan adat istiadat, cara hidup berbudaya. Perjalanan ini biasanya dijadikan sebagai pembelajaran kegiatan budaya seperti seni tari dan budaya yang ada di daerah tersebut.

2) Wisata Kesehatan, ini dimaksudkan dengan perjalanan seorang wisatawan dengan tujuan untuk meninggalkan keadaan lingkungan tempat sehari-hari dimana ia tinggal demi kepentingan beristirahat dalam arti jasmani dan rohani dengan mengunjungi tempat peridtirahatan seperti mata air panas yang mengandung mineral yang dapat menyembuhkan, tempat yang mempunyai iklim udara menyehatkan atau tempat-tempat yang menyediakan fasilitas kesehatan lainnya.

3) Wisata Olahraga, wisatawan yang melakukan perjalanan dengan tujuan berolah raga atau menghadiri pesta olahraga di suatu tempat atau suatu negara seperti : Asian games, Thomas cup, dan lain-lain.

4) Wisata komersial, yang termasuk dalam wisata komersial ini adalah mengunjungi pameran-pameran dan pekan raya yang bersifat komersial seperti pameran industri, pameran dagang, dan sebagainya akomodasi, dan transportasi serta berbagai atraksi diadakan secara meriah bagi para pengunjung. Disamping itu yang termasuk dalam kegiatan wisata politik adalah peristiwa-peristiwa penting seperti: konferensi, musyawarah, kongres yang selalu disertai dengan kegiatan darmawisata.

6) Wisata Sosial, wisata ini adalah pengorganisasian suatu perjalanan yang murah dan mudah untuk memberi kesempatan kepada masyarakat ekonomi lemah untuk mengadakan perjalanan, seperti misalnya kaum buruh, pemuda, pelajar, mahasiswa, petani, dan sebagainya.

7) Wisata Pertanian, adalah perjalanan yang dilakukan ke proyek-proyek pertania, perkebunan, ladang pembibitan, dan sebagainya. Dengan tujuan wisatawan dapat berkunjung untuk sekadar menikmati aneka macam tanaman.

8) Wisata Maritim (bahari), jenis wisata ini dikaitkan dengan kegiatan olah raga air, danau, pantai, teluk, dan laut. Misalnya memancing, berlayar, menyelam sambil melakukan pemotretan, kompetisi berselancar, mendayung, berkeliling melihat-lihat taman laut dengan pemandangan yang indah.

9) Wisata Cagar Alam, jenis wisata ini biasanya diselenggarakan oleh agen atau biro perjalanan yang mengkhususkan usaha-usaha dengan jalan mengatur wisata ke tempat atau daerah cagar alam, taman lindung, hutan daerah pegunungan, dan sebagainya yang kelestariannya dilindungi oleh undang-undang.

Objek Wisata

Objek wisata merupakan potensi yang menjadi faktor utama pendorong kehadiran para wisatawan untuk datang ke suatu tujuan wisata. Dalam kedudukannya yang sangat menentukan itu maka objek wisata harus dirancang dan dibangun atau dikelola secara profesional sehingga dapat menarik wisatawan untuk datang. Membangun suatu objek weisata harus dirancang ssedemikian rupa berdasarkan kriteria yang cocok dengan daerah wisata tersebut (Mursid, 2003).

Faktor yang menunjang adanya objek wisata antara lain prasarana objek wisata dan sarana objek wisata. Prasarana objek wisata adalah sumber daya alam dan sumber daya buatan manusia yang dibutuhkan oleh wisatawan dalam perjalanan menuju tujuan wisata. Adapun yang termasuk prasarana umum seperti jalan, listrik, air, telekomunikasi, terminal, jembatan, dan lain sebagainya (Mursid, 2003). Sedangkan sarana objek wisata merupakan kelengkapan daerah tujuan wisata yang diperlukan untuk melayani kebutuhan wisatawan dalam menikmati perjalanan wisatanya (Mursid, 2003).

Wisatawan

Dalam Nasrul (2010), menurut Sammeg yaitu orang yang melakukan perjalanan atau kunjungan sementara secara sukarela ke suatu tempat di luar lingkungan tempat tinggalnya sehari-hari untuk maksud tertentu dan tidak memperoleh penghasilan tetap di tempat yang dikunjunginya. menurut Prajogo (1976) dalam Spillane (1985:21) wisatawan dapat dibedakan menjadi dua pengertian yaitu sebagai tourist dan sebagai exscurtionist. Sebagai tourist bila perjalanan yang dilakukan lebih dari 24 jam, sedangkan exscurtionist menunjukkan perjalanan yang dilakukan kurang dari 24 jam.

Semakin lama wisatawan tinggal di suatu daerah tujuan wisata, maka semakin banyak pula uang yang dibelanjakan di daerah tujuan wisata tersebut. Berbagai macam kebutuhan wisatawan selama tinggal di suatu wisatanya maka akan menimbulkan gejala konsumtif untuk produk-produk yang ada di daerah wisata tersebut (Ida Austriana, 2005). Dengan adanya kegiatan konsumtif ini baik dari wisatawan mancanegara dan domestik akan menimbulkan dampak yang besar bagi pendapatan dari suatu sektor pariwisata suatu daerah. Oleh karena itu, jumlah wisatawan yang semakin meningkat maka pendapatan sektor pariwisata daerah juga akan semakin meningkat.

Tingkat Hunian Hotel

Menurut Dinas Pariwisata hotel merupakan suatu usaha yang menggunakan bangunan atau sebagian dari padanya yang khusus disediakan, dimana setiap orang dapat menginap dan makan serta memperoleh pelayanan dan fasilitas lainnya dengan pembayaran. Fungsi hotel dewasa ini bukan hanya sebagai tempat menginap dan makan untuk tujuan wisata saja namun juga untuk tujuan lain seperti menjalankan kegiatan bisnis, mengadakan seminar, atau sekedar untuk mendapat ketenangan. Hotel merupakan salah satu jenis usaha yang menyiapkan pelayanan jasa bagi masyarakat dan wisatawan.

Tingkat hunian kamar hotel adalah suatu keadaan sampai sejauh mana jumlah kamar-kamar terjual, jika diperbandingkan dengan seluruh jumlah kamar yang mampu untuk dijual (Vicky Hanggara, 2009). Dengan adanya kamar hotel yang tersedia mampu menarik wisatawan untuk berkunjung ke suatu daerah, terlebih jika hotel yang tersedia nyaman untuk disinggahi. Sehingga wisatawan akan merasa lebih nyaman dan aman untuk lebih lama berada di daerah tujuan wisata. Oleh karena itu industri pariwisata terutama kegiatan yang berkaitan dengan penginapan yaitu hotel, baik berbintangf maupun melati akan memperoleh pendapatan yang semakin banyak apabila para wisatawan tersebut semakin lama menginap (Badrudin, 2001). Sehingga akan meningkatkan penerimaan daerah melalui pajak penghasilan.

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 + 1 =