Produk Keramik, Desain Rumit Semakin Bernilai Harganya


Produk Keramik, Desain Rumit Semakin Bernilai Harganya

Kerajinan keramik, bisa menjadi barang yang high class. Ini yang membuat Satya Rini berani membuka usaha kerajinan keramik, meski saat ini peminat keramik tidak teralu banyak.

Namun dengan konsep back to nature, Rini siap menghadapi tantangan itu. Terbukti, saat bazar UKM Kreatif di kantor Wali kota Jakarta Selatan, perempuan berdarah Betawi ini sangat bersemangat menawarkan keramiknya. Dia membuat keramik dalam berbagai desain bentuk dan motif seperti nampan, cangkir dan kura-kura.

     

“Yang namanya usaha harus semangat ya, meski pasar keramik itu biasanya lihat target. Kalau orang yang nggak suka seni bakal melihat ini cuma keramik biasa. Padahal keramik itu bernilai seni tinggi,” ungkap Rini di Jakarta, belum lama ini.

Selain karena keramik bernilai tinggi, Rini melihat alasan itu dari proses pembuatan keramik yang cukup sulit. Membuat keramik, dia mengatakan, butuh ketelatenan dan ketelitian agar keramik tidak pecah sebelum jadi.

“Butuh tangan terampil dan kesabaran, juga mesti detail. Kalau tidak sabar bisa pecah atau retak. Begitu juga saat pengovenan yang memerlukan suhu 900 derajat pada pembakaran yang pertama belum lagi pada pembakaran kedua dengan ditambahkan suhunya,” tambahnya.

Kebanyakan polanya ditatahkan pada keramiknya, menggunakan pigmen hitam-putih. Pada mulanya, para tukang tembikar Koryo meminjam teknik dari Cina. Tetapi, tak lama kemudian, mereka mulai memperlihatkan kreasi sendiri. Salah satu contohnya adalah teknik penatahan yang disebut sanggam. Dalam proses ini, motif yang diinginkan diukirkan pada permukaan bejana setengah jadi, dan hasil ukirannya diisi dengan lempung berwarna putih atau merah. Kemudian, keramik itu dibakar. Pada tahap ini, lempung putih tetap berwarna putih salju dan lempung merah menjadi hitam.

Apakah ini tanda ketidaksempurnaan? Apa penyebab timbulnya fenomena ini? Semakin rumit desain yang ditatahkan, semakin tipislah glasir yang harus digunakan supaya desainnya kelihatan jelas. Karena glasir pada keramik ini begitu tipis dan rapuh, pastilah akan timbul retakan-retakan kecil pada seluruh permukaannya—efek samping karena ingin menghasilkan produk jadi yang sangat transparan. Jadi, retakan-retakan itu hendaknya dipandang sebagai ciri alami keramik Koryo dan bukan sebagai cacat. Bahkan, ada tukang tembikar modern yang sengaja menggunakan glasir yang menghasilkan retakan.

Setelah pengovenan, dia menjelaskan keramik tidak boleh langsung dikeluarkan dari oven. Tapi harus memastikan kondisi keramik sudah benar-benar dingin agar tidak percah. Dari kesulitan yang dialami itulah, yang menurutnya seni keramik bisa dinilai produk yang bernilai tinggi.

Baca Juga: Geopopimer Industri Indonesia

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 7 = 3