Teori Pertumbuhan Ekonomi Keynesian
Harrod-Domar menjadikan tenaga kerja dan investasi sebagai syarat terjadinya pertumbuhan ekonomi. Dimana tenaga kerja dan investasi dapat meningkatkan jumlah produksi. Model pertumbuhan ekonomi Harrod-Domar dibangun berdasarkan pengalaman negara maju. Kesemuanya terutama dialamatkan kepada perekonomian kapitalis maju dan mencoba menelaah persyaratan pertumbuhan mantap (steady growth) dalam perekonomin seperti itu (Jhingan, 1992). Berikut ini adalah kurva fungsi produksi :

Pada gambar 1 merupakan kurva fungsi produksi yang berbentuk L. Untuk menghasilkan output sebesar Q1 diperlukan tenaga kerja L1 dan modal sebesar K1. Untuk menghasilkan output sebesar Q2 juga diperlukan tenaga kerja L2 dan modal sebesar K2. Apabila kombinasi itu berubah maka tingkat output juga berubah.
Menurut Harrod-Domar ada hubungan ekonomi yang langsung antar besarnya stok modal (K) dan jumlah produksi nasional (Y). Misalnya $300 unit modal diperlukan untuk menghasilkan $1 unit pendapatan, maka COR (capital output ratio) adalah 3 : 1. Dengan kata lain COR = 3. Selanjutnya apabila diketahui proporsi pendapatan nasional yang ditabung sebesar 6%, maka bisa dicapai pertumbuhan 2%. Hal tersebut dapat disusun dari model sederhana :

Tabungan (S) adalah beberapa proporsi (s) dari pendapatan nasional (Y) : S = s.Y
Investasi (I) sebagai perubahan stok modal (K) : I = K
Persamaan pertumbuhan yang sederhan seperti diatas dapat digunakan untuk meramalkan dan merencanakan perekonomian di negara-negara yang sedang berkembang. Misalkan pemerintah menetapkan tingkat pertumbuhan 2% per tahun dalam pendapatan per kapita, sedangkan untuk menaikan US$1, diperlukan kenaikan persediaan barang-barang modal US$3, pertumbuhan penduduk diperkirakan meningkat 2,5% per tahun. Dengan data ini, maka para perencana dapat menentukan seberapa banyak tabungan serta penanaman modal yang harus dilakukan oleh negara untuk mencapai suatu tingkat pertumbuhan yang diinginkan. Oleh karena itu jumlah penduduk 2,5% maka pertambahan pendapatan (pertumbuan) harus naik dengan tingkat yang sama supaya tingkat pendapatan per kapita dapat dipertahankan. Untuk mendapatkan kenaikan 2% dalam kenaikan pendapatan per kapita, maka keseluruhan hasil harus naik 4,5% (2% + 2,5%) setahunnya. Karena untuk kenaikan US$1 diperlukan US$3 maka perekonomian haruslah mampu menabung 13,5% (3 x 4,5%) dari jumlah pendapatan nasionalnya setiap tahun (Suryana, 2000)
1) Konsep Capital-Output Ratio
Konsep COR ini ada dua macam yaitu average capital-output ratio (ACOR) dan incremental capital-output ratio (ICOR). ACOR menunjukkan hubungan antara stok modal dengan aliran output lancar yang dihasilkan. Sedangkan ICOR menunjukkan hubungan antara jumlah kenaikkan output (pendapatan) yang disebabkan oleh kenaikkan tertentu pada stok modal ΔK . ICOR dapat digambarkan sebagai ΔK/ΔY . Dengan kata lain ACOR menunjukkan hubungan antara segala sesuatu yang telah diinvestasikan pada masa lalu dengan keseluruhan pendapatan. Sedangkan ICOR menunjukkan segala sesuatu yang saat ini ditambahkan pada modal atau pendapatan. ACOR merupakan merupakan konsep statis, sementara ICOR merupakan konsep dinamis Istilah COR sebagaimana sering digunakan dalam ilmu ekonomi biasanya berkaitan dengan ICOR. Nilai dari rasio ini biasanya bergerak antara 3 dan 4 dan menunjukkan pada suatu periode waktu. Karena rasio tersebut mempunyai dimensi waktu, maka di negara-negara komunis rasio tersebut disebut sebagai periode pengganti (recoupment period). Berikut ini adalah kurva hubungan antara ACOR dengan ICOR :

Hubungan antara ACOR dan ICOR ditunjukkan pada gambar 2 dimana output digambarkan pada sumbu horizontal dan modal pada sumbu vertikal. ACOR ditunjukkan oleh garis lengkung dari titik orgin ke fungsi yang menghubungkan modal dengan output total. Pada gambar tersebut OKF adalah fungsi seperti itu dan OR adalah garis lurus yang menembusnya pada titik K sehingga ACOR-nya sema dengan KY/OY. ICOR ditunjukkan oleh slope dari tangen yang ditarik pada fungsi tersebut di titik K. Jadi ICOR adalah sama dengan ED/KD( )
2) Marginal Efficiency of Capital (MEC)
Keynes mengemukakan konsep MEC yaitu tingkat diskon (rate of discount) yang dikehendaki untuk menyamakan seluruh aliran pendapatan bersih yang diharapkan akan diperoleh dari investasi dengan nilai investasi mula-mula. Persamaannya adalah sebagai berikut :

Dimana :
VS = nilai investasi sekarang (nilai perolehan dalam modal).
Ei = pendapatan bersih yang diharapkan akan diperoleh dalam periode i setelah investasi dilaksanakan.
R= marginal efficiency of capital
Dalam penentuan R jumlah n harus diketahui selain VS dan Ei , misalnya untuk investasi satu periode :

Dalam persamaan (3) ditunjukkan bahwa MEC merupakan suatu “yield” atau “return over cost”, sedangkan R juga dapat disebut dependen variabel. R akan berubah ketika E berubah dan secara berkebalikan dengan berubahnya VS, hal ini dapat dilihat dengan cara menghitung parsial derivativenya :


Kesimpulannya adalah bahwa MEC merupakan fungsi turunan dari volume investasi. Hubungan yang negatif antara investasi dinyatakan dalam fungsi sebagai brikut :
![]()
Seperti yang ditunjukkan dalam persamaan diatas R menurun apabila I bertambah , jika tingkat suku bunga diasumsikan tetap, maka volume keseimbangan investasi yang dilaksanakan pada setiap saat adalah volume R
menurun sehingga menyamai r :
![]()
Investasi merupakan salah satu pilar pertumbuhan ekonomi. Investasi dapat berupa investasi modal fisik maupun investasi modal manusia. Investasi fisik (physical investment) yakni semua pengeluaran yang dapat menciptakan
modal baru (Mankiw, 2000). Menurut Samuelson dan Nordhaus (1996), investasi merupakan suatu hal yang penting dalam pembangunan ekonomi karena investasi ini dibutuhkan sebagai faktor penunjang di dalam peningkatan proses produksi. Dengan demikian investasi diartikan sebagai pengeluaran atau pembelanjaan penanam-penanam modal atau perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan perlengkapan-perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan memproduksi barang dan jasa yang tersedia dalam perekonomian, sehingga investasi disebut juga dengan penanaman modal (Sukirno, 2010).
Kegiatan investasi yang dilakukan oleh masyarakat secara terus menerus akan meningkatkan kegiatan ekonomi dan kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan nasional dan meningkatkan taraf kemakmuran masyarakat. Peranan ini bersumber dari tiga fungsi penting dari kegiatan investasi, yakni :
- Investasi merupakan salah satu komponen dari pengeluaran agregat, sehingga kenaikan investasi akan meningkatkan permintaan agregat, pendapatan nasional serta kesempatan kerja.
- Pertambahan barang modal sebagai akibat investasi akan menambah kapasitas produksi.
- Investasi selalu diikuti oleh perkembangan teknologi (Sukirno, 2000).
Investasi dilaksanakan oleh pemilik-pemilik modal untuk mendapatkan suatu keuntungan dari usaha yang dilaksanakannya. Peranan modal dalam pembangunan ekonomi mutlak diperlukan untuk pembiayan pembangunan yang akan dilaksanakan. Karena jika modal yang tersedia cukup besar maka pembangunan akan lebih lancar sebab dapat dilakukan investasi kepada beraneka macam sektor ekonomi. Modal merupakan faktor penting, sebab dengan tersedianya modal maka faktor-faktor produksi lainnya akan dapat terpenuhi. Investasi yang diinvestir dalam pembangunan ekonomimengutamakan kepada service motive yakni pemberian pelayanan, dorongandorongan kepada mesyarakat walaupun pertimbangan ekonomi juga diperhatikan (Hasibuan, 1987).
