Ekonomi Austria dan Stabilitas Moneter


Ekonomi Austria dan Stabilitas Moneter
     

Secara historis, Austria School of economics didirikan pada tahun 1871 oleh Carl Menger. Menger berpendapat bahwa analisis ekonomi berlaku universal dan unit analisis yang sesuai adalah manusia dan pilihannya. Pilihan ini ditentukan oleh preferensi subjective marginal utility untuk keputusan yang dibuat (marginalisme).

Pada 1930-an dan 1940-an, Austria school pindah ke Inggris dan Amerika Serikat, sehingga pusat dari pada ilmu ekonomi Austria berada di London School of Economics (1931-1950), New York University (1944), Auburn University (1983), dan George Mason University (1981). Banyak ide-ide dari para ekonom Austria terkemuka yang muncul pada abad kedua puluh pertengahan ini, seperti Ludwig Von Mises dan F.A. Hayek, berakar pada ide-ide para ekonom klasik seperti Adam Smith dan David Hume, atau tokoh-awal abad kedua puluh seperti Knut Wicksell, Menger, Bohm Bawerk, dan Friedrich Von Wieser. Ini campuran beragam tradisi intelektual dalam ilmu ekonomi bahkan lebih jelas dalam ekonom sekolah Austria kontemporer, yang telah dipengaruhi oleh tokoh-tokoh modern di bidang ekonomi. Termasuk di dalamnya Armen Alchian, James Buchanan, Ronald Coase, Harold Demsetz, Axel Leijonhufvud, Douglass Utara, Mancur Olson, Vernon Smith, Gordon Tullock, Leland Yeager, Oliver Williamson, Israel Kirzner, dan Murray Rothbard.

Dalam perkembangannya, pemikiran ekonomi Austria tidak hanya fokus pada ilmu ekonomi mikro, tetapi juga sudah merambat ke arah pembahasan ekonomi makro dan moneter. Memang dalam sejarah awalnya, pemikiran ekonomi Austria lebih banyak berbicara pada level mikro, seperti pada utilitas, pasar, dan harga. Dalam teori ekonomi moneter, pemikiran ekonomi Austria banyak menyumbangkan khazanah kelimuan. Pemikiran yang popular adalah ketidaknetralan uang (Money is non neutral). Menurut Mazhab ini, uang dapat didefinisikan sebagai media yang diterima secara umum pertukaran. Jika kebijakan pemerintah mendistorsi unit moneter, nilai tukar terdistorsi juga. Tujuan dari kebijakan moneter harus untuk meminimalkan distorsi. Setiap kenaikan jumlah uang beredar tidak diimbangi dengan peningkatan permintaan uang akan menyebabkan kenaikan harga. Tapi harga tidak seketika menyesuaikan dengan aktivitas perekonomian. Beberapa penyesuaian harga terjadi lebih cepat daripada yang lain, yang berarti bahwa perubahan harga relatif.

Setiap perubahan ini memberikan pengaruh terhadap pola pertukaran dan produksi. Sehingga menurut mereka, uang, berdasarkan sifatnya, sehingga tidak bisa bersikap netral.

Lebih lanjut, dengan sifat uang ini memudahkan dalam rangka membahas biaya inflasi. Teori kuantitas uang menyatakan bahwa mencetak uang tidak meningkatkan kekayaan. Dengan demikian, jika pemerintah menggandakan jumlah uang beredar, keuntungan pemegang uang menjadi tidak berguna karena ketidakmampuan untuk membeli barang yang naik harganya. Jika harga hanya naik dua kali lipat ketika pemerintah menggandakan dua kali lipat jumlah uang beredar, maka pelaku ekonomi akan mengantisipasi penyesuaian harga ini dengan penyesuaian dengan jumlah uang yang beredar di masyarakat, tetapi tetap dengan tujuan meminimalkan biaya inflasi.

Tetapi menurut pemikiran ekonomi Austria, inflasi secara sosial dapat menciptakan guncangan pada beberapa tingkatan. Pertama, inflasi merupakan instrument pemerintah untuk mengurangi tingkat kekayaan masyarakat. Kedua, inflasi tak terduga adalah redistributif sebagai keuntungan debitur dengan mengorbankan kreditur. Ketiga, inflasi dapat mendistorsi pola pertukaran dan produksi.

Karena uang adalah link untuk hampir semua transaksi dalam ekonomi modern, maka distorsi moneter mempengaruhi seluruh transaksi tersebut. Oleh karena itu, tujuan dari kebijakan moneter, harus untuk meminimalkan distorsi moneter.

Inilah landasan teori pemikiran ekonomi Austria atas ketidaksepakatan mereka dengan implementasi fractional reserve banking yang selama ini dijalankan di bank komersial dengan kemampuan mereka menciptakan uang, karena akan berdampak money supply yang tidak seimbang dan menyebabkan inflasi sehingga merusak alur pertumbuhan ekonomi. Output dari pemikiran ekonomi Austria dalam aspek moneter adalah fractional reserve free-banking.

Sumber Bacaan

Jeff Biddle and Warren Samuels, eds., Blackwell Companion to the History of Economic Thought (Oxford: Basil Blackwell, 2002).

Hayek, F. A. Individualism and Economic Order. (Chicago: University of Chicago Press, 1948). Baca juga Hayek, F. A.. “Economic Thought VI: The Austrian School of Economics,” International Encyclopedia of the Social Sciences. (New York: Macmillan, 1968)

Peter J. Boettke, Austrian School of Economics

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code