Perbankan Islam dan Maslahah
   

Teori dan konsep ekonomi dan perbankan Islam berakar dari prinsip-prinsip syariah yang bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan. Oleh karena itu, praktek dan sistem yang diterapkan di Perbankan Islam memuat nilai dan ajaran yang Islami. Salah satu ajaran yang terpenting adalah terwujudnya keadilan yang lebih besar dalam kehidupan bermasyarakat. Adapaun keadilan dalam sistem perbankan adalah praktek yang berdasarkan nilai-nilai moral, seperti pemodal harus berbagi risiko dengan pengusaha, dan sumber daya keuangan mestinya dimobilisasi oleh lembaga keuangan untuk masyarakat miskin dalam rangka membantu menghilangkan kemiskinan, memperluas kesempatan kerja dan wirausaha, sehingga dapat mengurangi kesenjangan pendapatan dan kekayaan.

Dalam konteks manajemen resiko, bank Islam dan konvensional memiliki karakter tersendiri sesuai dengan nilai dan motif yang mendasarinya. Dalam manejemen resiko, Bank konvensional lebih suka memilih risk shifting (pengalihan resiko) sebagai standar manajemen yang baik. Risk shifting ini bekerja dengan menukar resiko yang tidak pasti dengan sejumlah uang yang pasti. Dengan kata lain, biaya bunga telah menghapus resiko bank, tetapi memberikan beban biaya kepada peminjam. Dalam pandangan Islam, risk shifting dikatagorikan perjudian, karena hanya satu pihak yang benar-benar mendapat keuntungan bahkan tanpa kerja keras dan usaha yang maksimal, inilah yang disebut maisir.

Risk shifting terhadap sistem perekonomian berimplikasi pada terjadinya exessive lending. Pinjaman yang berlebihan (exessive lending) ini biasanya berpijak

pada maksimaslisasi profit yang diinginkan bank. Dalam keadaan normal, semakin tinggi kredit, maka akan semakin tinggi keuntungan bank. Namun ketika kredit itu berlebih, menyebabkan sisi demand semakin tinggi, terutama pada perilaku berkonsumsi, dan jelas akan menyebabkan kenaikan harga. Exessive lending berasal dari leverage yang tinggi. Semakin tinggi leverage, semakin sulit untuk turun. Sehingga pada gilirannya menimbulkan “lingkaran setan” kredit yang menjadi boomerang tersendiri bagi perbankan yaitu “boom waktu” krisis keuangan. Boomerang tersebut berupa ketidakmampuan nasabah untuk mengembalikan pinjaman yang ditambah dengan beban bunga. Terutama jika kredit tersebut tidak digunakan secara produktif, maka kemampuan untuk membayar hutang tidak naik secara proporsional dan menyebabkan kemungkinan depault semakin besar, seperti pada peristiwa krisis sub-prime mortgage.

Berbeda dengan risk shifting, Islam menggunakan risk sharing, dengan pertimbangan terhadap risiko, tetap realistis dan berhati-hati. Sehingga menolak ketidakpastian yang berlebihan (gharar kathir). Tambahan kekayaan dikelola dengan menggunakan kekayaan yang ada melalui usaha berisiko sehingga harus dibagi antara pengelola dana (mudharib) dan pemilik dana (shohibul maal) dan keduanya sama-sama menanggung risiko dan kerugian jika terjadi. Perbedaan persepsi antar pihak atas kemungkinan risiko yang terjadi akan menjadi penentu nisbah dalam menentukan tingkat profit and loss sharing. Meskipun motif masing-masing pihak membuat keuntungan, tetapi sangat berbeda dari keputusan dalam perjudian. Bedanya adalah ada kekayaan riil yang akan dibuat, keuntungan nyata yang akan diperoleh. Di samping itu, di dalam risk sharing, baik pembeli maupun penjual risiko mempunyai saham dalam penciptaan kekayaan riil.

Kegagalan bank konvensional berakar dari sistem Fractional reserve banking yang sebenarnya telah digunakan oleh sistem perbankan Eropa selama lebih 400-an dan merupakan salah satu sistem perbankan modern yang kontroversial.9 Berbeda dengan Bank konvensional, di dalam Bank Islam current account dioperasikan berdasarkan konsep wadi’ah yang memungkinkan pemilik dana dapat menarik dana miliknya sewaktu-waktu. Cash reserve ratio sebesar 100% akan diterapkan pada rekening tersebut. Dalam konteks ini, Perbankan Islam boleh mengambil keuntungan dari service charge yang dibebankan kepada nasabah sebagai biaya administrasi.

Berkaitan dengan current account (wadi’ah) ini, terdapat beberapa pendapat mengenai operasionalnya diperbankan Islam.11 Sebagian pakar berpendapat bahwa deposito berdasarkan current account dapat digunakan oleh bank untuk memberikan pinjaman bebas bunga, meskipun di dalam pelaksanaannya harus dilakukan dengan seizin pemilik dana. Namun, yang harus digarisbawahi adalah terdapat 2 batasan penting pada jenis rekening wadiah ini. Pertama, deposito harus tersedia untuk penarikan segera hanya jika kondisi likuiditas memadai, dan kedua, setiap manfaat atau resiko yang timbul dari peminjaman dana-dana ini akan ditanggug oleh penyimpan. Dengan cara seperti ini, bahaya dalam sistem ekonomi yang telah dibahas sebelumnya, yaitu ancaman dari fractional reserve banking tidak akan mungkin ada. Menurut Muhammad Nejatullah Siddiqi, secara prinsip, perbankan Islam memiliki fungsi sangat sederhana dan sangat tradisionalis13 jika dibandingkan dengan fungsi perbankan konvensional, walaupun seiring dengan perkembangan zaman dan pertimbangan maslahat, tidak menutup kemungkinan operasional perbankan Islam akan terus berkembang. Secara detail, mode keuangan Islam menurut Siddiqi sebagai berikut:

  1. Seharusnya bank syariah tidak membuka rekening giro, sehingga tidak ada kemungkinan untuk menciptakan uang (money creation).
  2. Rekening investasi di bank syariah berbeda dengan tabungan di bank konvensional, yaitu deposito berjangka di bank syariah sangat tergantung dengan fluktuasi bisnis.
  3. Investasi tabungan masyarakat yang dikelola bank syariah sering berbentuk aset fisik (physical assets), baik bergerak maupun tidak bergerak.

Dengan fitur ini, tidak ada alasan bagi bank syariah untuk menyediakan cadangan (reserve ratio) terhadap rekening investasi.

Secara lebih rinci, perbankan Islam dikenal dengan interest free banking dan memiliki sistem yang dibangun untuk membiayai kegiatan usaha yang sebagian besar didasarkan pada pembagian untung-rugi (Profit Loss Sharing), yaitu berupa mode mudarabah (kemitraan pasif) dan musharakah (kemitraan aktif). Tangguhan perdagangan (murabahah) dan pinjaman bebas bunga (qurūd hasanah) juga digunakan untuk membiayai konsumen serta transaksi bisnis.

Sumber Bacaan

Abdullah Kelib, dan Muzamil M.Mawardi, Asas-Asas Hukum Islam, ( Semarang.: 1982).

M.Umer Chapra,” The Global Financial Crisis: Can Islamic Finance Help?”, IIUM Journal of Economics and Management 16, No. 2 (2008), h. 120

Mabid Ali Al-Jarhi, “Remedy For Banking Crises: What Chicago And Islam Have In Common: A Comment”, JournalIslamic Economic Studies Vol. 11, No. 2, 2004.

Tarek El-Diwany, The Problem With Interest : Sistem Bunga dan Permasalahannya, terj. Amdiar Amir, (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2003), h. 207

H.A. Djazuli, dan Yadi Janwari, Lembaga Lembaga Perekonomian Umat: Sebuah Pengenalan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), h. 65.

El-Diwany, The Problem With Interest, h. 208

Fungsi ini dianggap lebih terkontrol dibanding sistem perbankan konvensional yang sudah “liar” bahkan tidak terkendali. Baca lebih lanjut Muhammad Nejatullah Siddiqi, “Islamic Banks: Concept, Precept And Prospects”, Journal of King Abdulaziz University: Islamic Economics, Vol. 10, 1998, h. 43-59.

Muhammad Nejatullah Siddiqi, “Impact of Islamic Modes of Finance on Monetary Expansion”, Journal of King Abdulaziz University: Islamic Economics, Vol. 4, 1992, h. 37-46.

Tag: , , , , ,

Diposting oleh hestanto


Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code