Teori Fractional Reserve Free-Banking
   

Dalam catatan sejarah ekonomi, krisis ekonomi terus berulang, tercatat sejak tahun 1923, tahun 1930, tahun 1940, tahun 1970, tahun 1980, tahun 1990, dan tahun 1998, hingga pada tahun 2008. Di dalam buku The History of Money From Ancient time to Present Day (1996), Roy Davies dan Glyn Davies menjelaskan dengan jelas kronologi krisis ekonomi dunia secara menyeluruh. Sepanjang Abad 20 telah terjadi lebih 20 kali krisis besar yang melanda banyak negara. Ini berarti, rata-rata setiap 5 tahun terjadi krisis keuangan hebat yang mengakibatkan penderitaan bagi ratusan juta umat manusia.1 Fenomena krisis ekonomi di atas adalah persoalan fundamental yang tidak berkesudahan selama sistem moneter masih berbasis pada bunga.

Dalam beberapa dekade ini, pertumbuhan perbankan Islam sebagai representasi ekonomi Islam telah menyita banyak perhatian. Perbankan Islam telah banyak berdiri di berbagai negara, bukan saja di negara mayoritas muslim, tetapi juga di wilayah yang minoritas, seperti Inggris, Jepang, dan Amerika. Bahkan Earnst dan Young memberikan prediksi perkembangan industri perbankan syariah untuk tahun-tahun mendatang.

Dalam beberapa dekade ini, pertumbuhan perbankan Islam sebagai representasi ekonomi Islam telah menyita banyak perhatian. Perbankan Islam telah banyak berdiri di berbagai negara, bukan saja di negara mayoritas muslim, tetapi juga di wilayah yang minoritas, seperti Inggris, Jepang, dan Amerika. Bahkan Earnst dan Young memberikan prediksi perkembangan industri perbankan syariah untuk tahun-tahun mendatang.

Secara operasional, harus diakui bahwa perbankan syariah belum menemukan konsep yang jelas dalam menjalankan perbankan yang benar-benar Islami. Karena bank syariah masih menerapkan fractional reserve banking. Padahal Fractional reserve sistem yang telah diterapkan sebagai sistem perbankan Eropa selama lebih 400-an tahun ini adalah salah satu sistem perbankan modern yang dinilai oleh para ekonom sebagai sumber masalah yang sistemik dan menyebabkan crises event berulang-ulang.

Secara teknis, dengan sistem ini perbankan secara tidak langsung telah memiliki kemampuan untuk menciptakan uang sendiri (creation money), sehingga kuantitas uang yang beredar di masyarakat dapat diilustrasikan sebagai piramida terbalik yaitu, reserve basic yang lebih kecil dari jumlah deposito dan kredit.3 Proporsi uang fisik direpresentasikan sebagai deposito di rekening bank, di mana untuk sebagian besar uang hampir sepenuhnya diwakili oleh deposito bank elektronik dan transfer.

Akibatnya, tidak jarang perbankan menjadi sumber penyebab krisis perekonomian, disebabkan dari kekurangan likuiditas. Berdasarkan sejumlah penelitian terbaru seperti Cavalcanti (2004), Singh (2009), Krainer (2013), Sanches (2013), Chary (2013), menunjukkan bahwa bank akan memiliki risiko likuiditas4 lebih besar jika menerapkan fractional reserve banking. Tatanan perekonomian global terus mengalami instabilitas dan merusak pundipundi usaha masyarakat dunia, sehingga menciptakan kemiskinan dan pengangguran yang menjadi momok menakutkan bagi setiap orang.

TEORI-TEORI FRACTIONAL RESERVE

  • Positive Money yang berdomisili di Inggris,
  • New Economics Foundation (NEF)
  • Chicago’ plan,
  • Narrow Banking
  • Limited Purpose Banking (LPB).

POSITIVE MONEY DAN NEF

  • Poistive Money dan New Economics Foundation (NEF) bertujuan untuk memastikan bahwa bank-bank komersial tidak lagi memiliki kemampuan untuk menciptakan uang dan memisahkan sistem pembayaran dari akun lending (penciptaan kredit) dan aktivitas investasi yang dilakukan oleh bank.
  • PM dan NEF lebih teknis dengan membuat akun baru yang bisa digunakan oleh bank seperti akun transaksi (Transaction accounts), akun investasi (Investment accounts) dan akun operasional (Operational accounts).

Chicago Plan

  • Kritik para ekonom Chicago pada umumnya terletak pada kemampuan sistem fractional reserve banking yang digunakan bank untuk menciptakan uang dari ketiadaaan (creating money out of nothing).
  • Ekonom Chicago mengusulkan rangkaian plan yang salah satunya dengan menganjurkan pemisahan fungsi uang dan kredit perbankan.
  • Secara implikatif, setidaknya peran bank akan terbagi menjadi dua, yaitu sebagai “money bank” dan ‘credit investment trusts”.

Narrow Banking

  • Usulan Narrow banking adalah menghapus kemampuan bank untuk memanfaatkan asuransi pemerintah atau jaminan deposito dan giro. Asuransi deposito hanya bisa berlaku untuk mem-back up aset yang likuid.
  • Narrow Banking menyediakan dua layanan utama, yaitu payment system dan tabungan.

Limited Purpose Banking (LPB)

Di bawah LPB, semua industri keuangan memiliki keterbatasan liability untuk dioperasikan layaknya holding companies melalui mekanisme mutual funds. Semua bentuk intermediary dalam usulan ini diperlakukan sama untuk menciptakan sistem yang lebih sederhana di mana tidak ada jaminan pemerintah. Mutual funds tidak diperbolehkan meminjamkan dana kecuali untuk investasi yang berbasis ekuitas (based-equaity).

 

Sumber Bacaan

Roy Davies and Glyn Davies. The History of Money From Ancient Time of Present Day, (New York : Oxport University Press, 1996), h. 13.

Mabid Ali Al-Jarhi, “Remedy For Banking Crises: What Chicago And Islam Have In Common: A Comment”, dalam JurnalIslamic Economic Studies Vol. 11, No. 2, 2004.

Valeriano F. García,Vicente Fretes Cibils,And Rodolfo Maino, “Remedy For Banking Crises: What Chicago And Islam Have In Common”, dalam JurnalIslamic Economic Studies. Vol. 11, No. 2, 2004, h. 4.

Tag: , , ,

Diposting oleh hestanto


Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code