Lowballing Audit Menurut Beberapa Cendekiawan

Lowballing Audit Menurut Beberapa Cendekiawan

Teori LowBalling

Teori Low Balling dikemukakan oleh De Angelo (1981) dalam Wahyuni dan Fitriany (2012) yang menyebutkan bahwa independensi auditor cenderung dikompromikan hanya pada awal masa penugasan karena fee pada awal masa penugasan masih rendah. Auditor melakukan hal tersebut untuk menutupi cost auditor pada masa penugasan selanjutnya.

Dye (1991) dalam Efraim (2010) berpendapat bahwa low-balling mendorong auditor untuk membuat suatu opini yang akan menguntungkan klien di awal periode penugasan, sehingga auditor berharap akan mendapatkan pendapatan tambahan pada periode selanjutnya. Semakin bertambah masa penugasan auditnya, auditor akan lebih memahami bisnis dan lingkungan klien sehingga meningkatkan kompetensinya. Menurut Wahyuni dan Fitriany (2012) meningkatnya kompetensi auditor tersebut berhubungan dengan tenure audit dimana tenure akan turun pada titik tertentu, dan pada akhirnya meningkat kembali.

     

Lowballing Cost

Menurut DeAngelo ( 1981 ), pengertian dari lowballing cost adalah “penetapan fee yang lebih rendah ( discount ) dari penetapan fee yang seharusnya diberikan oleh Kantor Akuntan Publik ( KAP ) dengan kliennya dengan tujuan memperoleh klien yang lebih banyak dan lebih cepat”. Lowballing cost pasti terjadi pada saat biaya transaksi, yaitu pada saat perusahaan membiayai penugasan pertama kali auditor ( auditor start-up costs ) dan juga biaya pada pergantian auditor dari auditor sebelumnya ( client switching costs ).

Menurut AICPA ( 1978 ), lowballing adalah “suatu praktek dimana auditor mengenakan fee awal penugasan audit di bawah harga semestinya dengan tujuan untuk memperoleh bisnis”.

Menurut ACCA ( Association of Chatered Certified Accountants, 2006 ) mengemukakan

“Lowballing is the ‘loss-leading’ practice in which auditors compete for clients by reducing their fees for statutory audits. Lower audit fees are then compensated by the auditor carrying out more lucrative non-audit work (e.g. consultancy and tax advice). Audits may even be offered for free. Such ‘predatory pricing’ may undercut an incumbent auditor to secure an appointment into which higher price consultancy services may be sold.”

Terjemahannya adalah Lowballing adalah suatu praktek yang merugikan di mana auditor bersaing untuk klien dengan mengurangi biaya mereka untuk audit hukum. Biaya audit yang lebih rendah kemudian dikompensasi oleh auditor melakukan lebih menguntungkan non-audit kerja (misalnya konsultasi dan saran pajak). Audit bahkan mungkin akan ditawarkan secara gratis. Seperti predatory pricing dapat melemahkan kewajiban auditor untuk mengamankan janji di mana harga yang lebih tinggi layanan konsultasi dapat dijual. Ada risiko ketidakmampuan jika pekerjaan non-audit yang tidak terwujud dan perusahaan lowballing datang di bawah tekanan untuk memotong sudut atau resor untuk praktik tidak teratur (misalnya pemalsuan audit kertas kerja) untuk tetap dalam anggaran. Namun, kurangnya kualitas audit hanya dapat ditemukan jika situasi muncul bahwa perusahaan runtuh dan auditor dibebankan dengan kelalaian.

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *