Auditing Menurut Para Cendekiawan

Auditing Menurut Para Cendekiawan

Menurut Arens dan Loebbecke ( 2003 ), auditing adalah “pengumpulan dan evaluasi bukti tentang informasi untuk menentukan dan melaporkan derajat kesesuaian antara informasi itu dan kriteria yang ditetapkan”. Auditing harus dilakukan oleh pihak yang kompeten dan independen. Dari definisi ini mencakup beberapa kata atau frase kunci yaitu informasi dan kriteria yang telah ditetapkan, mengumpulkan dan mengevaluasi bukti, dan orang yang kompeten dan independen.

Maurtz dan Sharaf ( 1961 ) mengemukakan bahwa “auditing is analytical, not constructive; it is critica, investigative, concerned with the basis for accounting measurement and assertion”. Terjemahaanya adalah auditing bersifat analitikal, tidak bersifat menyusun atau membangun, bersifat kritikal ( mempertanyakan ), investigatif ( menyelidik ), berurusan dengan dasar – dasar pengukuran dan aseri akuntansi. Auditing berhubungan dengan verification ( memeriksa keakuratan atau ketelitian ), pemeriksaan data keuangan untuk menilai kejujurannya dalam mencerminkan peristiwa dan kondisi. Data keuangan pada dasarnya asersi mengenai fakta yang intangible ( assertion of intangible ).

     

Verification harus menerapkan teknik dan metode pembuktian. Pembuktian adalah bagian dari field of logic ( bidang logika ) yang oleh sebagian orang diistilahkan sebagai science of proof atau ilmu pembuktian.

Pengertian menurut Mulyadi ( 2002 ) ialah “suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi secara objektif mengenai pernyataan – pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi”. Tujuaanya adalah untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan – pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil – hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan. Menurut (Mulyadi, 2002), berdasarkan beberapa pengertian auditing di atas maka audit mengandung unsur-unsur:’

  • Suatu proses sistematis, artinya audit merupakan suatu langkah atau prosedur yang logis, berkerangka dan terorganisasi. Auditing dilakukan dengan suatu urutan langkah yang direncanakan, terorganisasi dan bertujuan.
  • Untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif, artinya proses sistematik ditujukan untuk memperoleh bukti yang mendasari pernyataan yang dibuat oleh individu atau badan usaha serta untuk mengevaluasi tanpa memihak atau berprasangka terhadap bukti-bukti tersebut.
  • Pernyataan mengenai kegiatan dan kejadian ekonomi, artinya pernyataan mengenai kegiatan dan kejadian ekonomi merupakan hasil proses akuntansi.
  • Menetapkan tingkat kesesuaian, artinya pengumpulan bukti mengenai pernyataan dan evaluasi terhadap hasil pengumpulan bukti tersebut dimaksudkan untuk menetapkan kesesuaian pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan. Tingkat kesesuaian antara pernyataan dengan kriteria tersebut kemungkinan dapat dikuantifikasikan, kemungkinan pula bersifat kualitatif.
  • Kriteria yang telah ditetapkan, artinya kriteria atau standar yang dipakai sebagai dasar untuk menilai pernyataan (berupa hasil akuntansi) dapat berupa peraturan yang ditetapkan oleh suatu badan legislatif, anggaran atau ukuran prestasi yang ditetapkan oleh manajemen, prinsip akuntansi berterima umum (PABU) di Indonesia.
  • Penyampaian hasil (atestasi), dimana penyampaian hasil dilakukan secara tertulis dalam bentuk laporan audit (audit report)
  • Pemakai yang berkepentingan, pemakai yang berkepentingan terhadap laporan audit adalah para pemakai informasi keuangan, misalnya pemegang saham, manajemen, kreditur, calon investor, organisasi buruh dan kantor pelayanan pajak.

Pengertian auditing menurut ASOBAC ( A Statement of Basic Auditing Concepts ) ialah “suatu proses sistematis untuk menghimpun dan mengevaluasi bukti – bukti secara objektif mengenai asersi – asersi tentang berbagai tindakan dan kejadian ekonomi untuk menentukan tingkat kesesuaian antara asersi – asersi tersebut dengan kriteria yang telah ditentukan dan menyampaikan hasilnya kepada para pemakai yang berkepentingan”.

Menurut Sukrisno Agoes ( 2004 ), auditing adalah “suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis oleh pihak yang independen, terhadap laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya, dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut”.

Audit merupakan pengumpulan dan evaluasi bukti tentang informasi yang digunakan untuk melaporkan tingkat kesesuaian antara informasi yang didapat dengan kriteria yang telah ditetapkan. Audit harus dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen. Orang yang melakukan tugas audit dalam perusahaan atau organisasi disebut dengan auditor. Auditor nantinya akan bertugas mengaudit sebuah laporan keuangan baik dalam sebuah organisasi maupun dalam perusahaan. Auditor akan mengaudit informasi yang dapat diukur seperti laporan keuangan, SPT pajak penghasilan perorangan, efektivitas sistem komputer dan efisiensi operasi manufaktur.

Seorang auditor harus memiliki sifat yang independen dan objektif dalam menjalankan tugasnya agar kualitas audit yang dihasilkan baik. Menurut The Auditing Practice Commite, auditor memiliki tanggung jawab untuk melakukan perencanaan, pengendalian dan pencatatan pekerjaan, mengetahui sistem akuntansi dalam sebuah laporan keuangan, mengumpulkan bukti audit, melakukan pengendalian intern dan meninjau ulang laporan keuangan yang relevan.

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *