Pengertian Pembiayaan


Pengertian Pembiayaan

Pengertian Pembiayaan

Pembiayaan adalah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara Bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil Menurut Kasmir (2008:96).

Kegiatan bank yang selanjutnya setelah menghimpun dana dari masyarakat luas dalam bentuk simpanan giro, tabungan, dan deposito adalah menyalurkan kembali dana tersebut kepada masyarakat yang membutuhkannya. Kegiatan pengalokasian dana ini dikenal juga dengan istilah penyaluran dana.

     

Selanjutnya yang di kemukakan oleh Antonio (2001:160) “Pembiayaan yaitu pemberian fasilitas penyediaan dana untuk memenuhi kebutuhan pihak – pihak yang merupakan defisit unit”.

Menurut Rivai dan Arifin (2010 : 681) pembiayaan atau financing adalah pendanaan yang diberikan oleh suatu pihak kepada pihak lain untuk mendukung investasi yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun lembaga. Dengan kata lain, pembiayaan adalah pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung investasi yang telah direncankan.

Adapun pengertian pembiayaan menurut Ridwan (2005:163) Pembiayaan sering digunakan untuk menunjukkan aktivitas utama BMT karena berhubungan dengan rencana memperoleh pendapatan. Berdasarkan UU No. 7 tahun 1992 yang dimaksud pembiayaan adalah “penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu berdasarkan tujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu ditambah dengan jumlah bunga, imbalan atau pembagian hasil”.

Dari dua pengertian diatas secara sederhana pembiayaan dapat diartikan sebagai penyediaan dana dari lembaga kepada pihak lain yang membutuhkan dana yang mempunyai jangka waktu tertentu dalam pengembaliannya disertai pembayaran sejumlah imbalan atau bagi hasil.

Fungsi Pembiayaan

Menurut Rivai dan Veithzal (2008:7) Pembiayaan mempunyai peranan yang sangat penting dalam perekonomian. Secara garis besar fungsi pembiayaan di dalam perekonomian, perdagangan, dan keuangan dapat dikemukakan sebagai berikut :

  1. Pembiayaan dapat meningkatkan utility (daya guna) dari modal/uang
  2. Pembiayaan meningkatkan utility (daya guna) suatu barang
  3. Pembiayaan meningkatkan peredaran dan lalu lintas barang
  4. Pembiayaan menimbulkan gairah usaha masyarakat
  5. Pembiayaan sebagai alat stabilisasi ekonomi

Kualitas Pembiayaan dan Analisis pembiayaan

a) Kualitas pembiayaan

Menurut Rivai dan Veithzal dalam buku Islamic financial management (2008 :33) membagi kualitas pembiayaan menjadi lima kategori yaitu:

Pembiayaan Lancar (Pass)

Pembiayaan yang digolongkan lancar apabila memenuhi kriteria antara lain :

  1. Pembayaran angsuran pokok dan/atau bunga tepat waktu; dan
  2. Memiliki mutasi rekening yang aktif; atau
  3. Bagian dari pembiayaan yang dijamin dengan agunan tunai(cash collateral)

Perhatian khusus (Spesial Mention)

Pembiayaan digolongkan pembiayaan dalam perhatian khusus apabila memenuhi kriteria :

  1. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga bagi hasil yang belum melampui sembilan puluh hari; atau
  2. Kadang-kadang terjadi cerukan; atau
  3. Mutasi rekening relatif aktif; atau
  4. Jarang terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan; atau
  5. Didukung oleh pinjaman baru

Kurang Lancar (Substandard)

Pembiayaan yang digolongkan ke dalam pembiayaan kurang lancar apabila memenuhi kriteria :

  1. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bagi hasil
  2. Sering terjadi cerukan; atau
  3. Frekuensi mutasi rekening relatif rendah; atau
  4. Terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan lebih dari sembilan puluh hari; atau
  5. Terjadi indikasi masalah keuangan yang dihadapi debitur; atau
  6. Dokumentasi pinjaman yang lemah

Diragukan (Doubtful)

Pembiayaan yang digolongkan ke dalam pembiayaan diragukan apabila memenuhi kriteria:

  1. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga
  2. Terjadi cerukan yang bersifat permanen; atau
  3. Terjadi wanprestasi lebih dari 180 hari; atau
  4. Terjadi kapitalisasi bunga; atau
  5. Dokumentasi hukum yang lemah baik untuk perjanjian pembiayaan maupun pengikatan jaminan.

Macet (Loss)

Pembiayaan yang digolongkan ke dalam pembiayaan macet apabila memenuhi kriteria:

  1. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga;
  2. Kerugian operasional ditutup dengan pinjaman baru; atau
  3. Dari segi hukum maupun kondisi pasar, jaminan tidak dapat dicairkan pada nilai wajar

B) Analisis pembiayaan

Analisis pembiayaan atau penilaian dilakukan oleh account officer dari lembaga keuangan yang level jabatannya adalah level seksi atau bagian atau dapat pula berupa committee (tim) yang ditugaskan untuk menganalisis permohonan pembiayaan. Pemberian pembiayaan kepada seorang nasabah terlebih dahulu harus memenuhi persyaratan yang dikenal dengan prinsip 6C. keenam prinsip klasik tersebut adalah sebagai berikut :

a) Character
Character adalah keadaan waktu atau sifat nasabah, baik dalam kehidupan pribadi maupun lingkungan usaha. Kegunaan dari penelitian terhadap karakter ini adalah pengetahuan sampai sejauh mana iktikad/kemampuan nasabah untuk memenuhi kewajibannya (willingness to pay) sesuai dengan perjanjian yang telah ditetapkan.

b) Capital
Capital adalah jumlah dana atau modal sendiri yang dimiliki oleh calon nasabah. Semakin besar modal sendiri dalam perusahaan, semakin tinggi kesungguhan calon nasabah menjalankan usahanya dan bank akan merasa lebih yakin memberikan pembiayaan.

c) Capacity
Capacity adalah kemampuan yang dimiliki calon nasabah dalam menjalankan usahanya guna memperoleh laba yang diharapkan. Kegunaan dari penelitian ini adalah mengetahui atau mengukur sejauh mana calon nasabah mampu mengembalikan atau melunasi utang-utangnya (ability to pay) secara tepat waktu, dari hasil usaha yang diperolehnya.

d) Collateral
Collateral adalah barang yang diserahkan nasabah sebagai agunan terhadap pembiayaan yang diterimanya. Collateral harus dinilai untuk mengetahui sejauh mana resiko kewajiban finansial nasabah kepada bank. Penelitian terhadap agunan ini meliputi jenis, lokasi, bukti kepemilikan dan status hukumnya.

e) Condition of Economy
Condition of Economy adalah situasi dan kondisi politik, sosial, ekonomi, dan budaya yang mempengaruhi keadaan perekonomian yang kemungkinan suatu saat mempengaruhi kelancaran perusahaan calon nasabah.

f) Constraints
Constraints adalah batasan dan hambatan yang tidak memungkinkan suatu bisnis untuk dilaksanakan pada tempat tertentu, misalnya pendirian suatu usaha pompa bensin yang disekitarnya banyak bengkel las atau pembakaran batu bata. (Wardiah,2013 :228-233)

Setelah dilakukan analisis selanjutnya akan dilakukan penilaian kredit dengan metode 7P adalah sebagai berikut:

1) Personality
Personality yaitu menilai nasabah dari segi kepribadianya atau tingkah laku sehari-hari maupun masa lalunya. Personality juga mencakup sikap, emosi, tingkah laku dan tindakan nasabah dalam menghadapi suatu masalah.

2) Party
Party yaitu mengklasifikasikan nasabah kedalam klasifikasi tertentu atau golongan tertentu berdasarkan modal, loyalitas serta karakternya. Sehingga nasabah dapat digolongkan ke golongan tertentu dan akan mendapatkan fasilitas yang berbeda dari bank.

3) Purpose
Purpose yaitu untuk mengetahui tujuan nasabah dalam mengambil kredit, termasuk jenis pembiayaan yang diinginkan nasabah. Tujuan pengambilan pembiayaan dapat bermacam-macam. Sebagai contoh apakah untuk modal kerja atau investasi, konsumtif atau produktif, dan lain sebagainya.

4) Prospect
Prospect yaitu untuk menilai usaha nasabah dimasa yang akan datang menguntungkan atau tidak, atau dengan kata lain mempunyai prospek atau sebaliknya. Hal ini penting mengingat jika suatu fasilitas pembiayaan yang dibiayai tanpa mempunyai prospek, bukan hanya bank yang rugi melainkan juga nasabah.

5) Payment
Merupakan ukuran bagiamana cara nasbah dalam mengembalikan kredit yang telah diambil atau dari sumber mana saja dana untuk pengembalian kredit. Semakin banyak sumber penghasilan debitor maka akan semakin baik. Dengan demikian jika salah satu usahanya merugi maka masih dapat ditutupi oleh sektor lain.

6) Profitability
Untuk menganalisis bagaimana kemampuan nasabah dalam mencari laba. Profitability diukur dari periode ke periode apakah akan tetap sama atau akan semakin meningkat, apalagi dengan tambahan kredit yang akan diperolehnya.

7) Protection
Tujuanya adalah bagaimana menjaga agar usaha dan jaminan mendapatkan perlindungan. Perlindungan dapat berupa jaminan barang atau orang atau jaminan asuransi.

Sistem Pembiayaan

Menurut Antonio (2001:160) menurut sifat penggunaannya, pembiayaan dibagi menjadi dua hal yakni pembiayaan produktif dan pembiayaan konsumtif.

Pembiayaan Produktif

Pembiayaan produktif Yaitu pembiayaan yang ditunjukkan untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam arti luas yaitu untuk meningkatkan usaha, baik usaha produksi, perdagangan ataupun investasi.

Pembiayaan Konsumtif

Pembiayaan konsumtif Yaitu pembiayaan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, yang akan habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan.

Selanjutnya menurut keperluannya, pembiayaan produktif dibagi menjadi dua hal berikut :

Pembiayaan modal kerja

Yaitu pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan: peningkatan produksi, baik secara kuantitatif yaitu jumlah hasil produksi, maupun secara kualitatif yaitu peningkatan kualitas atau mutu hasil produksi dan untuk keperluan perdaganga atau peningkatan utility of place dari suatu barang.

Pembiayaan investasi

Yaitu untuk memenuhi kebutuhan barang-barang modal (capital goods) serta fasilitas-fasilitas yang erat kaitannya dengan itu.

Dalam buku Bank syariah dari teori kepraktis Menurut Antonio pembiayaan modal kerja terdiri atas komponen-komponen alat likuid (cash), piutang dagang (receivable), dan persediaan (investory) yang umumnya terdiri atas persediaan bahan baku (raw material), persediaan barang dalam proses (work in process), dan persediaan barang jadi (finished goods). Oleh karena itu, pembiayaan modal kerja merupakan salah satu atau kombinasi dari pembiayaan likuditas (cash financing), pembiayaan piutang (receivable financing), dan pembiayaan persediaan (investory financing).

Baca : Pengertian Pembiayaan Syariah dan Agunan Syariah

Pembiayaan Konvensional

Pembiayaan Konvensional merupakan kegiatan penyaluran dana kepada Masyarakat yang dilakukan oleh Bank Kovensional, dalam Perbankan Konvensional, pembiayaan lebih dikenal dengan istilah Kredit atau Pinjaman.

Kasmir (2008:96) mengemukakan ”Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara Bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil.

Dalam upaya untuk menghasilkan laba yang sebesar -besarnya maka Bank berupaya untuk dapat menyalurkan kredit kepada Masyarakat yang membutuhkan dana (deficit spending unit). Dalam penyaluran kredit tersebut pihak Bank akan membeBankan bunga kepada Masyarakat yang menggunakan kredit dari Bank tersebut. Hal ini diungkapkan oleh Martono (2007:55) “Bunga kredit adalah suatu jumlah ganti rugi atau balas jasa atas penggunaan uang oleh nasabah”.

Bunga kredit merupakan balas jasa yang sangat diharapkan oleh Bank dari semua produk pembiayaan yang ditawarkannya. Bunga memegang peran penting dalam upaya Bank dalam menghasilkan laba. Menurut Rachmat Firdaus dan Maya Ariayanti (2009:4) “Apabila pemberian kredit berjalan baik (lancar) maka bunga kredit dapat mencapai 70% sampai 90% dari keseluruhan pendapatan Bank”. Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa bunga kredit merupakan tulang punggung aktivitas Bank Konvensional, semakin lancar penerimaan bunga kredit atau pembiayaan yang didapat oleh Bank akan dapat menjamin pergerakan Bank selanjutnya.

Produk-produk pembiayaan syariah

Prinsip jual beli (Ba’i)

1) Pembiayaan Murabahah
Adalah transaksi jual beli di mana bank menyebut jumlah keuntungannya. Bank bertindak sebagai penjual, sementara nasabah sebagai pembeli. Harga jual adalah harga beli bank dari pemasok ditambah keuntungan. Kedua pihak harus menyepakati harga jual dan jangka waktu pembayaran.

2) Pembiayaan salam
Adalah transaksi jual beli dimana barang yang diperjualbelikan belum ada. Oleh karena itu, barang diserahkan secara tangguh, sementara pembayarannya dilakukan tunai.

3) Pembiayaan Istishna
Menyerupai salam namun dalam pembayarannya dapat dilakukan oleh bank dalam beberapa kali (tercermin) pembayaran.

Prinsip Sewa (Ijarah)
Bentuk penyaluran dana oleh perbankan syariah melalui prinsip persewaan dapat dilakukan dengan akad tijarah atau ijarah muntahiyah bittamlik (IMBT)

Prinsip Bagi Hasil (Syirkah)

1) Musyarakah
Adalah suatu perkongsian antara dua pihak atau lebih dalam suatu proyek di mana masing-masing pihak berhak atas segala keuntungan dan bertanggung jawab akan segala kerugian yang terjadi sesuai dengan penyertaan masing-masing.

2) Mudharabah
Adalah bentuk kerja sama antara dua atau lebih pihak di mana pemilik modal (shahibul maal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian pembagian keuntungan.

Akad Pelengkap (Perjanjian)

1) Hiwalah
Transaksi hiwalah adalah akad pengalihan atau pemindahan utang dari orang yang berhutang kepada orang lain yang wajib menanggungnya.

2) Rahn (gadai)
Dari segi bahasa, rahn berarti menahan. Istilah rahn terdapat dalam al-quran surat Al-mudatsir ayat 38, “tiap-tiap tanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya,” ini mengandung pengertian bahwa manusia itu terikat (tergadai) oleh perbuatannya sendiri.

3) Qard (pinjaman)
Ialah pemberian harta kepada orang lain yang dapat ditagih kembali atau dengan kata lain meminjamkan tanpa mengharapkan imbalan. Dalam fiqh, al-qard termasuk dalam kategori akad tabarru.

4) Wakalah
Wakalah dalam aplikasi perbankan terjadi apabila nasabah memberikan kuasa kepada bank untuk melakukan pekerjaan jasa tertentu, seperti pembukaan L/C, inkasso, dan transfer uang. (Naja. 2011:41)

Perbedaan pembiayaan dan kredit

Menurut Undang-Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998:

Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Sedangkan pengertian pembiayaan adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil.

Dari pengertian di atas dapatlah dijelaskan bahwa kredit atau pembiayaan dapat berupa uang atau tagihan yang nilainya diukur dengan uang, misalnya bank membiayai kredit untuk pembelian rumah atau mobil. Kemudian adanya kesepakatan antara bank (kreditor) dengan nasabah penerima kredit (debitor) bahwa mereka sepakat sesuai dengan perjanjian yang telah dibuatnya. Dalam perjanjian kredit tercantum hak dan kewajiban masing-masing pihak, termasuk jangka waktu serta bunga yang ditetapkan bersama. Demikian pula dengan masalah sanksi apabila debitor ingkar janji terhadap perjanjian yang telah dibuat bersama.

Perbedaan antara kredit yang diberikan oleh bank konvensional dengan pembiayaan yang diberikan oleh bank berdasarkan pada prinsip syariah adalah terletak pada keuntungan yang diharapkan. Bagi bank berdasarkan prinsip konvensional keuntungan yang diperoleh melalui bunga sedangkan bank yang berdasarkan prinsip bagi hasil berupa imbalan atau bagi hasil.

Dalam artian luas kredit diartikan sebagai kepercayaan. Begitu pula dengan bahasa latin kredit bearti credere artinya percaya. Maksud dari percaya bagi si pemberi kredit adalah ia percaya kepada si penerima kredit bahwa kredit yang disalurkannya pasti akan kembali sesuai dengan perjanjian sedangkan bagi si penerima kredit merupakan penerimaan kepercayaan sehingga mempunyai kewajiban untuk membayar sesuai jangka waktu.

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

69 − 62 =