Pengertian Sektor Informal


Sektor Informal
     

Keith Hart (1971) mengatakan bahwa sektor informal adalah bagian angkatan kerja di kota yang berada di luar pasar tenaga kerja yang terorganisir. Selanjutnya Breman berpendapat bahwa :

“Sektor informal meliputi masa pekerja kaum miskin yang tingkat produktifitasnya jauh lebih rendah daripada pekerja di sektor modern di kota yang tertutup bagi kaum miskin ini. Kriteria yang dapat dipakai untuk menerangkan sektor informal antara lain umur, pendidikan, dan jam kerja sebagai indikator untuk menggambarkan karateristik pekerja sektor informal. Dimana sektor informal tidak mengenal batasan umur, pekerja sektor informal itu umumnya berpendidikan rendah dan jam kerja yang tidak teratur. “

Kebanyakan dari mereka bekerja secara efektif dengan jumlah jam kerja yang sangat panjang karena pendapatan yang belum memadai pada hari itu.

“Sektor formal adalah lawan dari sektor informal, sektor formal diartikan sebagai suatu sektor yang terdiri dari unit usaha yang telah memperoleh proteksi ekonomi dari pemerintah, sedangkan sektor informal adalah unit usaha yang tidak memperoleh proteksi ekonomi dari pemerintah.”

Selanjutnya sektor kerja informal dibagi kedalam beberapa sub sektor, antara lain sub sektor perdagangan, jasa, transportasi, bangunan dan industri pengolahan dan untuk daerah pedesaan ditambah sub sektor pertambangan, khususnya penggalian pasir dan batu. Definisi yang dikemukakan oleh Hidayat tersebut, adalah tujuan dari segi ekonomi dimana usaha ilegal tidak termasuk di dalamnya.

Breman mengatakan bahwa sektor informal adalah kumpulan pedagang dan penjual jasa kecil yang dari segi produksi secara ekonomis tidak begitu menguntungkan, meskipun mereka menunjang kehidupan bagi penduduk yang terbelenggu kemiskinan (Manning, 1996).

Wirosarjono (2000) mengatakan bahwa sektor informal itu merupakan kegiatan ekonomi yang sifatnya kecil-kecilan (marginal) yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Pola kegiatan tidak teratur dalam segi waktu, modal maupun penerimaannya.
  2. Tidak tersentuh oleh peraturan atau ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah.
  3. Modal peralatan dan perlengkapan maupun omsetnya biasanya kecil dan diusahakan atas dasar hitungan harian.
  4. Umumnya tidak mampu mempunyai tempat usaha yang permanen dan terpisah dari tempat tinggalnya.
  5. Tidak mempunyai keterikatan dengan usaha lain yang besar.
  6. Umumnya melayani golongan masyarakat yang berpendapatan rendah.
  7. Tidak membutuhkan keahlian dan ketrampilan khusus sehingga secara luwes dapat menyerap bermacam-macam tingkat pendidikan tenaga kerja.
  8. Umumnya tiap-tiap satuan usaha mempekerjakan tenaga kerja yang sedikit dari lingkungan hubungan keluarga, kenalan atau berasal dari daerah yang sama.

Memahami konsep tersebut diatas dapat dipahami bahwa peranan sektor informal dan kesanggupannya dalam menyerap tenaga kerja tentulah sangat besar, dengan memperlihatkan cirinya yang unik itu.

Kebijakan perluasan kesempatan tenaga kerja dimasa akan datang harus terus dilanjutkan, namun perhatian lebih besar dicurahkan di dalam pengembangan sektor kerja informal. Kesempatan pada sektor kerja formal sangat terbatas sekali, sehingga perencanaan pembangunan sektor kerja informal harus mendapat perhatian lebih mendalam mengungkapkan konsep sektor informal dari sudut pandang operasionalnya. Skala operasi adalah karakteristik terpenting yang muncul dari kerangka diatas dan dapat dipakai sebagai suatu alat untuk memisahkan kegiatan ekonomi lainnya.

Meskipun skala operasi dapat diukur dengan berbagai cara, antara lain meliputi besarnya modal, keuntungan dan lain-lain tetapi karena ciri-ciri ini biasanya sangat erat hubungannya satu sama lain, maka alat ukur yang paling tepat adalah skala operasi atau jumlah orang yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Melihat ekonomi sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari unit-unit produksi dan distribusi (Faisal, 2004).

Sektor informal adalah kumpulan pedagang dan penjual jasa kecil yang dari segi produksi yang secara ekonomis tidak begitu menguntungkan meskipun mereka menunjang kehidupan bagi penduduk yang terbelenggu kemiskinan. Ini merupakan penafsiran yang didasarkan atas sektor formal dan kegiatan-kegiatan yang hampir otomatis terdaftar, misalnya penjaja, pengemudi becak, penjual makanan, penyemir sepatu, pengemis, buruh pengangkut dan sebagainya.

Implikasi hal tersebut di atas adalah relatif mudahnya memasuki sektor informal dibandingkan sektor formal adalah sangat penting. Kesempatan kerja sektor informal diciptakan oleh permintaan pekerjaan dan setiap orang bisa memasuki sektor ini. Bagaimanapun sifatnya pekerjaan dan tingkat penghasilan yang diterima berbeda-beda sesuai dengan keterampilan individu, kontak pribadi, dan inventasi waktu dan modal yang dimiliki.

Dalam hal ini, sektor informal merupakan rangkaian aktivitas yang sangat mudah dilakukan oleh sebagian masyarakat khususnya pada masyarakat yang memiliki tingkat ekonomi lemah atau terbelenggu dengan kemiskinan. Dimana mereka yang tidak mampu mengakses pekerjaan di sektor formal karena terbatas pada orang-orang yang mempunyai kontak pribadi dalam sektor ini, mempunyai pendidikan yang relatif tinggi dan bahkan mereka harus mempunyai dana yang cukup untuk membiayai hidupnya selama masa menganggur (Sethuraman, S.V, 1985).

Baca : Pengertian Pedagang Sektor Informal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code