Rasio CAMEL (Capital, Asset quality, Management, Earning dan Liquidity)


Rasio CAMEL (Capital, Asset quality, Management, Earning dan Liquidity)

Tugas Bank Indonesia antara lain mempertahankan dan memelihara sistem yang sehat dan dapat dipercaya dengan tujuan menjaga kondisi perekonomian. Untuk itu Bank Indonesia selaku bank sentral dan pengawas kegiatan perbankan di Indonesia memberikan ketentuan ukuran pernilaian tingkat kesehatan bank. Dalam mengukur tingkat kesehatan bank, Bank Indonesia menggunakan rasio keuangan model CAMEL (Peraturan Bank Indonesia No. 6/10/PBI/2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum.

Rasio model CAMEL terdiri dari dari komponen Capital, Asset quality, Management, Earning dan Liquidity. Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No. 6/10/PBI/2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, komponen capital digunakan untuk menilai tingkat kecukupan modal bank dalam mengamankan eksposur risiko posisi dan mengantisipasi eksposur risiko yang akan muncul.

     

Komponen asset quality digunakan untuk menilai kondisi aset bank, termasuk antisipasi atas risiko gagal bayar dari pembiayaan (credit risk) yang akan muncul. Komponen management digunakan untuk menilai kemampuan manajerial pengurus bank dalam menjalankan usaha sesuai dengan prinsip manajemen umum, kecukupan manajemen risiko dan kepatuhan bank terhadap ketentuan baik yang terkait dengan prinsip kehati-hatian dan komitmen bank kepada Bank Indonesia.

Komponen earnings digunakan untuk menilai kemampuan bank dalam menghasilkan laba. Sedangkan komponen liquidity digunakan untuk menilai kemampuan bank dalam memelihara tingkat likuiditas yang memadai termasuk antisipasi atas risiko likuiditas yang akan muncul (Surat Edaran Bank Indonesia No. 9/24/DPbS).

Rasio model CAMEL juga dipakai dalam penelitian Barral (2005), Ronapat (2004), Almilia dan Herdiningtyas (2005), Daniariga (2012), Purwasih (2010), Abdullah dan Suryanto (2004), dan Said (2012). Rasio ini terdiri dari CAR, RORA, ROA, NPM dan LDR. Rasio CAR (Capital Adequacy Ratio) merupakan perbandingan ekuitas dengan total asset (Bastian dan Suhardjono, 2006). Rasio RORA (Return On Risked Asset) diperoleh dari perbandingan laba sebelum pajak dengan aktiva produktif, rasio ini menunjukkan profitabilitas bank (Rahmawati, 2013). ROA (Return On Asset) menunjukkan perbandingan laba sebelum pajak dengan aset. Sedangkan NPM (Net Profit Margin) diperoleh dari perbandingan laba operasi dengan pendapatan (Bastian dan Suhardjono, 2006). Rasio RORA, ROA dan NPM menunjukkan kemampuan bank menghasilkan laba dari aktivitas operasional. Sedangkan LDR (Loan to Deposit Ratio) merupakan perbandingan antara jumlah kredit yang diberikan dengan dengan jumlah dana pihak ketiga. Dana pihak ketiga merupakan dana yang dihimpun dari nasabah melalui produk-produk bank antara lain giro, call money, deposito, deposito berjangka, sertifikat deposito, surat berharga yang diterbitkan, tabungan dan pinjaman yang diterima (Nasser, 2003). Rasio LDR ini digunakan untuk melihat likuiditas bank. Rasio model CAMEL juga banyak digunakan oleh peneliti sebelumnya untuk meneliti kinerja di industri perbankan, karena terbukti rasio model CAMEL ini sangat cocok dan akurat untuk digunakan sebagai penilai kinerja di perbankan dan untuk memprediksi tingkat kegagalan.

Di Amerika, Sinkey (1992) dalam Mongid (2000) telah sukses mengidentifikasi dan mendeteksi hampir semua masalah perbankan selama 15 tahun. Aryati dan Manao (2004) menggunakan rasio Model CAMEL untuk melihat apakah rasio-rasio keuangan yang diukur dengan model CAMEL berbeda secara signifikan antara bank yang sehat dengan bank yang gagal.

Rasio CAMEL dan proksi yang digunakan dalam penelitian ini merujuk merujuk pada penelitian Barral (2005). Rasio ini terdiri dari CAR, NPL, OER, ROE, LDR. Rasio CAR (Capital Adequacy Ratio) digunakan untuk mengukur Capital Adequacy dengan perhitungan modal sendiri (ekuitas) dibagi total aktiva; rasio NPL (Nonperforming Loan Ratio) digunakan untuk mengukur Asset Quality dengan perhitungan aset kredit bermasalah dibagi total kredit; rasio OER (Operating Expense Ratio) digunakan untuk mengukur Management Efficiency dengan perhitungan total biaya operasi dibagi pendapatan; rasio ROE (Return on Equity) digunakan untuk mengukur Earnings Performance dengan rumus pendapatan bersih dibagi total ekuitas; rasio LDR (Loan to Deposit Ratio) digunakan untuk mengukur Liquidity Position dengan perhitungan jumlah kredit dibagi jumlah dana pihak ketiga, dimana dana pihak ketiga (dana masyarakat) merupakan dana yang dihimpun oleh bank melalui produk-produk simpanan antara lain giro, deposito, tabungan dan pemberian jasa bank (Bastian dan Suhardjono, 2006).

Penggunaan rasio model CAMEL dalam penelitian indikasi manajemen laba ini sejalan dengan pemikiran bahwa rasio ini telah terbukti dapat menilai kinerja di industri perbankan dan diyakini kinerja sangat mempengaruhi praktik manajemen laba. Apabila kinerja pada suatu perusahaan buruk, maka akan ada insentif bagi para manajer untuk melakukan tindak manajemen laba, apalagi terkait ketatnya regulasi perbankan di Indonesia Dan secara umum rasio CAMEL adalah alat efektif dan berguna dalam mengidentifikasi masalah perbankan (Mongid, 2000), sehingga diharapkan juga dapat mendeteksi manajemen laba di bank umum konvensional.

Baca : Teori Keagenan (Agency Theory)

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 + 1 =