Laporan Keuangan dan Manajemen Bank Syariah


Laporan Keuangan dan Manajemen Bank Syariah

Laporan Keuangan

a. Pengertian Laporan Keuangan

Menurut Rivai dan Arifin laporan keuangan adalah laporan periodik yang disusun menurut prinsip-prinsip akuntansi yang diterima secara umum tentang status keuangan dari individu, asosiasi, atau organisasi bisnis yang terdiri dari neraca, laporan laba rugi, dan laporan perubahan ekuitas pemilik.
Laporan keuangan bank sama saja dengan laporan keuangan perusahaan. Neraca bank memperlihatkan gambaran posisi keuangan suatu bank pada saat tertentu. Laporan laba rugi memperlihatkan hasil kegiatan atau operasional suatu bank selama satu periodik tertentu. Laporan perusahaan posisi keuangan memperlihatkan dari mana saja sumber dana bank dan kemana saja dana disalurkan. Laporan ini disusun dari neraca pada dua periodik (tanggal) dan laporan laba rugi selama periode yang dilaporkan. Selain dari ketiga kompenen utama laporan keuangan di atas, juga harus disertakan catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan.
Berbeda dengan perusahaan lainnya, bank diwajibkan menyertakan laporan komitmen dan kontinjensi, yaitu memberikan gambaran, baik yang bersifat tagihan maaupun kewajiban pada tanggal laporan.
Laporan keuangan dalam akuntansi bank syariah adalah laporan keuangan yang menggambarkan fungsi bank Islam sebagai investor, hak dan kewajiban, dengan tidak memandang tujuan bank Islam dari masalah investasinya, apakah ekonomi atau sosial (Muhammad, 2005). Pengguna informasi akuntansi utama dalam sistem lembaga keuangan syariah meliputi ( Muhammad, 2005: 333):
1) Pemegang saham
2) Deposan
3) Shahibul Mal yang melakukan infestasi mudharabah mutlaqah
4) Shahibul Mal yang melakukan infestasi mudharabah muqayadah
5) Pengusaha, perusahaan atau agensi yang berhubungan dengan bank
6) Dewan Pengawas Syariah
7) Lembaga pemerintah, bank sentral, menteri keuangan, badan administrasi, dan pengelolaan zakat
8) Masyarakat luas
9) Pengamat non-Muslim
10) Peneliti
11) Pegawai lembaga yang bersangkutan.

b. Tujuan Laporan Keuangan

TUjuan Laporan Keuangan Menurut (Rivai dan Arifin,2010:877)

     

1) Memberikan informasi kas yang dapat dipercaya mengenai posisi keuangan perusahaan (termasuk bank) pada suatu saat tertentu.
2) Memberikan informasi keuangan yaang dapat dipercaya mengenai hasil usaha perusahaan selama periode akuntansi tertentu.
3) Memberikan informasi yang dapat membantu pihak-pihak yang berkepentingan untuk menilai atau menginterprestasikan kondisi dan potensi suatu perusahaan.
4) Memberikan informasi penting lainya yang relevan dengan kebutuhan pihak-pihak yang berkepentingan dengan laporan kebutuhan yang bersangkutan.

c. Laporan Keuangan Menurut Jenisnya

Jenis laporan keuangan bank terdiri dari (Rivai dan Arifin, 2010:878-880) :
1) Neraca.
2) Laporan komitmen dan kontijensi. Dan
3) Laporaan laba rugi

1) Neraca

Neraca bank adalah suatu laporan keuangan yang diterbitkan setiap hari kerja oleh satuan kerja akunting. Laporan tersebut menunjukan posisi saldo serta mutasi-mutasi dari rekening-rekening subgrup yang dikelola oleh satuan kerja akunting yang bersangkutan. Aktiva bank pada umumnya terdiri atas alat-alat likuid, aktiva produktif, dan aktiva tidak produktif. Sisi pasiva menggambarkan kewajiban bank yang berupa klaim pihak ketiga atau pihak lainnya atas kekayaan bank yang dinyatakan dalam bentuk rekening giro, deposito berjangka tabungan, dan instrumen kewajiban lainnya serta ekuitas yang menggambarkan nilai buku pemilik saham bank.
Dengan demikian, neraca memberikan gambaran harta kekayaan, utang dan modal bank serta memperlihatkan gambaran tentang posisi keuangan suatu bank pada suatu saat tertentu.

2) Laporan Komitmen dan Kontijensi

Di samping rekening-rekening efektif, dalam buku besar bank terdapat rekening-rekening yang sifatnya administratif. Rekening tersebut digunakan sebagai tempat mencatat transaksi-transaksi yang belum secara efektif mengakibatkan perubahan terhadap aktiva maupun kewajiban bank. Transaksi demikian merupakan transaksi komitmen dan transaksi kontijensi.
Kadang-kadang bank mengadakan transaksi yang tidak berakibat pada pengakuan aktiva dan kewajiban pada neraca, tetapi berakibat pada timbulnya komitmen dan kontijensi. Pos-pos neraca seperti itu sering kali merupakan bagian yang penting dari usaha suatu bank dan dapat berdampak signifikan terhadap tingkat risiko yang dihadapi oleh suatu bank. Pos-pos tersebut dapat menambah atau mengurangi risiko-risiko lain, contohnya ketika bank melakukan aktivitas lindung nilai terhadap aktiva dan kewajiban pada neraca. Unsur-unsur di luar neraca dapat timbul dari transaksi yang dilakukan oleh bank untuk kepentingan nasabahnya atau dari posisi perdagangan itu sendiri.
Dengan demikian, pos-pos administratif yang terjadi akibat peristiwa komitmen dapat dikelompokan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok “Tagihan Komitmen” dan kelompok “Kewajiban Komitmen”. Demikian pula pos-pos administratif yang timbul akibat peristiwa kontijensi, dikelompokan menjadi kelompok “Tagihan Kontijensi” dan kelompok “Kewajiban Kontijensi”.

3) Perhitungan Laba Rugi

Laporan perhitungan laba rugi bank (profit and loss statement) atau lebih dikenal dengan income statement dari suatu bank umum adalah suatu laporan keuangan bank yang menggambarkan pendapatan dan biaya operasional dan operasional bank serta keuntungan bersih bank untuk suatu periode tertentu (Rivai dan Arifin, 2010: 879).
Laporan laba rugi harus disusun berdasarkan ketentuan tentang bentuk yang sudah diterapkan oleh Bank Indonesia, serta harus dilaporkan dan diumumkan melalui media cetak yang memiliki peredaran yang luas. Laporan bulanan harus dilaporkan setiap bulan, laporn triwulan dilakukan untuk masing-masing posisi akhir bulan Maret, Juni, September, dan Desember tahun yang bersangkutan. Keterlambatan penyampaian serta bentuk laporan yang tidak mengikuti standar Bank Indonesia akan dikenakan sanksi (Rivai dan Arifin, 2010: 879).
Sesuai karakteristik maka laporan keuangan perbankan syariah antara lain meliputi (Suwikyo, 2010: 94):

(a) Komponen laporan keuangan yang mencerminkan kegiatan komersial:

  • Laporan posisi keuangan
  • Laporan laba rugi
  • Laporan arus kas dan
  • Laporan perubahan ekuitas

(b) Komponen laporan keuangan yang mencerminkan kegiatan sosial:

  • Laporan sumber dan penggunaan dana zakat dan
  • Laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan.

(c) Komponen laporan keuangan lainnya yang mencerminkan kegiatan dan tanggung jawab khusus perbankan syariah tersebut.

Menurut Boydoun dan Willet (2000), bentuk laporan keuangan yang lebih cocok dengan akuntansi Islam adalah value added statement bukan laporan laba rugi konvensional. menurut beliau value added staatement informasi yang disajikan meliputi laba bersih yang diperoleh perusahaan sebagai nilai tambah yang kemudian diditribusikan secara adil kepada kelompok yang terlibat dengan perusahaan dalam menghasilkan nilai tambah (Harhap, 2006).

Berbicara mengenai tanggung jawab sosial, Islam telah mengaturnya, tidak hanya pada tanggung jawab sosial tetapi juga tanggung jawab kepada Allah SWT. Untuk memfasilitasi pertanggungjawaban tersebut maka beberapa kemungkinan bentuk jenis laporaan keuangan akuntansi Islam adalah sebagai berikut (Harhap, 2006):
1) Neraca yang memuat informasi tentang karyawan, dan akuntansi SDM.
2) Laporan nilai tambah.
3) Laporan arus kas
4) Laporan pertanggung jawaban sosial.
5) Catatan penyelesaian laporan keuangan yang bisa berisi laporan:

  • Mengungkapkan lebih luas tentang laporan keuangan yang disajikan
  • Melaporkan tentang berbagai nilai dan kegiatan yang tidak sesuai dengan syarat Islam, misalnya dengan menyajikan pernyataan Dewan Pengawas Syariah
  • Menyajikan informasi tentang efisiensi, good governance, dan laporan produktivitas.

Baca : Prinsip Operasional Perbankan Syariah

Manajemen Dana Bank Syariah

Bank sebagai salah satu lembaga keuangan memiliki fungsi menghimpun dana masyarakat. Dana yang telah terhimpun, kemudian disalurkan kembali kepada masyarakat. Kegiatan bank mengumpulkan dana disebut sebagai kegiatan funding. Sementara kegiatan menyalurkan dana kapada masyarakat oleh bank disebut dengan kegiatan financinf atau lending.dalam menjalankan dua aktifitas tersebut, bank syariah harus menjalankan sesuai dengan kaidah-kaidah perbankan yang berlaku. Utamanya adalah kaidah transaksi dalam pengumpulan dan penyaluran dana menurut Islam. Namun bagi bank syariah, di samping harus memenuhi tuntutan kaidah Islam, juga mengikuti kaidah hukum perbankan yang berlaku dan telah diatur oleh bank sentral.
Jika dilihat dari sisi fungsi bank syariah mengumpulkan dana dan menyalurkan dana kembali kepada masyarakat, maka bank syariah berfungsi sebagai perantara keuangan (financiaal intermediary) antar pihak surplus kepada pihak minus.

Manajmen dana bank syariah adalah upaya yang dilakukan oleh lembaga bank syariah dalam mengelolah atau mengatur posisi dana yang ditrima oleh aktifitas funding untuk disalurkan kepada aktifitas financing, dengan harapan bank yang bersangkutan tetap mampu memenuhi kriteria-kriteria likuiditas, rentabilitas dan solvabilitas. Sebagaimana halnya dengan bank konvensional, bank syariah juga mempunyai peran sebagai lembaga perantara (intermediary) antara satuan-satuan kelompok masyarakat atau unit-unit ekonomi yang mengalami kelebihan dana (deficit unit). Melalui bank kelebihan dana-dana tersebut dapat disalurkan kepada pihak-pihak yang memerlukan dan memberikan manfaat kepada kedua belah pihak (Muhammad, 2005: 262).
Bank berbasis bunga melaksanakan peran tersebut melalui kegiatannya sebagai peminjam dan pemberi pinjaman. Para pemilik dana tertarik untuk menyimpan dana di bank berdasarkan tingkat bunga yang dijanjikan. Demikian pula bank memberikan pinjaman kepada pihak-pihak yang memerlukan dana berdasarkan kemampuan mereka membayar tingkat bunga tertentu. Hubungan dengan bank dengan nasabahnya adalah hubungan antara kreditur dan debitur.
Berbeda dengan bank konvensional, hubungan antara bank syariah dengan nasabahnya bukan hubungan antara debitur dengan kreditur, melainkan hubungan kemitran antara penyandang dana dan (shahib al maal) dengan pengelolaan dana (mudharib). Oleh karena itu tingkat laba bank syariah bukan saja berpengaruh terhadap bagi-hasil yang dapat diberikan kepada nasabah penyimpan dana. Dengan demikian kemampuan manajemen untuk melaksanakan fungsinya sebaagai penyimpan harta, pengusaha dan pengelola investasi yang baik (professional investment manager) akan sangat menentukan kualitas usahanya sebagai lembaga intermediary dan kemampuannya menghasilkan laba.
Pokok-pokok permasalahan manajemen dana bank pada umumnya dan bank syariah pada khususnya adalah:

  • Bagaimana memperoleh dana dan dalam bentuk apa dengan biaya yang relatif murah
  • Berapa jumlah dana yang dapat ditanamkan dan dalam bentuk apa untuk memperoleh pendapatan yang optimal
  • Berapa besarnya dividen yang dibayarkan yang dapat memasukan pemilik/pendirian laba ditahan yang memadai untuk pertumbuhan bank syariah.

Dari permasalahan yang ada diatas, maka manajemen dana mempunyai tujuan sebagai berikut:

  • Memperoleh profit yang optiml
  • Menyediakan aktifa cair dan kas yang memadai
  • Menyimpan cadangan
  • Mengelola kegiatan-kegiatan ekonomi dengan kebijakan yang pantas bagi seseorang yang bertindak sebagai pemeliharaan dana-dana orang lain
  • Memenuhi kebutuhan masyarakat akan pembiayaan.

Dari tujuan-tujuan di atas, bila diamati akan didapat kontradiksi antara tujuan yang satu dengan yang lainnya. Misalnya, di satu sisi bertujuan untuk memperoleh laba yang sebesar-besarnya, tentunya ini bisa direalisasi dengan memberikan pembiyan yang sebesar-besarnya, namun disisi lain kita juga harus menyediakan dana kas untuk memenuhi kewajiban-kewajiban segera dibayarkan, yang harus didukung oleh tersedianya dana yang memadai.
Bank syariah dirancang untuk melakukan fungsi pelayanan sebagai lembaga keuangan bagi para nasabah dan masyarakat. Untuk itu bank syariah harus mengelola dana yang dapat digolongkan sebagai berikut:
a. Kekayaan bank syariah dalam bentuk:

  • Kekayaan yang menghasilkan (Aktiva Produktif) yaitu pembiayaan untuk debitur serta penempatan dana di bank ataau investasi lain yang menghasilkan pendapatan.
  • Kekayaan yang tidak menghasilkan yaitu kas dan investaris (harta tetap)

b. Modal bank syariah, berasal dari:

  • Modal sendiri yaitu simpanan pendiri (modal), cadangan dan hibah, infaq/shadaqah.
  • Simpanan/hutang dari pihak lain

c. Pendapatan usaha keuangan bank syariah berupa bagi hasil atau mark up dari pembiayaan yang diberikan dan biaya administrasi serta jasa tabungan bank syariah di bank
d. Biaya yang harus dipikul oleh bank syariah yaitu biaya operai, biaya gaji, manajemen, kantor dan bagi hasil simpanan nasabah penabung.

Untuk mengatasi hal tersebut pihak bank syariah dapat melakukan kegiatan manajemen sebagai berikut:
a. Rencana keuangan (Budgeting)
b. Batasan dan pengukuran atas:
1) Struktur Modal
Mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjang atau mengukur tingkat proteksi kreditor jangka panjang.
2) Pemeliharaan Likuiditas
Mengukur kemampuan suatu bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
3) Pengawasan Efisiensi
Mengukur efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya.
4) Rentabilitas
Menganalisis atau mengukur tingkat efisiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai oleh bank yang bersangkutan.
5) Aktifa Produktif (Pembiayaan)
Mengukur efisiensi dan efektivitas pemanfaatan setiap aktiva produktif yang dimiliki bank.
Tingkat kinerja, kesehatan, dan kualitas bank syariah dapat dilihat dari faktor-faktor penting yang sangat mempengaruhi bagi kelancaran, keberlangsungan, dan keberhasilan bank syariah baik untuk jangka pendek dan keberlangsungan hidup jangka panjang.

Faktor-faktor tersebut salah satunya dapat dilihat dari kinerja keuangan bank syariah yang dilihat dari beberapa indikator sebagai berikut (Muhammad, : 265):

Tabel 1 : Indikator kinerja dan kesehatan Bank Syariah

No INDIKATOR KOMPONEN
1 Struktur Modal Rasio Modal Total terhadap Dana/Simpanan Pihak Ketiga
2 Likuiditas Rasio Dana Lancar Terhadap Dana/Simpanan Pihak Ketiga

Rasio Total Pembiayaan Terhaadap DPK

3 Efisiensi Rasio Total Pembiayaan Terhadap Pendapatan Operasional

Rasio Nilai Investasi Terhadap Total Modal

4 Rentabilitas Rasio Laba Bersih Terhadap Total Aset (Harta)

Rasio Laba Bersih Terhadap Total Modal

5 Aktiva Produktif Rasio total pembiayaan bermasalah terhadap total pembiayaan yang diberikan

Sumber: Muhammad (2005).

Baca : Pengertian Pembiayaan Syariah dan Agunan Syariah

Nilai Tambah Syariah

Penekanan dalam Islam adalah bahwa pertumbuhan ekonomi harus mengarah pada keadilan sosial dan distribusi yang lebih adil dari kekuasaan dan kekayaan. Konsep Islam tentang persaudaraan, kesetaraan dan keadilan menyiratkan adanya kebijakan redistribusi dan transfer sumber daya di antara berbagai kelompok di masyarakat. Sebuah Value added Statement menunjukkan bagaimana manfaat dari upaya perusahaan yang sedang bersama antara karyawan, pemegang saham, pemerintah dan perusahaan itu sendiri, mungkin akan sangat berguna bagi umat Islam. Distribusi kekayaan antara sektor masyarakat yang berbeda, menurut definisi, masalah kepentingan sosial dan inilah karakteristik dari Value added Statement yang mendukung akuntabilitas dalam Islam. Dengan demikian, laporan nilai tambah dapat dianggap sejalan dengan konsep keadilan dan kerja sama yang menyebarkan Islam dari pada laporan laba rugi (Sulaiman, 2001).

Syariah Enterprise Theory (SET) menurut Triyuwono (2007: 3) dikembangkan berdasarkan pada metafora zakat yang berkarakter keseimbangan. Dalam syariah Islam, bentuk keseimbangan tersebut secara konkrit diwujudkan dalam salah satu bentuk ibadah, yaitu zakat. Zakat (yang kemudian di metaforakan menjadi metafora zakat) secara implisit mengandung nilai egoistik-altruistik, materi-spiritual, dan individu-jamaah. Kosenkuensi dari nilai keseimbangan ini menyebabkan SET tidak hanya peduli pada kepentingan individu (dalam hal ini pemegang saham), tetapi juga pihak-pihak lainnya. Oleh karena itu, SET memiliki kepedulian yang besar pada stakeholders yang luas. Menurut SET, stakeholders meliputi tuhan, manusia, dan alam. Tuhan merupakan pihak paling tinggi dan menjadi satu-satunya tujuan hidup manusia. Dengan menempatkan Tuhan sebagai stakeholders tertinggi, maka tali penghubung agar akuntansi syariah tetap bertujuan pada membangkitkan kesadaran keTuhanan para penggunaan tetap terjamin. Kosekuensi menetapkan Allah SWT sebagai stakeholder tertinggi adalah digunakannya sunnatullah sebagai basis bagi kontruksi akuntansi syariah. Intinya adalah bahwa dengan sunnatullh ini, akuntansi syariah dibangun berdasarkan pada tata-aturan atau hukum-hukum Allah.

Hal tersebut menunjukan bahwa seseorang tidak bisa dikatakan taat beribadah apabila seseorang tersebut tidak setia menjalankan amanah. Pandangan shariah enterprise theory, ruang lingkup akuntansi pada suatu kegiatan yang bersifat timbal balik tidak terbatas. Distribusi kekayaan atau nilai tambah di berlakukaan terhadap pihak yang memberikan kontribusi langsung dan pihak yang memberikan kontribusi secara tidak langsung.

Menurut Suwanto (2011: 51) Value added Statement (VAR) atau Laporan Nilai Tambah berkaitan juga dengan Human Resources Accounting dan Employee Reporting terutama dalam hal informasi yang disajikan. Value added Statement ini sebenarnya menutupi kekurangan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan, karena semua laporan ini gagal memberikan informasi total produktivitas dari perusahaan.

VAR berusaha untuk mengisi kekurangan ini ditambah dengan memberikan informasi tentang kompensasi yang diberikan kepada pegawai dan mereka yang berkepentingan (stakeholders) lainnya terhadap informasi perusahaan. Kalau laporan keuangan konvensional menekankan informasinya pada laba maka VAR menekankan pada upaya menghasilkan kekayaan. Karena laba pemegang saham, biasanya hanya menggambarkan hak atau kepentingan pemegang saham saja bukan seluruh tim yang ikut terlibat dalam kegiatan perusahaan. Value added adalah kenaikan nilai kekayaan yang dihasilkan dengan penggunaan yang produktif dari seluruh sumber-sumber kekayaan perusahaan oleh seluruh tim yang ada termasuk pemilik modal, karyawan, kreditor, dan pemerintah. Value added tidak sama dengan laba.

Kesadaran akan pentingnya VAR ini sejalan dengan peralihan penekanan tujuan manajemen dari pertama-tama memaksimalkan profit kepada pemilik modal, ke memaksimalkan nilai tambah kepada stakeholders. Masyarakat yang semakin menyadari pentingnya keadilan sosial juga merupakan salah satu penyebab munculnya VAR ini karena dianggap lebih adil dan lebih demokratis.
VAR ini merupakan alternatif pengganti laporan laba rugi dalam akuntansi konvensional. Dimana Baydoun dan Willet menjelaskan bahwa VAR merupakan laporan keuangan yang lebih menerapkan prinsip full disclosure dan didorong dengan kesadaran moral dan etika. Karena prinsip full disclosure paling tidak mencerminkan kepekaan manajemen terhadap proses aktivitas bisnis terhadap pihak-pihak yang terlibat didalamnya, sehingga kepekaan itu diwujudkan dalam informasi akuntansi melalui distribusi pendapatan yang lebih adil. Artinya bahwa dengan VAR perusahaan telah merubah mainstream tujuan akuntansinya dari decision making yang kabur bergeser ke pertanggungjawaban sosial. Konsep VAR merupakan salah satu bukti pelaporan yang menggambarkan nilai-nilai Islam.
Konsep nilai tambah pada awalnya dikembangkan dalam akuntansi sosial dan lingkungan (Mook, 2003), dan dianggap sebagai jawaban atas kelemahan akuntansi keuangan konvensional sehingga diusulkan sebagai laporan tambahan. Selanjutnya Baydoun dan Willet (1994, 2000) mengusulkan bentuk laporan nilai tambah syariah setelah melakukan rekonstruksi melalui telah filosofis-teoritis akuntansi syariah.

Menurut Mulawarman dalam Format Value Added Statement yang diusulkan Baydoun dan Willet masih menyisahkan masalah dalam subtansi zakat. Karena dalam zakat masih diletakan sebagai bagian dari elemen distribusional. zakat hanya di maknai sebagai bentuk distribusi materi pada yang berhak. Tidak terdapat makna yang spiritual mendalam kecuali sebagai kewajiban perusahaan.
Shari’ate Value Added Statement (SVAS) merupakan salah satu laporan keuangan dari Akuntansi syari’ah. SVAS menyajikan informasi tentang nilai tambah yang telah berhasil diciptakan oleh perusahaan melalui proses yang telah dilakukan. Nilai tambah yang dimaksudkan di sini bukan nilai tambah biasa, tetapi nilai tambah yang diproses melalui nilai-nilai syariah. Oleh karena itu nilai tambah ini dinamakan nilai tambah syari’ah (Triwuyono: 2006).

Nilai tambah syari’ah sebenarnya dapat diperluas pengertiannya dalam bentuk bahwa nilai tambah tersebut dari nilai tambah materi, nilai tambah mental, dan nilai tambah spiritual. Semua bentuk nilai tambah ini diperoleh dan distribusikan berdasarkan nilai-nilai syari’ah. VAS biasanya lebih menekankan pada distribusi nilai tambah, sementara pada aspek sumber kurang mendapat perhatian. Pada aspek ini, SVAS berusaha menyeimbangkan dua sisi tersebut. Keseimbangan penyajian informasi ini diperlukan agar perilaku pengguna juga seimbang, karena sangat penting dan berpengaruh pada perilaku. Bentuk teknisnya dalam akuntansi syari’ah adalah SVAS sebagai laporan keuangan yang berdasarkan pada karakter laporan keuangan akuntansi syari’ah yang egoistis-altruistis, materialistis-spiritualistis, kuantitatif-kualitaatif (Triyuwono, 2006).

Dalam perkembangan selanjutnya, Syariah Value Added Statement dianggap sesuai dengan aktivitas ekonomi Islam yang adil dan beretika, serta sejalan dengan tujuan akuntabilitas dari akuntansi syariah, khususnya pendapatan dan beban yang harus ditanggung oleh publik. Pemikir akuntansi Islam juga melakukan perubahan atas format value added statement dengan cara mengeluarkan zakat yang awalnya dianggap bagian dari charity dan menyajikannya secara khusus setelah Gross Value Added.

Baca : Pengertian BMT (BaitulMal wat Tamwil)

Postingan Terkait :

2 Komentar

  1. Aini Balas

    Terimakasih artikel ini membantu saya
    Namun ini sumbernya dari buku Muhammad yg berjudul apa dan penerbitnya apa ya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 6 = 15