Prinsip Operasional Perbankan Syariah


Prinsip Operasional Perbankan Syariah

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), adalah lembaga negara yang dibentuk menurut UU No. 24 Tahun 2004 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No. 3 Tahun 2008 dan telah disahkan menjadi UU dengan UU No. 7 Tahun 2009. LPS mempunyai fungsi menjamin simpanan nasabah bank; dan turut aktif dalam memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai dengan kewenangannya (Pasal 4 UULPS). Fungsi yang pertama dari LPS tersebut disebut sebagai Penjaminan Simpanan Nasabah Bank (Pasal 1 angka 8 UULPS).

Pada kenyataannya saat ini di Indonesia, berdasarkan sistem operasionalnya terdapat dua jenis bank, yaitu bank konvensional, yaitu bank yang mendasarkan pada UU No. 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 10 Tahun 1998; dan bank syariah, yaitu bank yang mendasarkan pada UU No. 21 tahun 2008. Ada perbedaan yang mendasar antara bank konvensional dengan bank syariah, yaitu bank syariah dalam operasionalnya tidak menggunakan mekanisme bunga, melainkan menggunakan mekanisme yang dibenarkan menurut hukum Islam.

     

Dalam Pasal 8 ayat (1) UULPS ditentukan bahwa setiap Bank yang melakukan kegiatan usaha di wilayah Negara Republik Indonesia wajib menjadi peserta Penjaminan. Dengan mendasarkan pada ketentuan pasal tersebut, maka penjaminan simpanan nasabah bank meliputi juga simpanan yang ada pada bank syariah. Hal ini dapat diketahui dari bunyi Penjelasan Pasal 4 Huruf a UULPS, yaitu penjaminan simpanan nasabah penyimpan meliputi pula penjaminan bentuk yang setara dengan simpanan bagi bank yang menggunakan prinsip syariah.

Berkaitan dengan hal di atas, maka pada tanggal 12 Oktober 2005 telah ditetapkan PP No. 39 Tahun 2005 tentang Penjaminan Simpanan Nasabah Bank Berdasarkan Prinsip Syariah. Dalam Pasal 2 PP tersebut menentukan bahwa LPS, menjamin simpanan nasabah bank berdasarkan Prinsip Syariah sesuai dengan ketentuan dalam UU Nomor 24 Tahun 2004 tentang LPS. Dalam Penjelasan pasal tersebut dinyatakan bahwa LPS menjamin Simpanan nasabah dari bank berdasarkan Prinsip Syariah, baik bank umum dan bank perkreditan rakyat yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan Prinsip Syariah, maupun Unit Usaha Syariah (UUS) dari bank konvensional.

Prinsip operasional perbankan di Indonesia terdapat dua jenis bank, yaitu bank konvensional dan bank syariah, di mana ke dua jenis bank tersebut menggunakan sistem yang berbeda. Oleh karena itu secara prinsip perlu dibedakan lembaga yang menjamin simpanan nasabahnya. Hal ini berdasarkan pada pertimbangan:

  1. Bank syariah mengharamkan bunga dan oleh karena itu tidak menggunakan mekanisme bunga dalam operasionalnya, maka seharusnya Lembaga yang menjamin simpanan nasabahnya pun juga tidak menggunakan mekanisme bunga.
  2. Bank syariah dalam operasionalnya menggunakan akad yang sudah ditentukan dalam fiqih Islam, maka Lembaga yang menjamin simpanan nasabahnya pun juga harus mendasarkan pada akad yang ditentukan dalam fiqih Islam.
  3. Bank syariah terikat dengan ketentuan apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan berdasarkan ketentuan agama Islam, maka lembaga yang menjamin simpanan nasabahnya pun juga harus mendasarkan pada ketentuan yang sama.

Dengan demikian akan ada konsistensi antara bank syariah dengan lembaga yang menjamin simpanan dana yang ada pada bank syariah, yang pada akhirnya akan menjamin perlindungan terhadap nasabah yang ingin menjalankan agama dengan baik dan benar.

Baca : Pengertian Pembiayaan Syariah dan Agunan Syariah

Artikel Lain

Marketing dalam Islam

Konsep dasar Marketing dalam Islam

Menurut kaidah fiqih (Dewan Syariah Nasional [perh.], 2009 : 810),

اَلأَصْلُ فِي الْمُعَامَلاتَِ الإِبَاحَة إِلا أَنْ يَدُلَّ دلَيِلٌْ عَلَى تَحْرِيْمِهَا

Artinya : “(Hukum) Asal dalam mu’amalah (adalah) mubāh atau boleh kecuali adanya petunjuk atas keharamannya”

Nilai-nilai yang terdapat dalam ajaran Islam-lah yang kemudian menjadi indikator dalam perilaku suatu sistem marketing, karena tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian konsep marketing memiliki sejarah yang cukup panjang dalam pelaksanaannya bahkan sejak zaman jahiliyah dan kemudian terus dikembangkan untuk disesuaikan dengan kondisi masyarakat tertentu. Atas dasar itu pula, nilai-nilai yang diangkat dari ajaran agama Islam sejatinya hadir serta bertujuan agar mampu memberikan batasan tertentu bagi seluruh manusia agar perniagaan yang terjalin dapat saling memberikan manfaat dan berkah.

Strategi Marketing dalam Islam

Strategi marketing dalam Islam, tidak dapat lepas dari apa yang telah dicontohkan nabi Muhammad SAW. Sejarah telah membuktikan, bahwa beliau. bukan hanya seorang rasulullah yang khusus diberi wahyu oleh Allah SWT, tetapi dalam praktik muamalah beliau telah berhasil menjadi pebisnis yang sukses dibuktikan dengan penyematan gelar Al-amin yang memiliki arti singkat yaitu ‘dipercaya’. Bahkan dapat dinyatakan bahwa yang menerima gelar tersebut bukanlah ‘nabi’ Muhammad tetapi adalah Muhammad. Perbedaannya terdapat pada sejarah beliau yang saat menerima gelar Al-amin belum menjadi seorang nabi. Itu artinya jauh sebelum kenabian beliau telah menunjukkan bagaimana cara-cara di dalam perniagaan yang dapat meraup keuntungan tetapi juga disegani oleh pedagang-pedagang lainnya (kompetitor) kala itu.

Selain keuntungan, strategi marketing yang diterapkan oleh nabi Muhammad SAW. tidak hanya semata mengutamakan keuntungan, melainkan lebih mengutamakan keberkahan. Sebab pada akhirnya semua akan menjadi sia-sia bila hanya menuai hasil besar namun tanpa memperoleh berkah. Hasil yang besar namun tanpa diimbangi dengan keberkahan akan prosesnya tentu akan menjadi bumerang bagi diri sendiri, keluarga, maupun kerabat.

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 1 = 3