Pengertian Bank Syariah


Pengertian Bank Syariah Menurut Para Ahli

Berdasarkan Undang-Undang No.21 Tahun 2008 tentang perbankan syariah, definisi dari bank syariah adalah bank yang menjalankan usahanya berdasarkan prinsip syariah. Yang dimaksud dengan prinsip syariah adalah prinsip-prinsip yang diambil atau ditafsirkan dari Al-Qur’an dan Hadits sebagi sumber hukum Islam itu sendiri.

Menurut Antonio dkk (2006:17) bank syariah minimal mempunyai 5 prinsip dalam melakukan kegiatan usahanya, antara lain:

     

1. Prinsip Simpanan (Titipan)

Prinsip simpanan yang diadopsi oleh bank syariah sering dikenal dengan sebutan al-wadiah (barang titipan). Al-wadiah secara terminologis (Al-Bahuti dalam Abdullah, 2009:389) adalah pemberian kuasa oleh penitip kepada orang yang menjaga hartanya tanpa kompensasi (ganti), dalam aplikasinya al-wadiah ini biasanya berbentuk produk giro yaitu simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek atau surat perintah pembayaran lain.

2. Sistem Bagi Hasil

Sistem bagi hasil atau Syirkah (Antonio dkk, 2006:18) adalah suatu sistem yang meliputi tata cara pembagian hasil usaha antara penyedia modal dan pengelola modal. Secara garis besarnya sistem bagi hasil dalam perbankan syariah ini dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu mudharabah dan musyarakah.

a) Mudharabah

Mudharabah adalah perjanjian bagi hasil antara pemilik modal (shahibul mall) dengan pengelola/pengusaha (mudharib). Dalam konsep mudharabah pemilik modal akan membiayai sepenuhnya suatu proyek atau usaha, dan pengusaha setuju untuk mengelola proyek atau usaha tersebut dengan pembagian hasil sesuai dengan perjanjian, dan kerugian akan ditanggung sepenuhnya oleh pemilik modal terkecuali bila kerugian itu ditimbulkan oleh kelalaian
pengelola modal (Muhammad, 2004:9). Aplikasinya dalam praktek perbankan syariah konsep mudharabah bisa kita temui dalam produkproduk
pembiayaan produktif (non-konsumsi) sedangkan dalam produk simpanan mudharabah biasanya diaplikasikan dalam porduk simpanan dan simpanan berjangka (deposito).

b) Musyarakah

Musyarakah yaitu perjanjian kerjasama antara dua pihak atau lebih pemilik modal untuk membiayai suatu proyek atau usaha. Keutungan dari proyek atau usaha tersebut dibagi sesuai perjanjian yang disepakati yang besarnya tidak harus sesuai dengan pangsa modal masing-masing, sementara dalam kerugian ditanggung sesuai dengan pangsa modal masing-masing (Muhammad, 2004:9). Dalam praktek perbankan syriah konsep musyarakah ini dapat kita temui dalam produk-produk pembiayaan produktif (non-konsumsi).

3. Prinsip Jual Beli dan Margin Keuntungan

Jual beli (al-Ba’i) adalah proses pemindahan hak milik suatu barang atau aset dengan menggunakan uang sebagai media (Muhammad, 2004:9).
Dalil syar’i yang melandasi jual beli adalah ayat Al-Qur’an surat Al- Baqarah ayat 275:

Artinya: orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya (Al-Baqarah:275).

Dalam prakteknya prinsip jual beli dan margin keuntungan ini adalah dilakukan dengan beberapa cara antara lain adalah:

a) Murabahah

Murabahah adalah transaksi penjualan barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli (Tim Pengembangan Perbankan Syariah Institut Bankir Indonesia [perh.], 2003:66). Pada prakteknya bank akan membeli terlebih dahulu barang yang dibutuhkan atau menunjuk nasabah untuk mewakilinya dalam pembelian tersebut, kemudian bank menjualnya kembali kepada nasabah dengan harga sejumlah
harga beli ditambah dengan keuntungan (margin).

b) Salam

Salam adalah jual beli dimana pembeli memesan barang yang jenis, kualitas dan kuantitasnya ditentukan dan dibayar oleh pemesan secara tunai atau diangsur sebelum barang tersebut tersedia (Tim Pengembangan Perbankan Syariah Institut Bankir Indonesia [perh.], 2003:67). Pada prkateknya pemesan akan pemesan barang dengan spesifikasi tertentu, di dalamnya disyratkan kualitas dan waktu penghantaran barang yang dipesan tersebut serta dijanjikan pembayarannya baik dengan cara tunai pada saat transaksi pemesanan maupun dengan cara diangsur sampai pada waktu barang yang dipesan tersebut tersedia atau diterima oleh pemesan.

c) Istisna

Istisna adalah akad antara pemesan dengan pembuat untuk suatu pekerjaan tertentu dalam tanggungan (Tim Pengembangan Perbankan Syariah Institut Bankir Indonesia [perh.], 2003:67). Pada praktek perbankan syariah istisna biasanya diterapkan dalam proyek konstruksi, dimana nasabah memerlukan biaya untuk melakukan suatu pembangunan konstruksi.

4. Prinsip Sewa

Prinsip sewa secara garis besar dibagi menjadi 2 macam:

a) Ijarah

Ijarah adalah bentuk awal dari sewa menyewa atau bisa dikatakan juga sebagai sewa murni. Ijarah secara terminologis (Fauzan dalam Abdullah, 2009:311) adalah transaksi atas suatu manfaat yang mubah berupa barang tertentu atau yang dijelaskan sifatnya dalam tanggungan waktu tertentu, atau transaksi atau atas suatu pekerjaan yang diketahui dengan upah yang diketahui pula.

Ayat Al-Qur’an yang mengisyaratkan ijarah terdapat dalam surat Ath-Tahalaaq ayat 6:

Artinya: Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak) mu untukmu Maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan Maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya (Ath-Thalaaq:6).

b) Ijarah Muntahiya Biltamlik

Ijarah Muntahiya Biltamlik (Muhammad, 2003:24) adalah perjanjian sewa menyewa suatu barang yang diakhiri dengan perpindahan kepemilikan barang dari pihak yang memberikan sewa kepada pihak penyewa (financial lease).

5. Prinsip Fee

Prinsip fee dalam prakteknya meliputi seluruh layanan non-pembiayaan yang dilakukan oleh bank. Bentuk-bentuk praktek pengambilan fee dalam perbankan syariah adalah sebagai berikut (Muhammad, 2003:10):

a) Kafalah (Garansi)

Kafalah adalah suatu jaminan yang diberikan oleh penanggung (kafil) kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua yang ditanggungnya. Pada prakteknya dalam perbankan syariah yaitu dengan cara bank melakukan penjaminan kepada pihak lain atas semua kewajiban nasabahnya kepada pihak tersebut, kemudian bank akan mengambil upah (fee) kepada nasabah atas penjaminan tersebut (bank garansi).

b) Wakalah

Wakalah adalah perjanjian pemberian kuasa kepada pihak lain yang ditunjuk untuk mewakilinya dalam melaksanakan suatu tugas atas nama pemberi kuasa. Wakalah dalam prakteknya pada perbankan syariah terdapat dalam pelayanan jasa transfer uang, jasa pembayaran dalam perdagangan internasional atau letter of credit (L/C) dan jasa penagihan atas suatu kewajiban kepada yang tertagih berdasarkan warkat untuk kepentingan nasabah/penagih (inkaso).

c) Hiwalah

Hiwalah adalah pengalihan kewajiban dari suatu pihak yang mempunyai kewajiban kepada pihak lain. Hiwalah pada prakteknya dalam perbankan syariah dilakukan dengan cara bank akan memenuhi kewajiban nasabah kepada pihak lain (talang), dan kemudian nasabah akan membayarkan fee atas jasa talang yang dilakukan oleh bank.

Literasi

Syafi’i Antonio, Muhammad, 2003. Bank Syariah dari Teori Ke Praktek, Jakarta, Gema Insani Pers.

Zainul Arifin. 2002. Dasar- Dasar Manajemen Bank Syariah, Jakarta, Alvabet. tercantum dalam Heri Sudarsono. 2013. Bank Dan Lembaga Keuangan Syariah Deskripsi dan Ilustrasi, Yogyakarta, Ekonisia.

Darsono, (pengh.). 2016. Perjalanan Perbankan Syariah Di Indonesia Kelembagaan dan kebijakan Serta Tantangan Kedepan. Jakarta, BANK
INDONESIA.

Ascarya, 2013. Akad dan Produk Bank Syariah, Edisi 1, jakarta : Rajawali Pers.

Postingan Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

79 − = 74